Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (10)


__ADS_3

"Coba lihat baik-baik, Bu. Aku menulis semua harganya di sana. Dan ibu bisa mengkonfirmasinya dengan menimbang ulang semua bahan makanan yang aku beli. Semuanya pas tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang dilebih-lebihkan." Kata Gisel dengan nada yang meyakinkan.


Juru masak tersenyum lebar. Sepanjang mereka berdua berbicara, dia diam saja menyimak pembicaraan. Tujuannya ingin melihat seberapa tenang Gisel menghadapi kecurigaan dari seniornya.


Sementara itu, wanita yang menuduh Gisel menggunakan dana dapur untuk berbelanja diam-diam menurunkan tangannya dari belanjaan Gisel. Dia merasa telah meninju sebuah kapas. Rasanya tidak menyenangkan tidak mendapatkan balasan, dan malah mendapatkan serangan balik.


"Sesuai dengan harga yang ibu tulis. Tidak ada kesalahpahaman. Uangnya juga tidak berkurang ataupun menghilang. Semuanya sesuai." Kata juru masak kepada semua orang.


Lalu matanya beralih menatap Gisel. Berapa kali pun dia melihat Gisel, dia tidak akan pernah bosan.


Wanita itu tidak lagi berani tersenyum. Dia sangat malu. Tuduhannya ternyata tidak benar.


"Terima kasih, nak. Ibu puas dengan misi hari ini. Lain kali ibu akan memintamu ke pasar lagi. Apakah kamu keberatan?"


Mana mungkin Gisel keberatan. Karena pergi ke pasar hari ini dia bisa bertemu dengan Danis dan makan bersama.


"Tidak, Bu. Aku tidak keberatan. Aku malah sangat bersedia. Sebelumnya aku minta maaf kepada ibu. Soalnya sambil pergi ke pasar tadi, aku juga membeli beberapa barang." Gisel tidak enak hati.


Kalau sembunyi-sembunyi sih tidak masalah. Tapi hari ini masalahnya apa yang dia beli di pertontonkan di atas meja.


"Tidak masalah selama kamu kembali tepat waktu. Ibu tidak melarang kamu berbelanja." Kata juru masak tidak mau ambil pusing.


Kebetulan Laras masuk ke dalam dapur setelah mendapat kabar dari rekan kerjanya kalau Gisel hampir saja dituduh menggelapkan dana dapur.


"Bu, Ini semua salahku. Akulah yang membujuk Gisel untuk belanja di pasar. Dan aku bisa menjadi saksinya, kalau Gisel tidak pernah menyentuh dana dapur. Malah ketika membeli barang tadi, Gisel ingin menggunakan uang pribadinya tapi aku dan Danis segera melarang." Memang benar bahwa ketika berbelanja tadi Gisel sempat takut uangnya tidak cukup dan ingin mencopot beberapa lembar dari dalam tasnya. Tapi Laras dan Danis melarang aksinya.


"Hahahah... Jangan terlalu gugup. Semuanya sudah diperjelas. Dan Gisel, lain kali jangan coba-coba menggunakan uang pribadi kamu. Pondok tidak mau berhutang, mengerti?"


Gisel menganggukkan kepalanya malu-malu.


"Mengerti, Bu."


"Ya sudah. Ambil sarapan kalian dan kembali ke kamar untuk beristirahat sebentar. Nanti setengah jam kemudian datang kembali ke sini untuk membantu." Instruksi juru masak kepada mereka.


Gisel dan Laras dengan patuh mengambil sarapan yang telah disiapkan untuk mereka. Sebelum pergi ke kamar, Gisel mengambil barang belanjaannya dulu dan dibantu oleh Laras.


Orang yang sempat mencari masalah kepada Gisel tidak meminta maaf kepadanya. Dia malah bersikap biasa di depan Gisel seolah-olah tidak terjadi apapun. Namun sejujurnya setelah episode kecil ini, Gisel merasa tidak nyaman dekat dengan wanita ini. Bodoh bila dia tidak tahu kalau wanita ini tidak menyukainya.


...*****...

__ADS_1


Hari ini berlalu begitu saja. Masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang spesial kecuali beberapa konfrontasi dengan wanita yang tidak menyukainya. Tapi Gisel selalu melewatinya dengan tenang.


Lalu beberapa hari kemudian. Dia tidak sengaja bertemu dengan laki-laki tinggi dan gadis kecil yang dia temui di rumah sakit dulu. Ah, laki-laki itu juga pernah membantunya keluar dari pasang surut emosinya pada saat itu.


"Kakak cantik.... Kakak cantik ada di sini!" Gadis kecil itu melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Gisel.


Gisel dan beberapa orang yang tengah berkumpul sontak menoleh ke arah gadis kecil itu. Mereka semua tertegun, hati mau tidak mau tergelitik melihat penampilan gadis kecil yang centil juga imut berlari kencang ke arah mereka.


"Anak siapa ini?"


"Sangat imut... Lihat bajunya yang centil, ya Allah tanganku gatal ingin menyentuh pipinya."


Beberapa suara-suara di sekelilingnya masuk ke dalam pendengaran Gisel.


"Sina... Kenapa kamu ada di sini, Nak? Di mana orang tuamu?" Gisel buru-buru menangkapnya agar tidak jatuh.


Ternyata Gisel masih mengingat siapa nama gadis itu. Sina. Gisel ingat seseorang memanggil gadis kecil itu dengan sebutan nama ini.


"Kakak cantik... Sina sangat melindukan, kakak. Sina sudah lama ingin beltemu dengan kakak cantik. Tapi papa tidak mau membawa Sina ke sini kalena dia selalu sibuk!" Keluh Sina kepada Gisel.


Gisel sama sekali tidak menyangka Sina masih mengingatnya. Soalnya sudah berbulan-bulan lamanya mereka berdua tidak bertemu. Dan selain itu Sina juga masih kecil. Seharusnya dia melupakan pertemuan kecilnya dengan Gisel.


Dan jika mereka tidak menemukan keberadaan Sina, mereka berdua pasti panik dan mencari Sina ke mana-mana.


"Papa lagi ngomong sama paman, kakak cantik. Kalau mama Sina nggak tahu. Sina belum pelnah ketemu sama mama."


Mendengar suara Sina berbicara, entah kenapa Gisel merasa lucu. Soalnya terakhir kali dia ngomong sama Sina, dia ingat Sina bisa menyebut huruf r. Tapi kenapa hari ini dia tiba-tiba berubah menjadi cadel?


Mungkin salah makan.


"Oh, kamu pasti merindukan mama kamu." Kata Gisel prihatin.


Mungkin mama Sina sedang keluar kota atau melakukan perjalanan bisnis sehingga mereka belum bertemu.


"Gisel, anak siapa ini?" Seseorang tidak tahan lagi melihat interaksi mereka.


Mereka juga ingin berbicara dengan Sina. Gadis kecil yang imut dan centil.


"Aku nggak tahu ini anak siapa, aku nggak kenal orangnya. Tapi aku sudah bertemu dua kali dengan orang tuanya. Nama gadis kecil ini Sina. Ini sudah kedua kalinya aku bertemu dengannya di pondok pesantren. Dia bilang pamannya mondok di sini, mungkin itu alasannya sering ke sini." Jelas Gisel tidak begitu jelas dengan keluarga Sina.

__ADS_1


Lagi pula dia sudah lama melupakan Sina dan orang tuanya. Dan baru ingat kembali ketika melihat Sina. Tapi ngomong-ngomong, dia nggak penasaran siapa paman Sina di pondok pesantren ini. Mungkinkah dia mengenal orang itu?


"Oh... Dia kerabatnya salah satu santri yang sedang mondok di sini." Mereka tidak bereaksi banyak.


Nama salah satu orang ragu-ragu berkata,"Sepertinya aku pernah melihat gadis kecil ini dengan seseorang. Dia santri di sini. Tapi apakah aku tidak salah lihat, ya?"


Dia merasa pernah melihat Sina di suatu tempat bersama seorang santri. Namun dia tidak yakin. Karena itu sudah lama sekali.


"Siapa?" Orang-orang penasaran.


Mungkin saja santri itu adalah salah satu orang yang mereka kenal. Jangankan mereka, Gisel pun ikut penasaran.


Orang itu ragu-ragu akan menjawab.


"Um...kalau tidak salah..." Dia mencoba mengingat dengan baik siapa orang itu.


Tapi tiba-tiba Laras datang ikut bergabung dengan mereka.


Setelah makan siang mereka tidak punya pekerjaan dan seringkali berkumpul di bawah pohon daripada menganggur tidak mengerjakan apa-apa di dalam kamar.


"Apa yang sedang kalian bicarakan- lho, ini kan keponakannya Danis. Kenapa dia ada di sini?" Kaget Laras melihat Sina.


Ketika semua orang tahu kalau Sina adalah keponakan Danis, mereka langsung menatap Sina dengan tatapan terik. Bahkan Gisel mau tidak mau ikut memikirkannya. Jika dia memiliki hubungan yang dekat dengan Sina, maka mungkinkah Sina dapat membantunya dekat dengan Danis?


Misalnya memberikan sepatah dua patah untuk menyanjungnya. Bisakah itu terjadi?


Hati Gisel berdebar kencang dengan perasaan harap-harap cemas di dalam dada. Ugh, dia juga serakah dalam urusan hati. Apalagi baru-baru ini hubungannya dengan Danis mulai dekat. Bolehkah dia berharap sedikit saja?


"Ini keponakannya Danis... Apakah yang kamu katakan benar, Laras? Kenapa aku tidak melihat kemiripan di wajahnya?" Tanya seseorang heran.


Dari sudut mata, bibir, hidung bahkan alis, dia tidak melihat Sina memiliki kemiripan dengan Danis.


Laras memutar bola matanya tak habis pikir.


"Ini bukan anaknya Danis tapi keponakannya Danis. Kenapa mereka harus mirip? Selain itu yang punya anak adalah sepupunya Danis. Bayangkan seberapa jauh jarak mereka?" Laras menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Pikiran orang-orang ini, bagaimana mungkin dia tidak tahu. Cek, giliran urusan Danis, mata mereka langsung bersinar terang.


"Gisel, kamu kenal sama anak ini?" Laras kembali terkejut.

__ADS_1


Ternyata teman sekamarnya sangat pro dalam urusan romantis. Tidak hanya dekat dengan Danis, tapi juga dekat dengan keponakan Danis. Cek, perlahan-lahan keluarga Danis akan didekati oleh Gisel. Tapi itu tidak apa-apa. Itu adalah perjuangan Gisel. Dia tidak pantas menghakimi. Toh, setiap orang memiliki impian di hati masing-masing.


__ADS_2