Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 4.7


__ADS_3

Gisel melihat semua sikap aneh Aish. Mulai dari tatapan memujanya kepada habib Khalid hingga tatapan kekecewaannya melihat habib Khalid dekat dengan Khalisa, Gisel sudah melihatnya. Lalu dia teringat dengan panggilan akrab Aish kepada habib Khalid. 'Kak Khalid', begitu lah Aish memanggil habib Khalid. Awalnya Gisel pikir Aish dan habib Khalid tidak mungkin saling mengenal karena mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Tapi melihatnya sekarang, Gisel entah mengapa mulai percaya bila Aish dan habib Khalid dulu memang pernah saling mengenal.


Intuisinya mengatakan jika Aish mungkin memiliki perasaan lebih kepada habib Khalid. Sejak kapan? Mungkinkah sejak masih bersama dengan Iyon hatinya telah berpindah ke habib Khalid?


Namun,


Gisel menatap wajah Aish yang tertunduk lesu di atas meja.


Menghela nafas panjang. Gisel sadar jika Aish tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Iyon. Waktu itu dia lah yang menipu dirinya sendiri untuk memusuhi Aish dan menyalahkannya. Nyatanya Aish tidak pernah menganggap Iyon penting. Betapa bodoh dirinya. Dia rela merusak hubungan persahabatan mereka hanya karena seorang laki-laki brengsek.


Memikirkannya sekarang, tertawa saja tidak cukup karena masa lalu benar-benar konyol. Sangat konyol.


Namun syukurlah. Syukurlah Allah memberikan mereka kesempatan untuk kembali bersama. Syukurlah Allah memberikan dia kesempatan untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Syukurlah.


"Makanan sudah datang." Kata Gisel memberi tahu Aish.


Aish melihat piringnya. Makan malamnya terbilang sederhana namun jauh lebih baik dari yang dia bayangkan.


Ada perkedel, tumis sayuran, suwir ayam, dan segelas air putih. Di masing-masing meja juga ada semangkok sup hangat.1 mangkok kecil di makan berdua. Namun karena mereka bertiga tidak akrab dengan yang lain, maka mereka memutuskan untuk membagi satu mangkok menjadi tiga.


Itupun Aish tidak memiliki nafsu makan malam ini.


"Aish, makanlah. Kita harus punya tenaga untuk mencuci piring sebanyak ini jadi jangan sia-siakan makanan ini." Dira membantu Aish menaruh sup ke dalam piringnya.


Aish mengangguk lemah. Mencuri ribuan lebih piring yang digunakan makan semua santriwati, mereka harus siap secara mental dan fisik. Bahkan kalaupun mereka tidak mau, hukuman ini tidak bisa dihindari atau dihilangkan. Jika mereka bersikeras melarikan diri dari hukuman, takutnya master mawar berduri akan menjatuhi mereka hukuman berdarah lainnya.


"Terima kasih." Bisik Aish tidak bersemangat.


Dia memaksakan diri makan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya. Rasanya sangat lezat, rasa ini memiliki aroma rumah di dalam lidah Aish. Namun karena suasana hatinya sedang buruk, makanan selezat ini jadi tidak menarik.


Dia makan seadanya dan tidak seantusias para santriwati di sekelilingnya.


Mengambil sesuap nasi, Aish mengangkat kepalanya melihat ke sekelilingnya. Para santriwati makan dengan khidmat tanpa bicara.

__ADS_1


Jangankan bicara, makan bersuara saja Aish tidak dapat mendengarnya. Mungkin mereka diajarkan bagaimana tata krama di atas meja makan sehingga tidak ada yang bersuara.


"Um, mereka sangat baik saat makan." Gumam Aish menilai.


Dia mengalihkan pandangannya ke depan bermaksud ingin mengintip santri di seberang gorden. Tapi aneh, kenapa lubang celah itu kini berwarna biru?


Biru?


Aish langsung teringat warna baju habib Khalid. Dia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mengusir pikirannya yang selalu berpusat memikirkan habib Khalid hingga matanya tidak sadar menangkap pemilik mata hangat itu. Aish terkejut. Ternyata warna biru itu adalah pakaian habib Khalid yang berdiri di belakang gorden untuk menutupi celah gorden. Kebetulan sekali mata Aish langsung bertemu dengan pemilik mata hangat itu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini habib Khalid tidak memiliki senyum di wajahnya. Matanya yang hitam pekat menatap lurus menuju Aish tanpa berkedip. Aish sangat ketakutan.


Jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya. Malu, dia langsung membuang muka menatap piringnya yang bersisa banyak makanan.


Dug


Dug


Dug


Suara debaran jantungnya bergema di dalam kepalanya. Mengirimkan alarm panik ke tubuhnya. Panik, tangan kanannya gemetar ringan tidak bisa memegang sendok dengan benar. Apa yang harus dia lakukan?


"Kak Khalid...baru saja...um." Gumam Aish gugup.


"Aish, makanan kamu kok belum habis?" Dira dan Gisel melihat piring Aish yang masih utuh.


Sebenarnya tidak benar-benar utuh karena Aish sempat memakannya. Tapi dibandingkan piring mereka yang bersih, milik Aish masih bersisa terlalu banyak.


"Aku sudah kenyang." Kata Aish seraya mendorong piringnya menjauh.


"Eh, makan sedikit lagi. Nanti kita enggak mau tanggung jawab lho kalau kamu tiba-tiba pingsan." Kata Gisel bercanda.


Aish menggelengkan kepalanya kukuh.


"Aku sudah kenyang." Nafsu makannya langsung menghilang digantikan oleh perasaan gugup di hatinya.

__ADS_1


Dia benar-benar gugup karena baru saja bertemu dengan pemilik mata gelap itu. Mata yang selalu tampil tersenyum tadi melihatnya dengan emosi yang aneh.


Membuat Aish bertanya-tanya apakah habib Khalid marah kepadanya?


Apakah habib Khalid tidak senang melihatnya?


"Yah, makanannya jadi mubasir, nih. Aku boleh makan enggak?" Dira berdecak lapar melihat piring Aish.


Dia memiliki nafsu makan yang besar dan masih belum kenyang karena makanan pondok terlalu enak. Di rumahnya dulu makanan lebih banyak terbuang sia-sia karena dia sering makan sendirian di atas meja makan dan makanannya pun tidak memiliki rasa rumah. Melainkan rasa makanan di tempat makan yang telah lama membuat lidahnya lumpuh.


Namun di sini, makanan sesederhana ini begitu istimewa untuknya.


"Makan aja, daripada terbuang." Kata Aish tidak perduli.


"Eh, aku juga dong. Aku masih lapar tahu." Kata Gisel ikut-ikutan.


Akhirnya makanan itu dibagi dua oleh Dira dan Aish. Mereka tidak jijik karena makanan itu pernah dimakan oleh Aish. Malah mereka menyuap makanan dengan semangat tinggi ke dalam mulut masing-masing takut kehabisan.


Mereka sudah seperti anak kecil.


"Dia sudah pergi." Ketika Aish mengintip lagi ke arah gorden di depan, habib Khalid sudah tidak ada di sana.


Entah kemana dia pergi karena dimana pun Aish melihat, dia tidak menemukan bayangan habib Khalid. Aish tersenyum kecil. Mungkin habib Khalid punya urusan penting jadi dia langsung meninggalkan stan makanan.


"Kamu cari siapa, Aish?" Tanya Gisel pura-pura tidak tahu.


Aish tersenyum malu.


"Enggak cari siapa-siapa kok, aku cuma ngeliat lingkungan stan makanan aja." Bohong Aish kepadanya.


Gisel mengangguk mengerti. Dia saling melirik dengan Dira singkat sebelum berpura-pura fokus makan lagi.


15 menit kemudian satu persatu santriwati ataupun santri mulai meninggalkan stan makanan. Mereka harus bersiap-siap pergi ke masjid untuk melakukan sholat isya berjamaah. Sedangkan Aish, Gisel, dan Dira tidak bisa pergi ke masjid karena mereka harus dihukum mencuci piring. Untungnya piring sebanyak itu tidak kerjakan oleh mereka bertiga saja tapi juga dibantu oleh staf dapur umum. Sebab jika hanya mengandalkan mereka bertiga saja, mungkin semua piring ini tidak akan mudah bersih dan dikerjakan lama.

__ADS_1


"Apa kalian anak-anak kota yang sering dibicarakan akhir-akhir ini?" Ibu Salma, ketua staf dapur umum yang ikut membantu mencuci piring tiba-tiba mengungkit masalah ini.


__ADS_2