
Gisel dan Dira duduk di samping Aish memandangi kalender yang telah lama Aish perhatikan tanpa mempedulikan sekelilingnya.
Ia terlihat sangat khusyuk saat menatap ke sana dan membuat kedua sahabatnya khawatir.
Ulang tahun?
Aish tersenyum kecut. Alangkah baiknya jika itu adalah hari ulang tahun. Namun sayangnya itu adalah hari duka untuk dirinya.
"Mamaku meninggal 16 tahun yang lalu tepat di hari itu." Bisik Aish tanpa kehilangan senyum di wajahnya.
Dira dan Gisel tercengang. Mereka saling pandang dan diam-diam berbagi pemahaman.
"Maaf, kami tidak tahu." Kata Dira menyesal.
__ADS_1
Jika ia tahu, maka Dira tidak akan mengambil inisiatif untuk mengatakannya sebab itu adalah jurang luka yang tidak busa ditutupi oleh Aish.
Aish menggelengkan kepalanya tidak terlalu memikirkannya.
"Tidak masalah, lagipula sudah 16 tahun berlalu dan aku sudah tidak terlalu sedih lagi." Kata Aish santai.
Jika...jika saja Mamanya meninggal tanpa dikhianati maka mungkin Aish tidak akan terlalu memendam rasa sakit ini. Namun nyatanya Mama meninggal karena dikhianati suami, sahabat, dan keluarga suaminya yang membuat Aish sangat tidak rela.
Ia tidak rela, sungguh. Rasa sakitnya seolah-olah yang dikhianati adalah dirinya sendiri. Tak terbayang betapa sedihnya Mama saat itu. Hanya saja sayang sekali ia tidak bisa membenci mereka yang telah mendorong Mamanya sampai ke posisi itu.
"Aish, lalu apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Gisel hati-hati.
Awalnya dia selalu punya rencana dihari itu. Tapi tiba-tiba dikirim ke sini membatasi aktivitasnya. Ia tidak bisa lagi datang menemui Mama.
__ADS_1
"Aku sekarang 18 tahun.." Aish menggigit bibirnya pahit.
"Aku mau bicara sama Mama kalau aku udah besar dan dewasa, aku bisa membuat keputusan untuk diriku sendiri sekarang. Aku mau ngomong ini ke Mama, tapi sepertinya aku enggak bisa karena kita sekarang ada di pondok pesantren. Jadi...aku tidak tahu harus berbuat apa dihari itu." Sambungnya berbicara.
Gisel dan Dira saling melirik, menggelengkan kepala, mereka berdua juga tidak bisa berbuat apa-apa sebab situasi mereka berdua pun tidak jauh berbeda dari Aish.
"Kalau begitu doakan saja dari sini, Aish. Allah pasti akan dengerin apa yang kamu bilang dan Allah juga akan menyampaikannya ke Mama kamu." Kata Dira memberikan solusi.
Gisel mengangguk setuju,"Aku juga begitu, Aish. Kamu juga tahu kan kalau orang tuaku dikebumikan di luar kota dan butuh banyak waktu untuk datang mengunjungi mereka. Aku enggak sanggup dan takut pergi sendirian keluar kota. Sesekali aku datang berkunjung, tapi selebihnya aku enggak terlalu berani dan memutuskan untuk mendoakan mereka lewat rumah saja." Cerita Gisel mengingat hari-hari sepinya di kota dulu.
Sepintas senyuman samar kedua orang tuanya yang telah lama menghilang dari dunia ini berkelebat di dalam kepalanya. Ia rindu, bahkan sangat merindukan mereka. Namun karena jarak yang jauh kadang membatasi rindunya terpuaskan.
"Yah...aku juga berpikir begitu." Gumam Aish seraya menggenggam tangan Gisel dan Dira.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua, Aish mungkin tidak akan bisa sedamai ini.
Terima kasih, sahabatku. Untungnya aku masih punya kalian saat melewati hari itu dan Mama pasti ikut merasa senang untukku, karena aku akhirnya tidak terlalu kesepian lagi. Batin Aish merasa beruntung karena ada Gisel dan Dira di sampingnya saat ia benar-benar terpuruk.