Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.1


__ADS_3

...Apapun yang menjadi takdirmu pasti akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu....


...Ali Bin Abi Thalib...


...*****...


Melihat semua orang bergegas pergi menuju kantor pondok pesantren tempat di mana sidang dilaksanakan, mereka bertiga dengan kompak pergi menyusul. Hari biasanya semua santriwati berjalan dengan langkah ringan namun pasti, mereka tidak tergesa-gesa ataupun terburu-buru segenting apapun kesibukan mereka. Keanggunan akan selalu mengikuti. Tapi pagi ini semuanya berubah 180 derajat. Tak satupun yang berjalan pelan-pelan. Mereka semua bahkan sampai berlari takut ketinggalan sidang. Melihat pemandangan ini mereka bertiga terpacu untuk bergegas secepat mungkin menuju kantor staf pondok pesantren. Terutama bagi Aish yang memiliki kepentingan paling besar di antara mereka semua. Bagaimana hatinya tidak gugup, hari ini adalah persidangan kekasihnya. Meskipun habib Khalid tidak bersalah dan memiliki bukti yang sangat kuat, tapi ini tidak bisa membuat Aish merasa tenang. Dia sangat mengkhawatirkan belahan jiwanya itu.


"Hei, jangan gugup. Kita semua tahu kalau habib Thalib tidak akan mendapatkan sanksi apa-apa di dalam persidangan ini, yang ada malah Aira yang akan dihukum oleh Abah. Kamu tenang saja, okay?" Gisel menepuk pundak sahabatnya yang tengah diliputi rasa gugup.


Aish tersenyum tipis. Matanya terbuka lebar memandangi bangunan kantor staf pondok pesantren yang semakin dekat setiap kali mengambil langkah. Kantor itu sangat ramai, halaman depan sepenuhnya dikelilingi oleh santri dan santriwati. Aish perhatikan baik staf kedisiplinan asrama putri maupun asrama laki-laki sibuk mengorganisir orang-orang yang sedang mengelilingi kantor. Mereka berusaha menjaga jarak memisahkan dua jenis kelamin agar jangan bersentuhan ataupun sampai bercampur. Demi menjaga keamanan, mereka rela membuat baris memanjang sebagai tembok pembatas di antara dua kubu.


"Aish!" Saat Aish akan masuk ke dalam keramaian, dia tiba-tiba dipanggil oleh Nasifa.


Aish saling melihat dengan kedua sahabatnya.


"Pergi." Ajak Gisel sambil melangkah duluan menuju Nasifa.


Nasifa tengah berdiri di samping pintu besi yang jarang dibuka di hari biasa. Dengar-dengar pintu itu digunakan khusus keluarga Abah dan Umi ketika menghadiri kegiatan-kegiatan urgensi seperti hari ini.

__ADS_1


"Kenapa, kak?" Tanya Aish sopan.


Nasifa menunjuk pintu di sampingnya,"Abah bilang kalian bertiga bisa lewat sini." Katanya.


Gisel dan Dira terkejut. Mereka mendapatkan perlakuan khusus.


"Apa kami benar-benar boleh, kak?" Tanya tidak bersemangat.


Nasifa mengangguk tanpa kehilangan senyum manis di wajah cantiknya.


"Boleh, ini khusus untuk kalian bertiga. Mari masuk sebelum kalian diperhatikan oleh anak-anak yang lain." Desak Nasifa.


Karena Nasifa mengatakan begitu, mereka bertiga tidak akan menolak kebaikan ini. Masuk ke dalam ruangan, mereka langsung dibuat tercengang oleh orang-orang yang ada di dalam ruang. Rata-rata dari mereka tidak dikenal oleh mereka bertiga dan dengar-dengar mereka semua adalah pembesar pondok pesantren, dengan kata lain mereka adalah kerabat Abah dan Umi. Selain mereka, Aish mengenali beberapa orang seperti paman dan bibinya, lalu Pak Man bawahan pribadi habib Khalid, dan... Ketika melihat kelompok orang itu, bulu mata Aish tanpa sadar bergetar. Dia tidak mau menangis, tapi mau tak mau matanya terasa perih. Sedih saja memikirkan betapa kompak keluarga itu ketika Aira memiliki masalah, sedangkan dirinya?


"Di mana habib Thalib?" Dira celingak-celinguk menatap orang-orang di sekelilingnya.


Tapi sosok habib Thalib tidak terlihat.


Nasifa menjawab,"Segera datang." Beberapa detik setelah dia berbicara, terdengar suara riuh di luar. Baik santri maupun santriwati bersorak meneriakkan takbir. Jantung Aish langsung berdebar kencang.

__ADS_1


Kedua tangannya mengepal gugup menantikan sang pujaan hati datang.


"Assalamualaikum.." Suara berat dan lembut itu memasuki pendengaran mereka, lalu seorang pemuda tampan dan tinggi berjalan masuk ke dalam ruang sidang dengan gagah berani tanpa rasa takut sedikitpun di dalam matanya.


"Kak Khalid..." Panggil Aish merindu.


Seolah mendengarkan suara kerinduan Aish, sang habib memalingkan wajah melihat tepat ke arahnya. Sebuah senyuman lembut adalah sapaan terhangat pagi ini. Sang habib seolah mengatakan bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi selama dia ada di sini.


Wajah Aish langsung terasa panas. Dia spontan menundukkan kepalanya, tak bisa menahan naluri perlindungan diri dari tatapan dalam sang kekasih.


"Eh, habib Thalib masih sempat aja tebar pesona ka Aish." Ledek Dira sempat menangkap interaksi mereka berdua.


Aish cemberut, dia memukul pundak sahabatnya sebagai peringatan,"Diam."


"Okay...okay." Ucap Dira main-main.


Sementara Nasifa telah melihat semuanya. Hatinya tidak terlalu nyaman melihat interaksi mereka berdua. Habib Khalid tak pernah melakukan ini kepadanya dulu. Jangankan tersenyum selembut itu, menatapnya saja habib Khalid begitu enggan. Setelah bertahun-tahun menggantung dalam rasa penasaran yang tak terjawab, dia menebak bahwa gadis yang membuat sang habib tak bisa berpaling dan bahkan menerima wanita kedua di dalam hati mungkin saja adalah gadis yang kini tengah berdiri di depannya.


Kemarin habib Thalib memang meminum obat-obatan terlarang tapi dia bisa mengendalikan tubuh dan pikirannya agar tidak jatuh dalam efek obat. Semua orang di rumah melihat bagaimana habib Thalib menarik Aish ke dalam pelukannya, aku tahu bahwa itu adalah reaksi murni habib Thalib tanpa melibatkan obat-obatan terlarang yang dia minum. Artinya habib Thalib memang ingin menyentuh Aish, melihat interaksi mereka berdua, aku bertanya-tanya mungkinkah gadis yang selalu habib Thalib bicarakan adalah Aish? Batin Nasifa terguncang.

__ADS_1


"Semuanya sudah ada di sini, persidangan dapat kita mulai." Lamunan Nasifa buyar ketika mendengar suara lantang salah satu staf kepercayaan Abah membuka sidang hari ini.


Setelah membaca berbagai macam doa dan salam, sidang akhirnya benar-benar dimulai. Tapi baru saja staf selesai berbicara, keluarga Aira segera berbicara. Dengan lantang mereka menuntut keadilan untuk Aira.


__ADS_2