
"Sebelumnya kami sempat mendengar jika kalian berencana untuk melewatkan sholat isya."
Dira dan Gisel langsung lupa bagaimana caranya bernafas ketika mendengar perkataan habib Khalid. Di dalam hati mereka bertanya-tanya apakah hidup mereka setidak beruntung itu karena tiap kali merencanakan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu, habib Khalid secara kebetulan menemukan mereka. Lupakan bagaimana caranya melarikan diri dari tempat ini karena dengan keberadaan master mawar berduri di sini, semua impian mereka untuk melarikan diri dari pondok pesantren hanyalah angan-angan belaka. Lihat saja sekarang, dalam satu hari mereka ditegur, dimarahi, dan telah mendapatkan hukuman pahit di dapur umum. Belum lagi besok ada hukuman utama, yaitu mencuci kamar mandi asrama putri. Jujur saja, mereka langsung lupa bagaimana cara mengeluh di remote ini.
"Maaf, habib mungkin salah dengar." Aish, gadis yang paling masuk akal diantara mereka bertiga langsung membantah.
"Benar, habib. Kita enggak pernah ngomong gitu." Kata Dira buru-buru berbicara.
Habib Khalid tersenyum lembut tanpa memperhatikan ekspresi aneh orang-orang di belakangnya. Mereka memang tidak mendengar apa yang ketiga santriwati ini bicarakan karena mereka baru saja datang. Tapi mereka percaya apa yang baru saja habib Khalid katakan sebab dia tidak mungkin berbohong atau salah terdengar.
Cuma ini terlihat sedikit aneh karena mereka agak terkejut melihat ada tiga santriwati nakal yang berencana ingin melewatkan sholat. Bukankah itu jarang terjadi di pondok pesantren dan khususnya sangat tabu?
"Mungkin, aku mungkin salah mendengarnya. Sholat adalah tiang agama, penghubung kita dengan Sang Pencipta jadi selaku hamba yang berusaha untuk terus memperbaiki diri, tidak seharusnya kita meninggalkannya walaupun hanya melewatkan satu waktu. Di pondok pesantren kita," Habib Khalid menjeda ucapannya sebentar. Menyapu pandangannya melihat mereka bertiga dengan senyuman yang perlahan menghilang sedikit demi sedikit dari bibirnya.
"Orang yang tidak sengaja melewatkan sholat akan di denda sekian rupiah sebagai sanksi namun lain halnya dengan orang yang sengaja melewatkan sholat. Di sini mereka akan dijemur di bawah sinar matahari seharian terlepas betapa triknya sinar matahari itu. Sanksi ini bertujuan agar mereka merenungi kesalahan yang dilakukan dan mengimajinasikan betapa panasnya siksa neraka melalui triknya sinar matahari. Sinar matahari siang saja sudah sangat membakar dan panas, apalagi bila berhadapan dengan api neraka sungguhan diakhirat kelak, naudzubillah, panasnya sungguh tidak terkira kan. Kalian tidak mau kan merasakan bagaimana sakit dan panasnya hukuman Allah kelak?" Ucap habib Khalid berbicara dengan nada yang sangat tenang kepada mereka bertiga.
__ADS_1
Mereka bertiga tertegun- tidak, mungkin lebih tepatnya yang paling merasa ketakutan di sini adalah Dira dan Gisel. Seketika mereka mulai mengingat dosa-dosa yang telah mereka lakukan dalam hidup ini dan semua sholat yang telah terlewati dengan sengaja, sungguh sangat menakutkan. Mereka tidak berani membayangkan diri berada di dalam tungku api neraka. Bagi semua orang Islam, neraka adalah serendah-rendahnya tempat dan sehina-hinanya tempat. Sehingga siapapun yang masuk ke sana-
"Kalau berjemur seharian di bawah sinar matahari kulit kita jadi gosong." Keluh Dira tiba-tiba teralihkan.
Kening Gisel mengkerut pahit,"Demi perawatan kulit, aku bahkan rela ngabisin uang tabungan ku setiap bulan. Jadi mana rela aku disuruh berjemur di bawah matahari?" Kata Gisel gondok, dia tidak mau membayangkan semua perawatannya menjadi sia-sia.
Hei, demi menjadi cantik dan kinclong, mereka berdua sering pergi ke klinik kecantikan Benung's yang dikatakan sebagai klinik kecantikan paling canggih di negeri mereka yang makmur. Masuk ke sana tidak main-main mahalnya. Mereka harus merogoh kantong hampir 100 juta sekali perawatan!
"Ho'oh. Ngomong-ngomong di kota ini ada klinik Benung's, enggak? Kalau ada aku mau mampir." Tanya Dira ke Gisel.
"Kurang tahu. Soalnya aku ke sini baru pertama kali."
"Duh sayang banget kalau enggak ada, walaupun mahal tapi hasilnya bagus banget." Desah Dira pahit.
Sementara mereka asik mengobrol, Aish yang ada di samping mereka diam-diam mengusap puncak hidungnya canggung. Kedua temannya ini benar-benar tidak merasakan perasaan krisis. Padahal jelas-jelas habib Khalid sedang mengingatkan mereka dengan murah hati agar tidak melakukan rencana itu lagi sehingga mereka tidak mendapatkan hukuman lainnya.
__ADS_1
Jadi habib Khalid seharusnya mendengar pembicaraan Dira dan Gisel. Batin Aish menebak.
"Kami tidak mau, habib. Kami tidak berani memikirkan hukuman Allah kelak." Kata Aish canggung.
Apakah dia seharusnya berterima kasih karena sudah diingatkan dengan murah hati?
"Bagus. Kalian baru saja keluar dari dapur umum setelah menyelesaikan hukuman. Maka kalian bertiga seharusnya belum sholat isya, kan?" Kata habib Khalid dengan senyuman lebar di wajahnya.
Mulut Aish langsung berkedut.
"Benar, habib. Setelah ini kami akan langsung mengambil air wudhu dan sholat di asrama." Kata Aish entah mengapa merasa kelelahan karena diselidiki terus menerus oleh habib Khalid.
"Kalau begitu segera lah kembali sebelum gerbang asrama kalian dikunci." Kata habib Khalid mengingatkan.
Aish dan dua lainnya langsung menganggukkan kepala mereka kompak. Mengucapkan salam kepada habib Khalid dan yang lainnya, Dira dan Gisel langsung memutar langkah secepat yang mereka bisa seolah-olah sedang menghindari wabah berbahaya.
__ADS_1
"Tunggu." Suara Danis menghentikan langkah mereka bertiga.