Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (9)


__ADS_3

Gisel kira dia akan membutuhkan banyak waktu mengantri di bank, karena ketika masuk ke sini sudah banyak orang yang mengantri. Padahal ini masih pagi.


Namun entah apa yang dikatakan oleh Danis kepada salah satu pegawai bank, karena setelah mereka mengobrol sebentar Gisel dipanggil untuk menyelesaikan urusannya.


Dia menyerahkan buku tabungan dengan uang sebanyak 24.500.000. Lalu 500.000-nya sengaja dia tahan untuk keperluan mendadak selama di pondok pesantren.


Kedua mata Laras langsung membola kaget melihat uang sebanyak itu di tangan Gisel. Seumur-umurnya hidup, dia belum pernah memegang uang sebanyak itu di tangannya sendiri. Bahkan setelah bekerja 2 tahun di pondok pesantren, semua tabungannya tidak akan bisa menyentuh angka itu. Paling 10 juta ke bawah. Ini adalah tabungannya setelah berhemat dan membaginya ke kampung.


Meskipun terbilang sedikit tapi dia sangat bersyukur karena tidak semua orang memiliki tabungan sebanyak dia.


"Sudah selesai?" Laras menghampiri Gisel.


Gisel tersenyum sangat lega. Akhirnya uang itu diserahkan juga. Dia telah memastikan jumlah tabungannya di rekening bertambah dan menaruh buku tabungannya dengan hati-hati di tas bagian paling dasar bersama kartu ATM.


Seseorang tidak akan tahu kalau di bagian dasar atas Gisel ada sebuah kantong tersembunyi. Biasanya kantong itu berguna untuk menaruh parasut tas yang digunakan untuk melindungi tas ketika hujan. Gisel tidak membutuhkannya, tapi tidak membuangnya. Dia malah memanfaatkan keberadaan parasut untuk menipu orang-orang yang berniat jahat ketika membongkar tasnya. Dia kapok menaruh uang di dalam lemari semenjak kehilangan uang di asrama dulu.


"Alhamdulillah sudah selesai, kak. Sekarang aku lega." Gisel benar-benar lega.


"Alhamdulillah. Kakak kaget loh kamu punya uang sebanyak itu. Kenapa kamu nggak minta keluarga kamu untuk mengirimnya langsung ke rekening kamu daripada memberikan kamu uang cash. Dengan uang sebanyak ini, orang serakah sulit menahan diri bahkan di lingkungan pondok pesantren sekalipun." Kata Laras heran.


Pencurian memang jarang terjadi di pondok pesantren. Tapi bukan berarti tidak pernah. Untuk mengantisipasinya, lebih baik tidak usah membawa uang terlalu banyak. Tabung saja ke dalam rekening. Nanti kalau ingin berbelanja, tinggal narik di kantor staf. Ini jauh lebih aman daripada memegang uang cash.


Gisel juga mengerti kecemasan teman kamarnya.


"Ini bukan dari keluargaku, kak. Tapi ini dari salah satu kakakku, Dira. Dua hari yang lalu dia keluar dari pondok pesantren dan memberikanku sejumlah uang sebagai biaya hidup selama tinggal di sini. Aku juga nggak mengira kalau dia bakal ngasih aku uang sebanyak." Kata Gisel tanpa menyembunyikan nada bangganya.


Secara tidak langsung dia ingin mengatakan kepada Laras bahwa Dira adalah orang yang baik. Tidak hanya Dira tapi Aish juga. Sekalipun mereka bertiga sudah memiliki kehidupan masing-masing, namun baik Dira dan Aish tidak lupa untuk memperhatikan kehidupan Gisel.


Hati siapa yang tidak cemburu dengan hubungan persahabatan mereka?


"Wah... Masya Allah, uang itu dari Dira?" Uang sebanyak itu!


Laras diam-diam mengambil nafas panjang. Hubungan persahabatan apa yang terjalin di antara mereka sehingga begitu mudahnya melemparkan uang sebanyak itu?


Laras mau tidak mau merasa cemburu.


"Iya, uang yang tadi dari Dira. Sementara dari Aish, aku sudah memasukkannya ke dalam bank." Dia tiba-tiba berpikir bahwa tidak baik terlalu sombong di depan orang lain, jadi dia buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.


"Sebenarnya aku ingin mengajak kakak makan di luar. Tapi waktu kita mepet, jadi aku hanya membeli beberapa makanan di pasar untuk menembusnya."


Pikiran Laras teralihkan,"Oh... Kamu tidak usah terlalu repot-repot. Aku juga membeli makanan."


"Tidak repot. Ayo keluar, kak. Kak Danis sudah lama menunggu kita di luar." Padahal tidak lama.


Mereka berdua lalu keluar dari bank dan langsung menghampiri Danis di luar mobil. Danis mengangguk ringan kepada mereka dan masuk ke dalam mobil lebih dulu. Gisel dan Laras juga ikut masuk ke dalam mobil.


Mereka mengira langsung pulang ke pondok pesantren. Tapi ternyata mereka berhenti di pinggir jalan. Tepatnya di samping warung bakso dan nasi goreng. Agak aneh juga melihat warung nasi goreng sudah berdiri di siang hari. Gisel hanya tahu nasi goreng dijual saat sudah malam.


"Kita mau ngapain, kak?" Gisel bertanya bingung.


"Kita mampir makan sebentar dulu. Jangan khawatir, masih ada sisa setengah jam lagi sampai jam 10." Danis menunjukkan layar ponselnya di depan Gisel dan Laras.


Mereka berdua tidak keberatan. Malah cukup excited. Karena jarang-jarang mereka bisa makan di luar.


"Hari ini... Biar aku yang mentraktir kalian berdua. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuan kalian berdua beberapa hari ini. Sebelumnya maaf aku mentraktir kalian dengan makanan sederhana ini." Gisel sangat senang hari ini, jadi dia langsung berkata kepada yang lain kalau dia akan mentraktir mereka berdua.

__ADS_1


Laras tidak menolak kebaikan Gisel. Karena dia tahu harga nasi goreng atau bakso tidak semahal itu. Selain itu Gisel lah yang mengambil inisiatif untuk mentraktir mereka. Kebaikan tidak boleh ditolak.


Danis tidak mengatakan apa-apa. Dia duduk dengan punggung lurus menunggu makanan disajikan. Beberapa menit kemudian 2 mangkuk bakso dan sepiring nasi goreng dikirim beserta tiga gelas air putih.


Gisel dan Danis sama-sama makan bakso, sementara Laras makan nasi goreng.


Sepanjang makan tidak ada yang berbicara. Laras sibuk makan, sementara Gisel agak canggung duduk langsung dihadapan Danis. Wangi bakso yang menggunggah selera tiba-tiba tidak memiliki daya tarik di hadapan Gisel. Um, karena fokusnya sedari tadi tertuju kepada Danis. Dia sangat malu makan di depan Danis. Saking malunya, dia hanya makan tiga suap bakso dan setelah itu dia tidak makan lagi, namun kedua sendoknya tidak berhenti bergerak di atas mangkuk.


"Makanlah. Tidak boleh menyisakan makanan. Suatu hari Allah akan buat kamu menyesal dan merindukan makanan yang telah kamu sia-siakan hari ini." Danis mengingatkan Gisel agar jangan menonton saja.


Entah itu hanya perasaannya atau tidak, namun Gisel merasa kalau nada suara Danis tadi begitu lembut. Jauh lebih lembut daripada biasanya.


"Um...en." Gisel dengan patuh memakan makanannya.


Laras yang sedari tadi sibuk makan tiba-tiba lupa bagaimana caranya mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Soalnya dia kaget mendengar nada lembut Danis yang langka. Matanya yang bulat melihat Danis dan Gisel dengan tatapan curiga. Dia selama ini tidak terlalu banyak berpikir melihat interaksi mereka berdua. Tapi ketika mereka berada di pasar tadi, Laras tiba-tiba merasa aneh. Sepanjang berbelanja Danis dan Gisel sering berbicara. Gisel bertugas membeli dan Danis bertugas membawa barang. Dia bahkan tidak punya kesempatan untuk berbicara di antara mereka berdua. Jika diperhatikan baik-baik, mereka sudah seperti pasangan suami istri saja. Aneh bukan?


Namun Laras segera mengusir jauh-jauh pikiran ini. Dia pikir itu hanya fantasinya saja. Namun mendengar nada suara Danis tadi kepada Gisel, kecurigaan itu kembali terbersit di dalam kepalanya. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?


Mau tidak mau dia menanyakan ini di dalam hatinya. Dia merasa ada sesuatu diantara mereka berdua, tapi apakah ini mungkin?


Soalnya dia belum pernah mendengar gosip tentang Gisel dan Danis. Yang ada, dia mendengarkan gosip tentang aib Gisel yang sengaja disebarkan oleh Aira dulu. Jadi dia agak ragu jika mereka berdua memiliki sesuatu.


"Ayo pulang. Ibu pasti sudah menunggu di pondok."


Makanan sudah habis dan mereka harus segera kembali.


"Tunggu, kak. Aku belum bayar." Gisel buru-buru merogoh tasnya untuk mengambil uang.


Danis melihatnya.


Laras dan Gisel terkejut.


"Ah... Seharusnya aku yang bayar, soalnya aku ingin mentraktir kalian." Namun hatinya merasa manis.


Danis tersenyum, untuk pertama kalinya!


Sontak Laras dan Gisel tercengang melihat senyuman di wajah tampan Danis.


Wajah yang dulu selalu menampilkan ekspresi flat, kini mencair dan terlihat begitu lembut.


"Lain kali saja. Masih banyak kesempatan. Atau mungkin suatu saat nanti kita berdua yang akan mentraktir Laras." Katanya dengan kata-kata makna ambigu.


Jantung Gisel langsung berdegup kencang. Mungkinkah apa yang dia maksud sama dengan apa yang Gisel pikirkan?


Kita berdua yang akan mentraktir Laras, apakah maksudnya suatu hari nanti bila mereka bersama, mereka yang akan mentraktir Laras. Tidakkah ini maksud dari perkataan Danis tadi?


Gisel terbengong memikirkan kata-kata. Sementara wajahnya kembali memanas di bawah pengawasan Laras.


Tidak hanya Gisel aja yang terkejut. Tapi Laras juga terkejut. Pikiran Laras berputar-putar mencari tahu apa yang dimaksud oleh Danis. Mungkinkah apa yang dipikirkan sama dengan apa yang Danis maksud. Kalau tidak, jadi dia sendiri yang banyak berpikir?


Dia tahu Danis tapi tidak terlalu mengenalnya. Dia dan Danis berada di angkatan yang sama. Bisa dibilang begitu. Namun Danis tetap melanjutkan sekolahnya sementara dia tidak. Sebelum jatuh magang di pondok pesantren, dia sempat pulang ke kampung selama satu tahun. Jika dia tidak kembali dan langsung magang, maka tahun ini dia adalah pekerja tetap pondok. Sementara Danis akan mendapatkan kelulusan tahun ini.


Karena mereka berdua saja seangkatan, Laras tidak memanggil Danis dengan sebutan kakak ataupun adik begitu pula sebaliknya, Danis tidak memanggilnya kakak ataupun adik.


"Apa yang sedang kalian pikirkan?" Danis bertanya kosong jangan senyum tipis di wajahnya.

__ADS_1


Gisel tersadar. Dia meremas kuat kedua tangannya menahan gugup.


"Bukan... Bukan apa-apa." Gisel menundukkan kepalanya, menyembunyikan apa yang tengah dipikirkan sekarang.


"Kalau begitu ayo pulang." Kata Danis lagi kepada mereka berdua.


"Um." Gisel mengikuti Danis masuk ke dalam mobil.


Sementara Laras di belakang mereka diam-diam mengamati interaksi kecil mereka tadi.


"Apakah yang dipikirkan oleh Danis sama dengan yang aku pikirkan? Aneh, hari ini aku sangat aneh. Mengapa aku begitu mudah berpikir liar?" Laras menggelengkan kepalanya yang tidak berdaya.


Hari ini pikirannya kemana-mana. Seperti bukan dirinya yang selalu tenang.


...*****...


Sesampai mereka di pondok pesantren. Semua belanjaan langsung dikirim ke dapur umum dengan bantuan beberapa santri laki-laki yang dipanggil oleh Danis. Maka belanjaan sebanyak itu tidak perlu diambil berkali-kali.


Dengan wajah merah Gisel berlari menemui juru masak yang tengah menunggu di dalam dapur. Ternyata semua bahan yang ada di dapur seperti bawang merah, bawang putih, sambal dan beberapa sayuran telah diproses sambil menunggu mereka kembali.


"Assalamualaikum, Bu. Kami berdua sudah kembali." Gisel mencium tangan juru masak.


Laras juga melakukan hal yang sama.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, ibu senang melihat kalian pulang tepat waktu. Bagaimana dengan belanjaan kalian?"


"Semuanya sudah ada di sini, Bu. Lengkap tidak ada bahan yang tidak bisa dibeli. Eh, ini kembalian semuanya, Bu." Gisel buru-buru merogoh tas punggungnya untuk mengambil uang kembalian.


Namun saat mengambil uang kembalian itu, suara sengit seseorang menginstruksi gerakan tangannya.


"Eh, apa ini? Kenapa ada mie instan dan makanan? Perasaan ibu nggak nulis ini di daftar bahan dapur?" Tanya seseorang sambil membongkar belanjaan Gisel.


Gisel lupa mengamankan belanjaannya. Atau lebih tepatnya Laras lupa. Padahal Laras bilang tadi akan mengambil belanjaannya dan langsung mengirimnya ke kamar mereka.


Gisel sangat tenang.


"Memang benar semua itu tidak ada di daftar belanjaan ibu, karena itu adalah belanjaanku." Kata Gisel tidak panik sama sekali.


Toh, dia tidak mencuri. Dan dia jujur mau mengakui bahwa itu adalah belanjaannya.


Sebelumnya dia sudah bertanya kepada Laras apakah juru masak akan marah jika mereka belanja di pasar menggunakan uang pribadi sendiri?


Dan Laras menjawab bahwa juru masak tidak akan marah selama mereka tidak menggelapkan uang. Bukankah aman?


"Maaf sebelumnya, apakah kamu menggunakan uang dapur untuk membelanjakan semua ini?" Wanita itu bertanya dengan heran kepada Gisel.


Wanita itu tidak lain adalah wanita yang tidak menyukai Gisel kemarin. Hari ini dia mendengar kabar kalau Gisel dan Laras pergi ke pasar, sementara mereka bersusah payah bekerja di dalam dapur. Dia merasa tersinggung. Soalnya dia adalah orang yang paling senior di dalam dapur ini. Tindakan juru masak lebih mempercayai Gisel daripada mempercayainya adalah bukti bahwa karakternya dipertanyakan di sini.


Sejujurnya tidak ada yang berpikir begitu. Cuma dia sendiri yang terlalu over thinking. Padahal semua orang biasa-biasa saja. Dan menganggap itu adalah keuntungan Gisel pribadi.


"Aku tidak menggunakan uang dapur. Ini adalah uangku pribadi. Jika kakak tidak percaya, tolong tanyakan kepada kak Danis dan kak Laras. Mereka berdua selalu ada bersamaku ketika pergi berbelanja. Dan untung saja aku mencatat semua pengeluaran hari ini untuk membeli bahan makanan. Jumlah total semuanya 906.000. Sisanya 94.000 akan aku kembalikan." Gisel lalu mengambil uang kembalian yang ada di dalam tas ranselnya bersama kertas daftar bahan yang telah dicoret-coret oleh Gisel.


Ide ini datang dari Danis. Gisel diperintahkan menulis harga setiap bahan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Soalnya masalah uang itu sensitif.


Untunglah kak Danis sempat mengingatkanku. Kalau tidak, kesalahpahaman akan terjadi. Batin Gisel lega.

__ADS_1


"Coba lihat baik-baik, Bu. Aku menulis semua harganya di sana. Dan ibu bisa mengkonfirmasinya dengan menimbang ulang semua bahan makanan yang aku beli. Semuanya pas tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang dilebih-lebihkan." Kata Gisel dengan nada yang meyakinkan.


__ADS_2