Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 27.6


__ADS_3

Gisel masuk ke dalam kamar yang sudah dikenalnya bersama gadis itu. Di dalam kamar dia melihat hampir semua orang sudah berkumpul. Namun karena waktu tidur masih lama, banyak orang yang masa belum masuk dan memiliki kegiatan lain di luar. Sebentar lagi pengumuman hasil nilai ujian akhir. Harusnya anak-anak pondok belum kembali ke pondok pesantren. Namun kejadian yang menimpa habib Khalid membuat mereka semua bergegas kembali ke pondok pesantren. Maka jadilah pondok pesantren kembali ramai seperti waktu normal.


"Gisel, kemari." Dira melambaikan tangannya kepada Gisel.


Gisel menatap Dira dan Aish. Merasa malu, canggung rasanya melihat mereka lagi setelah perpisahan tidak menyenangkan tadi siang.


"Kenapa diam aja? Ayo ke sini." Dira mendesak.


Gisel tidak punya pilihan selain datang berjalan menghampiri mereka berdua.


"Maaf.." Kata Gisel tiba-tiba.

__ADS_1


Dira dan Aish saling pandang, sedetik kemudian mereka berdua tersenyum lebar. Lega karena Gisel akhirnya kembali lagi dan tidak terus terpuruk karena masalah Aira.


"Hei, apa yang kamu katakan? Coba ku lihat, apakah kamu sudah merasa lebih baik?" Dira menarik tangan Gisel agar duduk di tengah.


Gisel duduk dengan patuh. Hatinya seger menghangat dengan perhatian kedua sahabatnya.


"Jauh lebih baik. Hari ini aku sangat kekanak-kanakan, tolong maafkan aku." Gisel merasa tidak enak ketika mengingat apa yang telah dia katakan kepada Aish dan Dira tadi siang.


"Jangan meminta maaf kepada kami. Apa yang kamu lakukan sebenarnya wajar-wajar saja. Ini adalah reaksi alam bawah sadar kamu ketika menghadapi sumber rasa sakit di dalam dirimu sendiri. Perasaan ini tidak mudah mengobatinya. Entah apakah harus membalas rasa sakit ini agar setimpal sehingga bisa berdamai dengan masa lalu atau mengikhlaskannya dengan berlapang dada. Di antara kedua cara ini, pasti pilihan kedua yang terbaik. Tapi faktanya rata-rata dari kita semua memilih untuk menggunakan cara pertama. Bukan karena menginginkan sebuah perdamaian, tapi lebih kepada keserakahan di dalam hati ini sendiri untuk melampiaskan rasa sakit yang dimiliki. Ini sudah biasa terjadi, dan menurutku ini adalah salah satu ujian yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya. Dengan ujian ini Allah ingin melihat seberapa tangguh rasa sabar yang kita miliki. Bukankah Allah sangat menyukai orang yang sabar dan menegakkan sholat? Maka jadilah orang yang memegang dua hal penting ini." Aish bukannya sudah berdamai dengan semua rasa sakitnya, tidak, dia masih jauh dari titik ini. Dia menyadari bahwa tak ada gunanya mengingat rasa sakit ini terus menerus karena semuanya sudah terjadi. Perlahan dia belajar untuk mencoba sabar menghadapi kelemahannya ini. Sulit memang, tapi dia masih terus mencoba karena dia tahu bahwa janji Allah itu pasti bagi hamba yang berserah diri kepada-Nya.


"Wuih, Aish sekarang udah dewasa yah. Enggak heran sih, suaminya kan habib Thalib." Goda Dira.

__ADS_1


Aish memutar bola matanya.


"Apaan, sih." Pipinya merona.


"Em... melihat kamu berubah sejauh ini, aku tiba-tiba merasa malu. Aku...akan mencoba mengikuti langkah kamu. Pasti sulit tapi aku tidak akan menyerah. Soalnya aku juga.... berharap Allah memaafkan semua kesalahan yang pernah ku lakukan dalam hidup ini.." Suaranya semakin kecil di akhir kalimat.


Membuat Dira tercengang dan terharu. Sahabatnya sudah berjalan sejauh ini, maka dia tidak boleh berjalan di tempat!


"Ya, ayo melangkah bersama-sama. Aku tak akan kalah dari kalian berdua."


Mereka bertiga tertawa dan mengabiskan waktu dengan membicarakan banyak topik pembicaraan. Hingga waktu tidur akhirnya datang, semua pembicaraan mereka berakhir dengan ucapan selamat malam yang manis.

__ADS_1


__ADS_2