
"Mungkin untuk berterima kasih. Habib Thalib tidak enak menolak niat baiknya." Kata Nasha menghibur hatinya sendiri.
"Mungkin saja, habib Thalib soalnya terlalu lembut. Tapi aku enggak habis pikir kak kenapa gadis itu memanggil habib Thalib dengan panggilan akrab, itu bukannya enggak sopan ya, kak?" Tanyanya cemburu.
Panggilan akrab seperti itu, banyak orang yang sudah memimpikannya tapi tidak ada satupun yang seberani Aish.
Nasha tersenyum kecil,"Gadis itu mungkin sepihak dan habib Thalib enggan mengomentarinya jadi biarkan saja." Katanya enteng.
Toh Aish adalah anak yang keras kepala dan tidak sekali atau dua kali membuat masalah jadi biarkan saja selama habib Khalid tidak keberatan.
Sementara itu dibarisan paling depan wajah dokter Ira sangat buruk sepanjang jalan. Dia sangat cemburu melihat betapa tidak tahu malunya Aish mendekati habib Khalid. Pantas saja Aish sangat keras kepala mempertahankan coklat-coklat itu, ternyata niatnya untuk menarik perhatian sang habib. Ugh, jika dia tahu hasilnya akan seperti ini maka lebih baik dia tidak usah berdebat dengan Aish tadi di kamar. Setidaknya kesan habib Khalid kepadanya tidak terlalu buruk.
"Benar saja apa yang Khalisa katakan. Aish memang sangat suka membuat masalah agar bisa menarik perhatian habib Thalib." Gumam dokter Ira kesal bercampur marah.
Kali ini dia langsung kalah banyak di depan sang habib gara-gara Aish.
Diskusi terus berlanjut hingga memasuki kamar-kamar yang lain. Dalam waktu dua jam, asrama putri telah digeledah bersih dan memanen banyak hal baik juga tidak baik.
Sementara itu di kamar Aish, Dira, dan Gisel sedang duduk bersama melihat deretan ember-ember di luar sana.
Beberapa saat yang lalu Aish dikerubungi oleh banyak orang di kamar. Mereka mengacungi Aish jempol karena keberaniannya berbicara dengan sang habib. Selain itu mereka juga bertanya-tanya rahasia apa yang Aish sembunyikan sehingga bisa berbicara dengan bebas tanpa beban di depan sang habib.
Untuk semua pertanyaan itu, Aish hanya menjawab asal-asalan saja karena ia sendiri juga sangat gugup setiap kali berbicara dengan sang habib.
"Pertahankan Aish, keberanian mu dapat meluluhkan hati habib Thalib." Ujar Dira berbicara omong kosong.
Aish tersenyum geli,"Tentu saja, ini adalah perjuangan." Katanya santai.
Lalu perhatian mereka tertuju pada keributan di luar saja. Seorang staf kedisiplinan asrama putri membariskan beberapa santriwati di lorong dengan kertas tulisan bahasa Arab di dada masing-masing.
"Eh...eh, ada apa ini?" Dira adalah orang yang paling semangat di sini.
Jiwa-jiwa gosipnya mulai menggelora.
Siti menjelaskan dengan gugup.
"Mereka kedapatan menyimpan buku-buku terlarang, membawa ponsel, dan bahkan menonton video-video intim hubungan suami-istri." Jelasnya.
Aish, Gisel, dan Dira langsung terdiam."..." Bukankah anak-anak pondok terlalu galak?
Mereka saja yang sekolah di sekolah umum tidak sampai segalak ini.
__ADS_1
"Kamu tahu darimana?" Tanya Gisel penasaran.
Siti menunjuk kertas di depan dada para santriwati itu.
"Bukankah sudah jelas tertulis di sana?"
Lagi-lagi mereka bertiga dibuat terdiam. Salahkan diri mereka yang tidak bisa berbahasa Arab dan membaca tulisan Arab gundul!
"Barang-barang itukan enggak seharusnya ada di sini tapi kenapa mereka bisa punya?" Tanya Aish heran.
Di sekitar pondok pesantren ini Aish yakin tidak ada toko atau pedagang yang menjual barang-barang ini karena normalnya santri ataupun santriwati tidak akan membelinya. Lagian ini kawasan pondok pesantren, tempat untuk menuntut ilmu jadi harusnya enggak ada yang punya pikiran untuk jualan.
Siti ragu-ragu menjawab tapi masih mengatakannya,"Ada rumor kalau salah satu ustad menjualnya kepada santri ataupun santriwati."
Mereka bertiga terkejut,"Eh, ada yang begitu?" Kaget Aish.
Siti menaruh jari telunjuknya di bibir,"Rumor. Jangan dibicarakan di sini."
Artinya mereka bisa bertanya di tempat yang lebih aman seperti di dalam kamar.
Mereka bertiga untungnya mengerti.
Jika mereka bertiga saja yang bertengkar dihukum membersihkan kamar mandi asrama putri, maka orang-orang ini harusnya mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat, kan?
Siti mengerutkan keningnya ngeri. Kalau pelanggaran sampai seberat ini, hukumannya tidak akan pernah main-main.
"Kalau tidak salah mereka akan dihukum ditengah lapangan. Berdiri dari selesai sholat dzuhur hingga sholat ashar, lalu setelah itu mereka akan disiram dengan air got atau air lumpur untuk ditunjukkan kepada kita semua agar kesalahan ini jangan diulangi lagi." Kata Siti mengingat-ingat.
Hukuman ini sudah beberapa kali dilaksanakan selama dia bersekolah di sini, namun masih belum ada efek jera karena selalu saja ada yang ketahuan melakukannya.
Mereka bertiga merinding memikirkannya.
"Jahat sekali, hukuman kami sepertinya jauh lebih baik." Kata Dira ngeri.
Siti menganggukkan kepalanya setuju.
"Benar, hukuman kalian sebenarnya cukup ringan dibandingkan ini karena kesalahan kalian pasti tidak berat. Kalau hukuman ini diberikan saat ada santri atau santriwati yang ketahuan nyimpan buku-buku zinah, video zinah dan bahkan menontonnya jadi wajar hukumannya berat. Ngomong-ngomong waktu itu kesalahan apa yang kalian perbuat makanya sampai dihukum bersihin kamar mandi?" Tanya Siti penasaran.
Bukan cuma dia saja yang penasaran, tapi anak-anak yang lain juga penasaran tapi malu bertanya.
Aish, Dira, dan Gisel saling melihat. Mulut mereka berkedut tertahan memikirkan kejadian hari itu.
__ADS_1
"Kami bertengkar." Jawab Aish datar.
"Bertengkar?" Kaget Siti.
Memang benar awal-awal masuk pesantren mereka bertiga tidak terlalu akrab tapi tidak ada yang mengira jika mereka sampai bertengkar.
"Iya, di sawah." Jawab Gisel ngilu.
Heran,"Tapi kenapa sampai dihukum bersihin kamar mandi?" Tidak hanya satu, tapi seluruh kamar mandi asrama putri!
Hukuman ini cukup besar dan sangat merepotkan.
Dira memutar bola matanya,"Karena kita enggak sengaja ngerusakin tanaman yang ada di sawah. Padahal cuma enggak seberapa."
Siti tersenyum tipis. Bukankah hukuman mereka agak berat dibandingkan kesalahan yang mereka lakukan?
"Ugh," Siti menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nangis enggak ada gunanya. Lagian siapa suruh nyimpan barang aneh-aneh." Dira mengalihkan pembicaraan.
Suaranya tidak kecil dan dapat di dengar oleh para santriwati selaku pelaku yang ditangkap menyimpang.
Mereka semua tertunduk malu, wajah mereka pucat pasi dan bahkan ada yang menangis terisak-isak. Tapi tidak ada yang mengasihani mereka. Bukannya kasihan, orang-orang malah senang menonton kemalangan mereka. Lagian siapa suruh ngelakuin hal-hal yang dilarang keras oleh pondok. Setelah ketahuan, baru deh nyesel.
"Kapan mereka dihukum?" Tanya Gisel kepada Siti.
Siti berpikir sebentar.
"Biasanya satu hari setelah razia, berarti besok."
"Ah, ada tontonan lagi deh. Sayang banget kita enggak bisa beli popcorn di sini." Kata Dira antusias.
Siti sampai meringis mendengarnya.
"Jangan bicara omong kosong." Tegur Aish di sampingnya.
Dira manyun tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Lho, makanannya mau dibawa kemana?"
Para staf kedisiplinan asrama putri mulai mengangkut ember-ember itu keluar dari asrama. Artinya inspeksi sudah berakhir dan semua panen akan dibawa pergi.
__ADS_1