Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
29.1


__ADS_3

...كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ...


...“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” ...


...(HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash)...


...****...


Pukul setengah 4 pagi, aku bangun tepat waktu sesuai jam biologis tidurku selama tinggal di pondok pesantren. Tinggal di sana dengan segala aturan yang ketat membuatku mulai membiasakan diri dalam segala hal. Ini baru pukul setengah empat tapi orang-orang di bawah mulai beraktivitas. Entah apa yang mereka lakukan di luar sana.


Setelah membangunkan kedua sahabatku yaitu Dira dan Gisel, kami segera membersihkan diri di dalam kamar mandi. Selanjutnya kami sholat tahajud bersama-sama dan membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu sholat subuh datang. Waktu demi waktu berlalu, jantungku tak henti-hentinya berdetak kencang karena gugup. Tidak lagi menghitung hari, tapi sudah menghitung jam. Terhitung beberapa jam lagi sebelum aku dan kak Khalid akad. Ya Allah, betapa gugup yang kurasakan.

__ADS_1


Kami memang sudah halal karena kak Khalid telah menghalalkan aku 5 tahun yang lalu. Tapi saat itu aku masih kecil, aku tidak tahu apa-apa dan tidak merasakan apa-apa. Maka wajar saja jika sekarang aku sangat gugup meskipun ini adalah pernikahan kedua kami.


"Sholat sunnah fajar sebelum sholat subuh." Ketika azan subuh selesai berkumandang, aku mengajak mereka berdua sholat fajar atau sholat sunnah dua raka'at sebelum subuh.


“Dua raka'at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725).


Ustad di pondok pesantren selalu menekankan hadist ini sebelum memulai sholat dan mengatakan betapa pentingnya sholat ini, saking pentingnya kami semua diminta untuk jangan pernah melewatkannya. katanya rugi. Jadi, sampai dengan detik ini kebiasaan sholat fajar masih ku pertahankan. Entahlah, ini adalah sholat sunnah yang tak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw saking baiknya, jadi aku berusaha untuk tetap menjaganya.


Nah, diingatkan lagi aku jadi rambah gugup.


Berusaha tak terlalu memikirkannya, kami bertiga lalu sholat fajar dan setelah itu baru sholat subuh. Selesai sholat subuh, kami tak sempat membaca zikir panjang karena pintu kamarku sudah diketuk.

__ADS_1


"Sudah selesai sholat?" Yang datang adalah bibi Rumi bersama beberapa wanita di belakangnya. Masing-masing dari mereka membawa kotak yang digunakan untuk merias ku hari ini.


"Sudah, bi. Baru saja." Kataku gugup.


"Jangan gugup. Ayo, tenangkan diri kamu. Hari ini adalah salah satu hari penting di dalam hidup kamu. Jadi, hadapi semuanya dengan senyuman karena kamu akan memulai lembar baru di dalam hidup." Bibi Rumi menjangkau kepalaku dan mengusapnya.


Mataku terasa perih mendengar nasihat bibi Rumi. Lembar baru, ya Allah, akhirnya aku sampai juga di titik ini. Aku tersenyum malu menatapnya, dengan membaca basmallah di dalam hati aku lalu menganggukkan kepalaku bersiap.


"Aku sudah siap, bibi."


Aku kemudian di bawa duduk di depan cermin oleh beberapa wanita. Mereka bekerja cepat dan telaten sambil mengajakku mengobrol sehingga kegugupan di dalam hatiku tidak terlalu meresahkan. Sementara bibi Rumi pergi bersama Dira dan Gisel ke ruangan sebelah. Mereka akan dirias bersama orang-orang lain yang ikut memeriahkan hari penting ku bersama kak Khalid.

__ADS_1


__ADS_2