
Gadis ingin membalas kata-kata mereka dengan amarah karena tidak setuju dituduh melakukan hal-hal bejat oleh orang yang jauh lebih kotor dari dirinya. Huh, dia juga mendengar perdebatan antara mereka bertiga dengan Aira tadi. Seperti yang pernah diduga bahwa ketiga anak kota ini pindah ke pondok pesantren dengan catatan kriminal yang sangat buruk. Ada yang hampir pernah membunuh adiknya dan ada pula yang kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita, ini merupakan kasus yang sangat fenomenal dan dipastikan akan dibicarakan oleh banyak orang di pondok pesantren. Sejujurnya ini sama sekali tidak mengejutkan karena dominan anak kota memiliki pendidikan moral yang sangat rendah.
Astagfirullah, berteman dengan mereka sungguh sia-sia.
Dia bisa saja membicarakan aib ini di depan Gisel ataupun Dira, tapi tidak mau melakukannya karena dia merasa bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.
Ada banyak sekali waktu luang yang bisa digunakan untuk menjatuhkan mereka.
"Iya... Aku mengaku bersalah. Karena terlalu santai aku jadi melewati batas. Ngomong-ngomong kalian sudah berada di sini, tapi di mana Aish? Aku ingin meminta izin kepadanya untuk meminjam pelembab bibir." Gadis mengalihkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari sosok Aish.
Bingung, Aish biasanya ditempeli oleh kedua orang ini tapi kenapa hari ini Aish tidak datang bersama mereka?
__ADS_1
Apakah Aish pergi keluyuran dulu keluar atau mungkin saja dia pergi ke kamar mandi.
Dira mengusap puncak hidungnya merasa bersalah.
"Aish dipanggil ke rumah Umi untuk suatu urusan. Katanya dia diminta untuk menginap malam ini dan bisa pulang besok, jadi kami hanya pulang berdua dari kantin." Jawab Dira dengan wajah lempeng yang sangat meyakinkan.
Gadis ataupun teman kamar yang lain tidak meragukan jawaban Dira karena sebagian dari mereka juga ada di sana melihat perdebatan yang terjadi di antara Aish dan adiknya. Pihak pondok mungkin sudah mendengar tentang kejadian di depan kantin, karena itulah Umi meminta Aish ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah.
"Sayang sekali, aku harus menunggu Aish pulang untuk meminjam barangnya besok." Ucap Gadis dengan ekspresi penyesalan yang dibuat-buat.
Sejujurnya dia sangat senang mendengar kabar ini dan telah memikirkan banyak skenario di dalam otak kecilnya. Aish pasti dimarahin oleh Umi dan Abah, kemungkinan besar dia dan adiknya akan diskorsing karena gara-gara pertengkaran mereka, kedamaian banyak orang terganggu.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong apakah Aish akan baik-baik saja di sana? Aku takut kemarahan Umi dan Abah membuat Aish jadi susah tidur." Sambung Gadis membuat Dira dan Gisel kompak memutar mata di dalam hati.
Sudah tidur? Yang benar saja!
Mereka berdua lebih percaya jika tidur Aish malam ini jauh lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya karena yang membawanya pergi adalah habib Khalid, laki-laki yang telah memenuhi hati sahabat mereka.
"Jangan khawatir, kekhawatiranmu tidak akan terjadi karena malam ini mungkin menjadi salah satu malam terbaik yang pernah Aish lalui. Dia tidak seburuk yang kamu pikirkan." Gisel berbicara serius tapi disalah artikan oleh Gadis dan yang lainnya.
Mereka berpendapat bahwa Dira dan Gisel sedang menghibur diri sendiri.
"Yah, semoga saja." Ucap Gadis dengan senyuman puas di bibirnya.
__ADS_1