
Jujur saja aku nggak pernah berpikir sampai sejauh itu. Bodohnya lagi yang selalu aku pikirkan adalah apa yang harus kamu lakukan setelah ini bila kami tinggal di tempat yang sama. Tapi mendengar apa yang kak Khalid dikatakan kepadaku diri ini sungguh sangat malu. Malu semalu-malu nya, kak Khalid berpikir dengan bijaksana namun diriku justru sebaliknya. Untung saja diri ini tidak mengatakan sesuatu yang salah. Kalau tidak, mau taruh di mana nanti wajahku?
"Aku... Tentu saja aku mendukung keputusan kakak. Aku sebenarnya canggung. Dari tadi aku memikirkan apa yang harus aku lakukan karena hubungan kita ternyata sudah halal. Kalau dibilang shock, aku shock banget kak. Karena aku nggak pernah berpikir kalau kita sudah menikah, soalnya aku nggak ada kesan apapun tentang kakak di dalam hidupku sebelumnya." Lebih dari apapun itu keputusan yang kak Khalid ambil memang solusi yang bagus untuk situasi kami sekarang.
Dia meremat tanganku sambil mengalihkan pandangannya menatap ke depan. Selalu damai rasanya ngeliatin kak Khalid tersenyum. Entah kenapa aku merasa kalau senyuman kak Khalid memiliki kekuatan magic di dalamnya. Karena yah, mau lagi mood ku buruk atau enggak, kalau udah ngeliat senyum kak Khalid, bawaannya happy terus.
"Kejutan kan? Ini karena Allah. Memikirkannya sekarang aku tak pernah berhenti kagum dengan skenario yang Allah buat untuk kita berdua. Dan tahukah kamu wahai Aisha Rumaisha, aku selalu berharap bahwa Allah tidak akan pernah memalingkan wajah-Nya dari kita berdua. Aku terima suka dan duka yang Allah gariskan dalam hidup ini, selama itu bersama kamu, aku tidak akan ragu melewati semua itu. Apakah kamu merasakan perasaan yang sama terlepas dari kejutan yang kamu rasakan hari ini? Kuharap kamu tidak menyesalinya." Tanyanya kepadaku.
Ya Allah wahai habibi, ingin sekali kukatakan kepadamu bahwa aku telah melewati banyak sekali penderitaan dan kesulitan di dalam hidupku sebelum bertemu dengan dirimu. Setiap kesulitan yang menimpa diriku datang bertubi-tubi tanpa memberikan diriku kesempatan untuk bernapas sejenak. Aku bahkan sampai jatuh di titik di mana aku meragukan hidupku sendiri, meragukan Allah yang telah menciptakan diriku. Kurasa Allah menciptakan ku hanya untuk bermain-main, kurasa Allah menciptakan ku hanya untuk menerima semua penderitaan. Karena baik teman, sekolah, lingkungan, orang tua, keluarga, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat untukku berlindung malah menolak kehadiranku. Dengan semua ujian ini wahai habibie, lantas apakah aku masih memiliki harapan untuk memperjuangkan hidupku?
Tapi setelah bertemu dengan dirimu semuanya berubah drastis. Tiba-tiba harapan menyala di dalam hatiku, lalu benih-benih cinta muncul dan perlahan karena dirimu pula aku mulai mendekatkan diri dengan Rabb-ku, Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan sinar yang kamu bawa ke dalam hidupku ini, maka bagaimana mungkin diri ini menyesali semuanya?
"Demi Allah wahai habibi, Allah adalah saksinya atas perasaan yang aku alami sejak bertemu dengan dirimu. Tak ada sekalipun terbesit kata penyesalan di dalam hatiku. Yang ada hanyalah rasa syukur dan kebahagiaan yang belum pernah kurasakan di dalam hidup ini. Kamu memberikanku cahaya harapan, membimbingku untuk dekat dengan penciptaku, dan secara tak sadar aku mulai bergantung dengan penciptaku. Diam-diam aku merayu-Nya agar hatimu dibalikkan untukku, agar dirimu menumbuhkan benih perasaan kepadaku, dan agar aku memiliki kesempatan untuk menjadi pendamping mu. Di tahap yang paling gila, tahukah engkau wahai habibie, aku berbicara dengan Allah dan mengungkapkan kesediaan ku untuk menjadi yang kedua, yang ketiga, atau yang keempat di dalam hidupmu. Aku bersungguh-sungguh rela melakukannya walaupun aku tahu berbagi itu sangat menyakitkan-"
"Berhentilah bicara. Jangan mengatakan kata-kata yang tidak kusukai itu. Laki-laki memang boleh memiliki lebih dari satu wanita di dalam hidupnya, namun Allah lebih suka seorang laki-laki memiliki satu wanita di dalam hidupnya selama laki-laki itu menegakkan hak dan kewajiban dengan adil kepada wanita itu. Wahai Aisha Rumaisha, bagi seorang laki-laki yang telah menikah wanita adalah amanah yang sangat besar. Selayaknya sebuah pohon, memang memiliki satu tubuh tapi mempunyai banyak cabang. Begitu pula seorang wanita. Dia memang satu amanah, tapi di dalam satu amanah itu memiliki amanah yang bercabang-cabang pula. Ada banyak sekali ujian di dalam satu wanita, mampukah seorang laki-laki melewati selama sisa hidupnya? Lalu bagaimana dengan wanita-wanita yang lain? Semuanya akan bertambah sulit wahai istriku, dan bila gagal, ganjarannya sungguh sangat menyakitkan. Terlepas dari itu semua laki-laki memang diperbolehkan, tapi aku sungguh tidak bisa wahai istriku. Aku tak bisa berpaling dari dirimu, mungkin kamu akan merasakan sakit, tapi sungguh aku juga merasa sakit. Sebab memang diri ini tidak bisa berpaling dari dirimu. Jadi berhentilah berpikir yang aneh-aneh. Hanya kamu, tidak ada wanita yang lain. Inilah yang ku janjikan kepada mama dulu sebelum mengambil kamu menjadi amanah seutuhnya dalam hidupku di dunia ini. Bila aku sampai mengingkari amanah, maka mau tak mau, suka tak suka secara alami kamu tidak akan bisa menjadi istriku. Talak akan jatuh kepadamu di saat aku mengambil wanita lain ke dalam hidupku, dan aku sungguh tidak menginginkan hal ini. Bagiku Itu adalah sebuah mimpi buruk yang tidak ingin ingat atau ku pikirkan. Aku tak sanggup wahai istriku." Perkataan suamiku langsung menusuk titik tersensitif di dalam hatiku.
Dari Mama aku belajar bahwa diduakan bukanlah sesuatu yang sangat menyenangkan. Pasti ada cemburu dan sakit di dalam hati melihat orang yang kita cintai dekat dengan wanita lain. Aku belajar dari Mama untuk tidak mengikuti kisah yang sama. Tapi karena cintaku kepada suamiku, pikiran ini pernah terbersit. Tetapi mendengar apa yang suamiku katakan barusan, semua kekhawatiran dan kecemasan ku segera menguap entah ke mana. Hatiku tersentuh, perasaan hangat menjalar ke sekujur tubuh ku. Ya Allah, betapa baik diri-Mu mengirimkan sosok laki-laki luar biasa ini ke dalam hidupku. Mungkinkah ini adalah doa Mama kepadaku sebelum meninggalkan dunia ini?
Dia mengharapkan kebahagiaan untuk ku, berdoa agar kisah yang sama tidak terulang lagi, aku sungguh... Sungguh sangat bahagia ya Allah.
"Istriku, berhenti menangis. Jika sampai ada yang melihat, orang-orang akan salah paham kepadaku. Nanti mereka pikir aku telah menyakiti kamu." Tangan besarnya entah sejak kapan mulai mengusap pipiku.
"Aku...aku tidak menangis." Aku buru-buru mengusap wajahku yang basah.
"Aku nggak nangis, kak." Kataku bersungguh-sungguh.
"Lho, tadi manggilnya habibi, tapi kenapa sekarang berubah lagi? Padahal tadi aku senang banget dengar panggilan kamu."
Pipiku langsung terasa panas. Ugh, aku baru sadar kalau manggil kak Khalid dengan sebutan habibi! Betapa lancangnya diriku!
"Enggak ih, kakak salah denger tahu!" Aku memalingkan wajahku tak berani melihatnya.
"Masa iya sih, perasaanku tadi kamu manggil aku lebih dari-"
"Aku nggak pernah kak Khalid, kayaknya ada yang salah dengan pendengaran kakak." Potong ku buru-buru.
Dia tiba-tiba tertawa. Suara tawanya garing dan memiliki sentuhan candu. Em, selain suka melihatnya tersenyum aku juga senang mendengarnya tertawa. Kak Khalid tuh sering banget tersenyum, tapi nggak tahu kenapa giliran tertawa dia irit banget. Serius aku sampai heran.
"Kak Khalid kok malah ketawa, sih? Nggak lucu tau nggak!" Gerutu ku pura-pura marah.
Melihatku marah, dia semakin tertawa kencang dan lepas. Membuat tanganku gatal ingin sekali mencubit hidungnya! Ugh, kak Khalid nyebelin!
"Kak Khalid gitu ah, aku jadi males."
"Okay...okay, aku nggak tertawa lagi." Dia akhirnya berhenti tertawa.
__ADS_1
"Ini sudah larut malam, kamu masuk ke asrama dulu gih sebelum gerbangnya dikunci. Kita bisa bicara besok kalau ada waktu luang."
Ah,
Aku melihat ke depan dan baru menyadari kami sudah sampai di depan gedung asrama.
Aku agak enggan berpisah darinya.
"Iya kak. Em, kakak juga langsung istirahat yah setelah balik ke kantor. Jangan begadang terus."
Dia tersenyum. Melepaskan tanganku dan beralih menyentuh puncak kepalaku.
"Okay, selamat malam." Lalu dia merendahkan kepalanya untuk mengecup puncak kepalaku.
Jantungku sekali lagi menggila dibuatnya.
Aku ikut tersenyum,"Selamat malam." Bisikku lembut.
...*****...
Pagi harinya setelah sarapan Aish, Dira, dan Gisel berhasil melarikan diri dari kerumunan banyak orang. Ini sangat gila pikir mereka bertiga. Sejak bangun shalat tahajud, teman-teman kamar mulai mengelilingi Aish. Lepas dari teman-teman kamar, ayo segera dikejar-kejar oleh santriwati dari kamar sebelah dan para senior. Mereka berbondong-bondong memanggil nama Aish, menanyakan banyak masalah dan latar keluarganya yang sangat luar biasa. Ada pula yang ingin meminta dipertemukan dengan habib Alamsyah karena kerinduan di dalam dada. Tapi permintaan ini tidak terlalu berlebihan untuk Aish, sebab yang paling ekstrem hingga membuat air Aish ingin berteriak adalah ketika mendengar seorang santriwati bertanya apakah dia rela sang habib memiliki wanita lain di sisinya. Dalam artian sang habib menikah lagi. Meskipun pertanyaannya terkesan bercanda, tapi Aish menganggapnya sangat serius. Dia menjawab bahwa sang habib tidak membutuhkan wanita lain karena sudah cukup dengan dirinya sendiri. Segera wajah para santriwati berubah ketika mendengar jawabannya yang sangat serius dan bersungguh-sungguh. Namun Aish tidak peduli dan langsung melarikan diri bersama kedua sahabatnya.
"Masya Allah Aish, punya suami seorang habib ternyata nggak selamanya menyenangkan. Contohnya seperti tadi, mereka secara terang-terangan ingin menggali sudut kamu di hati habib Thalib. Terkadang perempuan di pondok pesantren polos polos, tapi terkadang juga menyeramkan karena mereka sangat berterus terang." Dira mengusap lututnya yang kram setelah berlari jauh.
"Kurasa setiap pernikahan memiliki cobaan masing-masing. Kamu belum merasakannya karena belum menikah." Kata Aish tak berdaya.
Dia sangat beruntung memiliki habib Khalid, karena dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita lain. Malah tiap kali didekati oleh wanita lain, reaksinya sangat datar dan dingin seolah-olah sedang menghadapi wabah penyakit.
Dira memutar bola matanya malas,"Iya..iya, tahu deh yang udah nikah. Beruntung banget sih kamu, Aish. Tiba-tiba aja dapat kabar udah nikah dan nikahnya sama laki-laki yang kamu cintai, hah... Tau nggak banyak banget santriwati yang cemburu gara-gara kamu." Termasuk aku. Batin Dira nelangsa.
Sayang sekali sampai sekarang hilal jodohnya belum kelihatan.
Keluarga hancur, dia merasa tidak punya rumah untuk kembali. Kalau dipikir-pikir nikah muda sepertinya lebih menyenangkan karena setidaknya, dia memiliki rumah untuk kembali.
"Dan parahnya lagi, santriwati kalau udah cemburu itu... Mereka bisa bertindak gila. His, ngeri banget ngelihat mereka ngejar-ngejar kamu dari masjid tadi." Gara-gara para santriwati itu, mereka bertiga takut kembali ke asrama. Takutnya dikerumuni lagi dan di bombardir dengan berbagi pertanyaan yang langsung membuat spot jantung.
Jangankan mereka berdua, dia sendiri yang menjadi target pengejaran merasa sangat ketakutan.
"Hust, kalau kamu jangan gede-gede. Nanti kalau di dengar sama mereka tahu rasa kalian berdua." Peringat Aish menghentikan kegilaan mereka berdua.
"Hem." Dira dan Gisel kompak melihat kesana kemari dan kebetulan bertemu pandang dengan Aira.
Aira terlihat sangat pucat dan kuyu. Tak ada senyuman lembut sangat mentari yang biasa terpapar di wajah. Kedua matanya bengkak karena lemah, tertunduk lesu menatap lantai dengan ekspresi sendu. Ketika melihat kondisi adiknya sekarang, Aish langsung terdiam. Dia tidak tahu harus bereaksi apa. Wajarnya dia bahagia melihat Aira akhirnya dihukum dan mendapatkan ganjaran atas semua kejahatan yang dilakukan selama ini kepadanya. Tapi jauh di dalam hatinya ada suara yang menolak. Bukannya bahagia, Aish merasa...sedih?
"Aira." Panggil Aish ragu-ragu.
__ADS_1
Aira mengangkat wajahnya kaget. Dia mungkin tidak menyangka kalau Aish ada di sini juga. Terlihat malu, dia segera menundukkan kepalanya pura-pura tidak mendengar panggilan dari Aish.
"Kamu mau kemana Aish?" Gisel memegang lengan Aish.
Aish melepaskan tangan Gisel.
"Aku mau ngomong sebentar sama Aira."
Gisel menoleh ke Dira, meminta bantuan dengan tatapannya.
Tapi Dira menggelengkan kepalanya. Dia tahu bahwa Aish dan Aira butuh waktu untuk berbicara. Lagi pula mereka adalah adik dan kakak, tidak selamanya mereka bermusuhan. Ada kalanya mereka bersatu sebagai keluarga yang seharusnya.
Setelah melepaskan tangan Gisel, dia berjalan pelan menghampiri Aira. Dipandangi Aira dengan hati-hati dan cermat. Kondisi Aira sekarang hanya bisa disimpulkan dengan kata menyedihkan. Wajahnya kuyu dan pucat tak bernyawa. Dengan gamis dan jilbab panjang hitam, Aira seakan kehilangan warna dalam hidupnya. Karena pakaian yang digunakan Aira merupakan pakaian yang digunakan oleh setiap orang yang akan melaksanakan hukuman cambuk. Dan hari ini Aira akan melaksanakan hukumannya di hadapan banyak orang dan dibawah pengawasan banyak pasang mata. Orang seperti Aira pasti sangat tersiksa dengan hukuman ini.
"Kak Aish ngapain datang ke sini? Kakak mau ketawain aku, yah?" Tanyanya dengan nada marah, masih dalam tunduk nya.
Suara Aira terdengar sangau karena menahan tangisannya yang siap meledak.
Aish berkedip ringan.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Aish sesak melihat kondisi Aira sekarang.
Aira menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja. Hukuman ini tidak ada apa-apanya bagiku." Jawab Aira lemah.
Aish terdiam. Tak ada lagi yang berbicara di antara mereka berdua.
Canggung, Aish meremat tangan nya gugup ingin mengatakan sesuatu kepada adiknya. Tapi sebelum dia berbicara, seseorang tiba-tiba menginterupsinya. Orang itu merupakan staf pondok pesantren yang akan membawa Aira ke balai keadilan. Melihat adiknya dibawa pergi, Aish dengan nada tertahan berbicara kepada Aira,"Jaga dirimu baik-baik."
Aira terkejut. Bulu matanya bergetar ringan. Dia tidak menyangka kalau Aish memiliki sisi ini kepadanya. Perhatian Aish membuat dada Aira menjadi sesak. Dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, pernahkah dirinya mengungkapkan perhatian yang sama saat Aish diusir dari rumah dan dikirim ke pondok pesantren?
Aira ingat kalau dia tidak pernah melakukannya. Sebab selama ini dia selalu menganggap Aish sebagai musuh imajiner nya.
Menunduk malu,"Tentu...kak." Timpalnya sebelum pergi di bawa oleh staf pondok pesantren.
Bersambung...
Panjangnya sampai 3 bab🙃, malas dibagi-bagi. Pusing.
Ngomong-ngomong author mengucapkan selamat hari raya idul Fitri, mohon maaf dan lahir batin. Tolong maafkan semua kesalahan author yang disengaja ataupun tidak disengaja, author memang tempatnya salah dan khilaf.
Dan author juga minta maaf untuk janji yang kemarin-kemarin. Niatnya mau update banyak selama bulan Ramadhan, tapi ternyata tidak bisa dipenuhi karena berbagai macam alasan. Untuk itu author minta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pembaca Mengejar Cinta Sang Habib.
Oh yah sekedar informasi buku Mahram Untuk Azira dan Muhasabah Cinta akan dilanjutkan bulan depan, dan mulai hari ini author juga nggak akan update banyak. Dalam artian author nggak mau suwir suwir bab nya seperti bulan-bulan kemarin. Misalnya hari ini saya nulis 4.000 kata, maka saya akan jadikan 1 bab tanpa dibagi-bagi. Jadi kalau para pembaca mau baca banyak, ya... katanya yang saya banyakin bukan bab nya. Terima kasih atas perhatian semuanya. Sekali lagi saya ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1