Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 15.9


__ADS_3

"Ingat, Aish. Harus tetap anggun." Bisik Dira di belakang.


Aish berusaha mempertahankan senyuman di wajahnya semanis mungkin. Seakan dirinya ikut bersukacita melihat kedatangan Nasifa dan Nadira. Setelah saling menyapa dengan anggukan kecil, Nasifa lalu memberi salam kepada sang habib. Sikapnya sangat sopan dan akrab namun tidak memiliki rasa ambigu di hati Aish. Dalam hati Aish mengagumi sikap lembut Nasifa yang berbanding terbalik dengan Nadira, adiknya. Padahal belajar agama jauh-jauh ke negara orang, tapi otaknya kok masih aja korslet? Heran Aish tidak menyangka.


"Wah, kebetulan ada Nadira di sini." Aish berniat jahat.


Mendengar ini Nadira langsung merasakan firasat buruk. Mata Nadira bergetar gugup menatap Aish dengan ekspresi antisipasi. Dirinya masih mengingat dengan baik percakapannya di kantin saat itu. Terngiang jelas di dalam kepalanya sikap acuh tak acuh Aish ketika mengatakan akan bertanya langsung kepada sang habib.


Nadira panik. Dia merasakan perasaan urgensi di dalam hatinya. Takut bila Aish nekat bertanya dan berharap juga dengan reaksi habib Khalid nantinya. Dia sangat campur aduk di dalam hatinya. Perasaan harap dan cemas ini merusuh tidak karuan di dalam hatinya.


"Ada apa, Aish?" Nasifa tidak memperhatikan ada yang salah dengan adiknya.


Aish tersenyum lembut, berpura-pura tidak melihat kegugupan di mata Nadira.


Oh, dia pasti sangat takut sekarang. Batin Aish mengejek.


"Ini kak Nasifa, kemarin sewaktu di kantin Nadira bilang kalau dia dan kak Khalid berasal dari nasab yang sama, jadi mereka pada akhirnya bertunangan. Kak Khalid, apa yang diomongin Nadira benar enggak, kak?" Mata polosnya beralih menatap ke arah sang habib yang juga sedang memandanginya.


Aneh, tatapan sang habib saat ini tidak benar. Ia merasa jika bola mata gelap itu menyimpan bahaya di dalam sana. Apa sang habib marah?


Apa ada yang salah dengan kata-katanya?


Aish ragu dan mulai merasa tidak nyaman. Hati ini tidak tenang terus melihat ke sang habib jadi ia memutuskan tatapan mereka, mengalihkan pandangannya ke arah Nasifa sambil berpura-pura menenangkan detak jantungnya yang panik.


"Nadira?" Nasifa melihat adiknya dengan kosong.


Nadira tahu bahwa kakaknya tidak suka dia terlibat dengan habib Khalid. Tapi apa yang harus dia lakukan? Hatinya tidak bisa menahan perasaan cinta ini. Mereka tidak pernah bertemu tapi hatinya semakin memupuk perasaan cinta hanya dengan melihat secarik foto sang habib saja selama ini. Sekarang mereka bertemu, lalu bagaimana mungkin Nadira melepaskan perasaan di hati dengan mudahnya?

__ADS_1


Perasaan yang dipupuk tanpa sengaja ini adalah anugrah Allah kepadanya. Mungkin ini adalah pertanda bahwa dirinya adalah tulang rusuk sang habib, kalau tidak bagaimana mungkin perasaan ini tumbuh begitu saja?


Yah, tentu saja. Ini adalah hadiah yang Allah berikan kepadanya dalam hidup ini.


"Aku.."


"Ayo pergi. Kita akan terlambat jika terus menunda waktu."


Sebelum Nadira mengatakan apa-apa, habib Khalid terlebih dahulu berbicara. Dia menyela ucapan Nadira dan langsung pergi memimpin jalan di depan. Melihat kepergian sang habib, Nadira tidak melepaskan kesempatan ini. Dia ikut mengejar di belakang dan disusul oleh Nasifa setelah mengangguk ringan kepada Aish.


Sementara Aish,


Ia termenung di tempat. Menatap kosong kepergian sang habib di tempat. Kakinya seolah terpaku di tempat tak mampu mengejar. Ingin sekali mengejar, berlari secepat mungkin untuk mengejar sang habib. Namun rasa sakit perih di dalam hatinya mengingatkan agar jangan menambah luka lagi.


Benar. Habib Khalid jelas sedang marah kepadanya. Lihat saja ketidakpedulian sang habib barusan. Pergi tanpa senyum ataupun menyapa, habib Khalid sepenuhnya mengabaikan dirinya. Lalu apa yang membuat sang habib marah?


Mungkinkah karena pertanyaan isengnya tadi?


Apakah itu tidak benar?


Lantas mengapa habib Khalid marah jika pertanyaannya tidak memiliki masalah?


Kecuali apa yang ia katakan memang benar adanya?


Nah, jadi itu benar?


Hanya memikirkannya saja membuat hatinya meringis sakit. Ah, sakitnya.

__ADS_1


"Hei, ada apa dengan habib Thalib?" Dira melihat kesal kepergian sang habib.


Dia kesal dan tidak terima melihat sahabatnya diperlakukan dingin seperti tadi.


"Mungkin dia sedang terburu-buru makanya langsung pergi." Kata Gisel ragu-ragu.


"Sial, apa semua laki-laki sama saja di dunia ini? Begitu melihat yang lebih baik, yang lama langsung dilupakan!" Dengus Dira berang.


Padahal anggapannya terhadap habib Khalid sangat baik selama ini dan dia pernah berpikir bahwa habib Khalid adalah laki-laki yang berbeda. Secara agama dan perilaku, habib Khalid adalah salah satu orang di dunia ini yang sangat berbeda juga baik. Itulah mengapa dia sangat mendukung Aish bersama dengannya. Tapi melihat sikap acuh tak acuh nya terhadap Aish tadi, Dira tiba-tiba menemukan bahwa habib Khalid mungkin tidak sempurna seperti yang ada di dalam hatinya.


"Dir, jaga bahasa mu. Di sini pondok, kalau di dengar orang terus ada yang ngelaporin, kamu pasti langsung ditugaskan di dalam kamar mandi untuk bantu bersih-bersih!" Tegur Aish.


Sebenarnya ia tidak suka mendengar Dira menjelek-jelekkan nama habib, karena menurutnya habib Khalid adalah orang yang sangat baik. Mungkin dia adalah orang asing pertama yang memperlakukannya dengan baik dan tulus, jauh lebih baik daripada keluarganya.


"Habisnya aku kesel, Aish. Kamu kan nanyanya baik-baik tapi malah diacuhin sama habib Thalib. Enggak adil tahu enggak." Keluh Dira tidak bisa menahan kekesalannya.


Aish juga tahu dan ia pun sangat sedih. Memikirkan sikap acuh habib Khalid barusan mengingatkan Aish pada posisinya sekarang bahwa ia adalah pengejar sang habib, bukan kekasih ataupun tunangannya, jadi ia tidak berhak memonopoli habib Khalid di sini.


Ugh...mengejar sang habib, ia baru menyadari jika jalannya tidak semulus yang dibayangkan dan dia juga baru sadar kalau objek cinta yang dikejar juga belum tentu suka dengan dirinya.


"Jangan ngomong dulu. Sebaiknya kita ikutin saja mereka mau kemana soalnya kan habib Thalib keluar sama mereka. Jadi bahaya dong kalau Nadira dan habib bisa dekat?" Gisel menyela keluhan Dira dan mengingatkan mereka agar segera mengikuti sang habib.


Aish sebenarnya enggak mau katena hatinya masih nyeri. Tapi saat mendengarkan nama Nadira disebutkan, kakinya ragu-ragu melangkah tapi pada akhirnya melangkah juga.


"Okay, ayo pergi. Aku mau lihat kehebatan apa yang dimiliki gadis itu sampai ngebuat sang habib ngacuhin Aish kita." Dendam Dira.


Dira tidak suka melihat Nadira sejujurnya. Mungkin karena mengingatkannya kepada Aira, si gadis bermuka dua atau ada alasan yang lain. Entahlah, intinya dia benar-benar muak dengan Nadira!

__ADS_1


"Nah, itu mereka!"


Mereka bertiga mengikuti langkah sang habib menuju parkiran pondok, tapi sayang langkah mereka tiba-tiba ditahan oleh satpam yang bertugas menjaga pintu depan pondok pesantren. Memang benar santri ataupun santriwati tidak memiliki akses di pintu ini dan hanya bisa lewat pintu belakang. Tapi masalah ini sangat mendesak sehingga mereka nekat ingin menerobos pintu depan.


__ADS_2