Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 24.4


__ADS_3

"Badanku agak gerah...dan sedikit tidak nyaman." Jawab kak Khalid sembari menatapku.


Tapi mengapa mata kak Khalid agak berbeda ketika melihat ke arah ku?


Apa ini cuma perasaanku saja kalau kak Khalid sepertinya menginginkan ku. Sungguh, ini adalah perasaan ketika kamu didambakan dan dirindukan oleh seseorang, seakan-akan kamu ingin diterkam oleh orang tersebut, inilah yang aku rasakan sekarang. Karena perasaan diinginkan ini, wajahku jadi panas dan aku tidak berani menatap langsung ke arahnya.


Tatapan kak Khalid terlalu panas dan sama sekali tidak disamarkan.


"Aku pikir kak Khalid membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jadi lebih baik-"


"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa." Dia berkata tidak apa-apa tapi suaranya semakin berat saja.


Aku tidak setuju.


"Benar habib Thalib, kamu harus segera beristirahat karena kamu mungkin sedang tidak enak badan. Jangan terlalu memaksakan diri karena aku masih bisa berbicara dengan Aish di sini sambil menunggu kedatangan tamu yang lainnya." Kakekku berusaha membujuk kak Khalid untuk segera pergi beristirahat.


"Benar, apa yang dikatakan oleh Kakek. Lebih baik sekarang kakak pergi beristirahat dulu di kamar." Bojoku kepadanya.


Aku tidak kuat jika ditatap terus sama kak Khalid sepanas ini. Soalnya pikiranku berselancar ke mana-mana. Aku takut bila kak Khalid mengetahui isi pikiranku tentang dirinya.


"Aku hanya butuh mandi sebentar....dan minum lebih banyak air. Tolong tunggu aku di sini." Setelah berbicara begitu dia pamit kepadaku dan Kakek sebelum keluar dari ruang tamu.


Hufh... Aku lega melihatnya pergi.


Jika tinggal di sini lebih lama lagi, lututku pasti akan lemas. Ah, salah kan kak Khalid yang tidak bisa menahan pandangannya kepadaku.


"Lihat Kakek, dia adalah laki-laki yang sangat perhatian dan baik. Ketika sedang sakit pun dia masih memikirkan kita, bagaimana bisa aku tidak jatuh hati kepadanya?" Ucapku bangga kepada Kakek.

__ADS_1


Lihatlah calon suamiku, dia memiliki semua yang didambakan oleh banyak wanita. Dan aku sangat bangga karena wanita beruntung yang bersanding dengannya adalah diriku.


"Nak, Kakek sudah melihatnya dan Kakek bangga kepadamu. Kakek akhirnya mengerti kenapa Mamamu mempercayakan kamu kepadanya alih-alih mempercayai keluarga yang lain. Tapi bolehkah Kakek bertanya, sejak kapan kamu memanggilnya dengan sebutan 'kak Khalid '? Apakah dia tidak marah kepadamu?" Ekspresi Kakek melihat ke arah agak aneh.


Kakek mungkin heran melihatku memanggil kak Khalid seperti ini, tidak hanya Kakek yang heran tapi hampir semua orang yang mendengarnya juga heran. Mereka penasaran mengapa aku memanggil kak Khalid dengan sebutan intim, sedangkan mereka tidak boleh.


Dulu aku tidak tahu sekaligus heran, tapi sekarang aku mengerti.


"Aku sudah memanggilnya seperti ini sejak kami pertama kali bertemu di kota dulu. Dan kak Khalid tidak marah, malah dia tidak suka mendengarku memanggilnya dengan panggilan gelarnya. Setiap kali aku keceplosan memanggilnya dengan panggilan 'habib Thalib', dia pasti tidak senang dan akan menghukum ku. Kakek bingung kan? Hehe... Aku juga awalnya bingung. Tapi sekarang aku mengerti Kakek. Itu karena dia menganggapku spesial. Memangnya alasan apa lagi selain alasan ini?" Kataku di selingi tawa.


Melihatku tertawa, Kakek juga ikut tertawa. Wajah tuanya terlihat sangat bahagia hari ini. Dia terlihat berbeda, dan jauh lebih ceria daripada pertama kali kami bertemu tadi. Aku sangat lega karena Kakek akhirnya bisa tersenyum lepas.


"Tapi apakah Kakek tahu bila adikku juga menyukai kak Khalid? Ayah dan Bunda mendukung perasaan adikku kepadanya. Aku mendengar jika mereka akan berusaha mencari koneksi untuk menjodohkan adikku sama kak Khalid. Aku tahu bahwa itu mustahil terjadi karena kami sudah bertunangan. Dan kak Khalid tidak mungkin menerima perjodohan ini sebab orang yang dia sukai bukanlah adikku tapi diriku. Namun tetap saja Kakek, aku masih kepikiran masalah ini. Apalagi keluarga berpihak kepada adikku, mungkinkah mereka akan memaksaku berpisah dan membiarkan adikku menggantikan posisiku?" Ini terdengar lucu seperti yang ada di dalam sinetron sinetron atau novel, namun memang beginilah adanya.


Jika seseorang sudah putus asa dan terjebak dalam keserakahan, cara apapun bisa dilakukan. Aku percaya bahwa keluargaku akan memiliki reaksi ini ketika mengetahui bila aku dan kak Khalid sudah bertunangan. Aku tidak meragukannya.


"Uhuk...uhuk... Jangan pikirkan masalah itu, Nak. Suami- maksud Kakek kekasih kamu itu bukanlah orang yang mudah disinggung. Dia tidak bisa dikendalikan oleh keluarga Kakek ataupun orang lain karena dia memiliki pendiriannya sendiri. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya dah serahkan semuanya kepada dia. Ada juga Kakek yang siap membela kamu kapan saja. Dengan keberadaan Kakek, Ayah mu atau siapapun di keluarga itu tidak akan bisa berbuat apa-apa kepadamu lagi. Terutama dalam masalah hubungan ini."


"Aku senang mendengarnya. Dengan Kakek dan dia aku tidak perlu khawatir lagi."


"Assalamualaikum?" Seseorang memberikan salam.


Mungkin itu adalah tamu yang ditunggu oleh Kakek. Tapi segera pergi membuka pintu depan. Ternyata yang datang adalah wanita asing itu bersama laki-laki yang dikira pelayan. Seorang pelayan tidak mungkin berpegangan tangan dengan majikannya, jadi sudah pasti identitas laki-laki itu adalah suami dari wanita ini.


Benar, wanita ini memiliki hubungan dengan ku. Mungkinkah tujuannya datang ke sini adalah untuk menemui ku?


"Waalaikumsalam. Mari masuk." Aku membuka pintu lebar dan mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam.

__ADS_1


Wanita itu melepaskan tangan laki-laki itu darinya. Tersenyum lebar, dia lalu berjalan menghampiri ku dan meraih tanganku.


Aku terkejut tetapi tidak menepis tangannya.


"Aish sekarang sudah besar. Dia sama cantiknya dengan kakakku."


Ah,


Apakah dia adalah adik dari Mamaku? Adik kandung Mamaku?


Maka aku seharusnya memanggil wanita ini sebagai bibi?


"Aku..."


"Ayo masuk ke dalam. Kita punya banyak waktu untuk membicarakannya." Mungkin melihat kebingunganku, dia segera menarikku masuk ke dalam.


Dan saat kami masuk, Kakek tidak bereaksi bingung. Tampaknya Kakek tahu dari awal mengenai kedatangan wanita ini.


"Om, sudah lama sekali. Terakhir kali kita bertemu saat kakakku menikah ke rumahmu."


Kakek tersenyum tipis, matanya meredup.


"Kakak mu dianiaya di rumahku, aku merasa sangat bersalah."


Wanita itu- tidak, katakan saja bibiku. Dia masih memiliki senyuman lembut di wajah cantiknya.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Om. Kami tahu bahwa Om sudah berusaha keras menyelamatkan pernikahan kakakku, tapi memang putra Om yang bermasalah. Untuk itu kami sudah lama mengikhlaskannya-"

__ADS_1


AKHHH


"TOLONG HABIB THALIB INGIN MEMPERKOSA KU!"


__ADS_2