Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 24.5


__ADS_3

Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Tanpa memperdulikan bibi dan Kakek, dia langsung membawa langkah kakinya berlari secepat mungkin keluar dari ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang karena khawatir, ketakutan, dan kecemasan. Namun diantara semua emosi yang dirasakan sekarang, ada satu emosi yang menguasai hatinya. Yaitu dia menolak percaya apa yang diteriakkan oleh Aira. Kekasihnya tidak akan melecehkan wanita lain apalagi sampai berniat memperkosanya. Habib Khalid bukan orang yang seperti itu. Aish memang tidak mengenalinya lama, tapi dia mempercayai instingnya sebagai seorang wanita bahwa sang habib tidak akan pernah menyentuh wanita lain selain dari dirinya.


"Kak Khalid bukan orang seperti itu... Pasti ada sesuatu yang terjadi..." Dia berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak terbawa suasana.


Sampainya di ruang tengah, sudah ada banyak orang yang mengelilingi tempat itu. Ada santri dan santriwati, mereka diam membeku di tempat sambil menatap kosong ke arah TKP.


Bug


Bug


Bug


Lututnya lemah. Sewaktu-waktu dia bisa saja terjatuh, tapi untuk sebuah alasan dan kepercayaan di dalam hatinya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menopang tubuhnya untuk terus bergerak maju ke depan.


"Permisi..." Suaranya serak menerobos di dalam keramaian.


"Astagfirullah... Aku nggak nyangka dia orang seperti itu."


"Dia mungkin sedang mabuk sehingga tidak sadar melakukannya.."


Ada banyak suara-suara yang memasuki indera pendengaran. Memaksanya untuk berpikir keras bahwa semua yang orang-orang ini katakan tidak benar. Meskipun faktanya mereka membicarakan kesalahan yang dilakukan-eh,

__ADS_1


"Apa yang sedang terjadi?" Tanyanya membeku saat melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri apa yang sedang terjadi di TKP.


Di depan pintu kamar yang dimasuki oleh habib Khalid dan Aish sebelumnya, Nadira berdiri di sana dengan wajah lempeng sementara Aira memeluk erat kedua kakinya sambil berteriak histeris mengaku bahwa dia hampir saja disentuh oleh sang habib.


"Tolong...hiks.... Aku akan diperkosa oleh habib Thalib... Tolong berikan aku keadilan. Aku tidak ingin hidup dalam noda. Karena habib Thalib kehormatanku telah hancur dan aku tidak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengan orang-orang. Abah...Umi... Tolong berikan aku keadilan..." Teriaknya sambil mengeratkan pelukannya di kaki Nadira.


Apakah ini wajah korban yang hampir saja diperkosa?


Dia tidak menangis seperti teriakan histerisnya. Malah matanya terlihat kebingungan seperti orang yang sedang mabuk dan tidak sadarkan diri. Dia terus meracau mengatakan segala sesuatu yang membuat semua orang geram. Mereka marah dan kesal dengan Aira karena berani memfitnah habib Khalid, idola pondok pesantren. Namun kemarahan terpaksa ditahan karena pihak pondok pesantren tidak mengizinkan bergerak untuk melakukan sesuatu.


Staf pondok hanya mengatakan mereka hanya boleh menonton lelucon ini tapi tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa Aira.


"Apakah dia gila? Dia berteriak keras jika habib Thalib akan memperkosanya, tapi orang yang dia teriakan sama sekali tidak menyentuh ataupun meliriknya. Ini lelucon." Seorang gadis di samping Aish membicarakan Aira dengan nada kesal.


"Sepertinya dia sedang mabuk dan menganggap Nadira sebagai habib Thalib. Bodohnya lagi, dia berteriak bahwa dirinya akan disentuh tapi dirinya justru memeluk erat kaki Nadira dan tidak mau melepaskannya. Jadi siapa yang melecehkan siapa, kita semua tidak bodoh."


Mendengar ucapan-ucapan sarkas dan cemoohan yang ada di sekelilingnya, Aish tanpa sadar menghela nafas panjang. Semua kekhawatiran dan kecemasan di dalam hati, segera menguap entah ke mana digantikan oleh rasa lega. Instingnya tidak pernah berbohong bahwa habib Khalid tidak akan pernah mengkhianati. Dan habib Khalid tak akan pernah sudi menyentuh wanita lain karena hatinya sudah dimiliki sepenuhnya oleh Aish.


"Tolong berikan aku keadilan..." Dia masih berteriak di depan semua orang.


Nadira mendengus jijik,"Keadilan apa? Apakah aku pernah menyentuh kamu sebelumnya?" Tanya Nadira mengejek.

__ADS_1


Hanya Allah yang tahu betapa mual dirinya dipeluk oleh Aira. Dia tidak menyangka bila gadis ini akan bertindak gila dan dengan mudah memfitnah orang lain. Untung saja habib Thalib tidak masuk ke dalam ruangan itu, jika tidak, maka hidup habib Thalib akan hancur oleh gadis ini.


"Bohong...bohong...bohong habib Thalib! Kamu adalah pembohong besar. Kamu menarikku masuk ke dalam kamar dan memaksaku untuk melakukan sesuatu-"


"Diam!" Potong Nadira tidak tahan lagi.


Aira sudah tidak bisa ditolong. Nadira ingin sekali menendang gadis ini sejauh mungkin. Kalau bisa jangan sampai dia nongol di pondok pesantren dan mencemari nama baik pondok yang sudah susah payah dipertahan.


"Apa... Habib Thalib ingin mengelak perbuatan yang kamu lakukan kepadaku?!" Tanyanya berteriak semakin keras.


Aira memang tidak sadarkan diri saat ini. Sejatinya dia bingung dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Suhu tubuhnya yang semakin panas membuatnya tidak nyaman dan menginginkan sentuhan yang lebih. Dia kesakitan tapi tidak bisa meluapkan rasa sakit di tubuhnya. Dirinya membutuhkan pelampiasan namun habib Khalid menolak untuk datang menyentuh. Untungnya dia buru-buru berteriak sehingga semua orang bisa datang dan melihat dirinya sedang berpelukan dengan habib Khalid.


"Sungguh tidak tahu malu! Jika Umi dan Abah tidak menahan ku sekarang, kamu pasti sudah ku seret ke kolam untuk ditenggelamkan agar kepalamu bisa berpikir jernih!" Ucap Nadira tidak sabar.


Dia ingin pergi tapi Aira terus memeluk kakinya yang sangat membuat frustasi.


"Uhuk... Aish..." Di antara semua hiruk pikuk di dalam ruangan ini, habib Khalid dibantu berjalan oleh seorang laki-laki paruh baya.


Dengan langkah pelan habib Khalid datang menghampiri Aish. Menjangkau tangan Aish di bawah tatapan kejutan semua orang. Tidak sampai di sana sana. Belum selesai mereka memproses kejutan ini, habib Khalid langsung menjatuhkan bom lainnya kepada mereka.


Di bawah tatapan puluhan pasang mata, sang habib menarik air Aish ke dalam pelukannya dan memeluk Aish seerat mungkin. Sang habib merasa pusing namun dia berusaha mempertahankan dirinya agar tetap berpikir jernih. Sebenarnya dia sudah sangat kesakitan dan tidak mampu berdiri lagi. Tapi dia terus-menerus memaksa tubuhnya agar jangan tunduk terhadap efek obat-obatan ini. Barulah saat dia melihat Aish ada di sini, hati dan pikirannya lega. Tanpa ragu sedikitpun dia menarik Aish ke dalam pelukan, membenamkan wajah merahnya yang berkeringat deras ke dalam ceruk leher Aish dan menghirup sepuas mungkin wangi khas Aish ke dalam paru-parunya. Dia ingin meyakinkan dirinya bahwa gadis yang ada di dalam pelukan adalah Aish dan bukan gadis lain.

__ADS_1


"Ya Allah apa yang sedang kita lihat ini? Mungkinkah ini hanyalah mimpi buruk?"


"Habib Thalib memeluk wanita yang bukan mahram, apakah dia juga sedang mabuk?" Mereka masih berharap jika ini bukan karena keinginan habib Khalid tapi ketidaksengajaan sang habib karena pengaruh mabuk.


__ADS_2