Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 14.7


__ADS_3

Sepulang sekolah, Aish, Dira, dan Gisel langsung mampir ke kantin asrama untuk makan siang setelah meletakkan tas sekolah di asrama. Mereka bertiga sering bercanda, menertawakan hal-hal kecil dan juga sangat menikmati makanan yang disajikan oleh pondok pesantren. Dan betapa beruntungnya mereka hari ini karena makan siang mereka sangat kaya dan menggugah selera. Ada beberapa potong rendang sapi di masing-masing piring lengkap dengan telur dadar dan beberapa tumis sayuran. Di samping piring masing-masing santri, dapur umum telah menyiapkan semangkuk kecil sup bening yang sangat cocok untuk menu hari ini. Tidak hanya kelompok Aish, namun semua orang di pondok pesantren sangat puas dengan menu makan siang mereka hari ini.


Di sela-sela makan siang, mereka bertiga membicarakan kejadian tadi siang di sekolah dengan nada-nada penuh gosip.


"Serius habib Thalib bilang gitu sama kamu?" Tanya Dira tidak percaya.


Entah mengapa dia merasa jika habib Khalid berbeda dengan laki-laki lainnya. Sewajarnya kan seorang laki-laki akan langsung menolak atau kalau tidak menerimanya. Tapi habib Khalid justru tidak bermain kartu semestinya yang sangat aneh.


Aish tersenyum malu. Wajah gembil nya langsung merona terang saat memikirkan percakapan manisnya dengan sang habib.


"Hu'um. Kak Khalid bilang aku bisa mengejarnya." Katanya dengan suara malu-malu.


"Aneh. Tapi selamat ya, Aish. Kamu dapat lampu hijau tuh dari habib Thalib. Jadi kamu enggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." Gisel juga merasa aneh.


Tapi dia turut senang dengan kemajuan hubungan sahabatnya. Setidaknya, hubungan mereka selangkah lebih jauh daripada dirinya yang masih stuck di tempat.


Benar, Gisel belum pernah bertemu lagi dengan Danis. Dengar-dengar Danis izin pulang karena suatu urusan dan tidak akan kembali hingga beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Gisel merindukannya.


"Ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Aku mana mungkin menyia-nyiakannya." Janji Aish serius.


Sedang asik mengobrol, tiba-tiba meja mereka dihampiri oleh Nadira. Mereka terlalu terbawa saat mengobrol dan tidak menyadari bila orang-orang sudah mulai pergi satu demi satu kembali ke asrama.


"Heh, mau ngapain dia ke sini?" Dira mendelik kesal melihat tamu tak diundang itu.


Aish dan Gisel juga tidak terlalu menyambut kedatangan Nadira namun mereka tidak bisa mengusirnya pergi sekalipun mereka sama sekali tidak senang.


"Assalamualaikum?" Salamnya sopan dan hangat kepada mereka.


Tapi dia berpura-pura tidak menyadarinya sambil memasang tampang lembut dan hangatnya seperti biasa.


"Bolehkah aku duduk di sini? Aku ingin berkenalan dengan kalian bertiga karena di kelas tadi kita tidak sempat berbicara." Tanyanya sopan.


Aish ingin menolak tapi tidak bisa. Ditambah lagi Nadira datang dengan beberapa temannya yang menyebalkan.

__ADS_1


"Tentu. Kamu bisa duduk dimana pun kamu mau." Jawab Dira murah hati.


Jadi setelah mendapatkan jawaban Dira, dia langsung duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsing dengan Aish.


Aish masih makan dan tidak memperdulikan kehadiran Nadira yang secara terang-terangan sedang menatapnya.


"Terima kasih."


Dia lalu mengangkat sebuah topik pembicaraan,"Ngomong-ngomong aku dengar kalian bertiga berasal dari kota yang sama dan secara tidak sengaja pindah ke sini di waktu yang sama. Ini sangat menarik, bolehkah aku tahu apa alasan kalian pindah ke sini?"


Aish menjawab singkat,"Ya."


"Jadi?" Nadira tidak sabar.


Dira merespon,"Terpaksa." Katanya singkat.


"Hah?"

__ADS_1


Gisel dengan murah hati menjelaskan. Yah, kalimatnya mungkin agak panjang dari kedua sahabatnya.


"Kami dipaksa."


__ADS_2