
Ini adalah kabar baik mereka tidak ingin terus berdiri di sini dan meladeni orang-orang tidak masuk akal itu. Meskipun mereka berbelanja untuk kerjaan besok tapi ini jauh lebih baik daripada melihat orang-orang gila itu. Setidaknya ini adalah bantuan kecil dari mereka untuk sahabat mereka. Aish harus keluar untuk menenangkan dirinya dan melupakan masalah pagi ini.
"Baguslah, ayo kita pergi. Di sini sangat panas, aku tidak nyaman." Gisel sudah lama ingin pergi dari sini.
Sebab dia sudah sangat muak dengan Aira.
"Okay, Kak Khalid sudah menunggu kita di parkiran depan."
Aish langsung memimpin jalan di depan membawa kedua sahabatnya menyingkir dari mata-mata orang tidak masuk akal itu.
Melihat mereka pergi kaki Aira gatel ingin mengikuti. Bukan karena ingin bersama mereka tapi lebih tepatnya karena dia mendengar Aish menyebut nama habib Khalid tadi. Dia cemburu dan ingin menyapa habib Khalid. Tujuannya ke sini adalah untuk bertemu habib Khalid, oleh karena itu dia ingin bertemu dengan habib Khalid apapun caranya setelah sampai di sini.
"Mau ke mana, Aira?" Bibi menghentikan langkah Aira.
Aira menggigit bibirnya gugup.
"Bibi aku ingin menemui kak Aish." Bohongnya menipu.
Bibi menghela nafas panjang merasa prihatin dengan kegigihan keponakan tercintanya.
"Anak itu sangat labil sekarang kamu tidak bisa mendekatinya. Apakah kamu tidak melihat betapa menjengkelkan kata-kata yang dilontarkan barusan? Bibi juga tidak setuju kamu mendekat sekarang karena teman-teman Aish sangat kurang ajar. Mereka pasti akan membully mu lagi seperti tadi." Bibi menolak dengan keras kepala sambil memegang tangan Aira agar jangan pergi.
__ADS_1
Aira diam-diam memutar bola matanya di dalam hati, pertolongan bibi saat ini sungguh tidak berguna untuknya.
Bukannya membantu tapi malah mempersulit.
"Dengarkan bibimu, Aira. Saat ini fokus utamamu adalah melengkapi berkas-berkasmu sekarang di kantor. Kamu juga harus berkenalan dengan Abah dan Umi pemilik dari pondok pesantren ini. Jalinlah hubungan sebaik mungkin dengan mereka agar suatu saat nanti bila Aish mempersulitmu lagi, kamu bisa mendapatkan bantuan dari mereka. Selain itu menjalin hubungan dengan Abah dan Umi memiliki manfaat yang sangat besar. Kamu tahu kan Abah dan Umi memiliki hubungan yang sangat baik dengan habib Tholib? Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk kamu. Jika kamu menjalin hubungan dengan baik bersama mereka, maka jalan kamu untuk bersama dengan habib Tholib setidaknya lebih dipermudah." Salah satu Bibi mengingatkan Aira.
Sebelumnya masalah ini telah mereka bicarakan saat mengetahui habib Tholib juga ada di pondok pesantren ini. Mereka memutuskan untuk mencari peluang agar Aira dan habib Tholib bisa dekat bersama dan memiliki hubungan yang serius.
"Bibi, apa yang kalian berdua katakan itu benar. Kak Aish pasti sedang marah sekarang dan berbicara dengannya untuk saat ini tidak bisa membuahkan hasil apa-apa. Aku juga harus meninggalkan kesan yang sangat baik kepada Umi dan Abah, karena mereka adalah orang tuaku di pondok pesantren dan merekalah yang akan menjagaku di sini." Aira langsung berubah pikiran setelah mendengarkan apa yang dikatakan kedua bibinya.
"Cerdas, sekarang ayo ke kantor. Ayah dan Bundamu masih sibuk berbicara di dalam kantor. Kamu harus bersikap baik dan sopan di depan semua orang nanti. Mengerti?"
Aira tersenyum lembut tampak malu-malu,"Bibi, aku sangat mengerti. Jangan khawatir."
"Kakak ada apa dengan wajahmu?" Begitu masuk ke dalam bibi langsung menyapa Ayah.
Bunda memalingkan wajahnya tidak berani menatap bibi. Dia terlihat kecewa.
"Kakak apa yang terjadi?" Tanya bibi yang lain.
Menghalau nafas panjang Ayah lalu berbicara.
__ADS_1
"Abah memberitahuku bahwa keponakan kalian, Aish, baru saja selesai melakukan sidang pagi ini. Aish membuat kesalahan dan harus dihukum membajak sawah selama satu hari tanpa penundaan besok." Kata Ayah muram.
Ayah kira Aish akan berubah di sini dan dia pikir Aish tidak akan membuat masalah lagi. Tapi ternyata perkiraannya salah karena bahkan di sini pun Aish masihlah Aish, dia belum berubah dan suka membuat masalah di manapun dia berada.
Ketika mendengar jawaban Ayah, ekspresi mereka langsung berubah. Mereka tidak terkejut dengan masalah ini, tapi mereka merasa dipermalukan oleh Aish. Sebab kedatangan mereka ke sini untuk menjalin hubungan yang baik dengan Abah dan Umi. Akan tetapi jika Aish saja suka membuat masalah maka jembatan ini sepertinya tidak akan mudah dibuat. Kemarahan mereka yang baru saja surut kembali datang.
"Tak tahu malu! Dia sangat pandai membuat masalah dan bahkan mempermalukan keluarga kita lagi." Marah Bibi tidak bisa menahan emosi di dalam hatinya.
"Benar sekali. Kakak harus tahu bahwa tadi Aish juga berkata-kata kasar kepada kami dan Aira. Dia dengan kedua sahabatnya menghina kami habis-habisan dan bahkan mempermalukan Aira di depan habib Tholib. Mereka bilang Aira adalah anak berhati hitam dan terlahir dari rahim seorang pelakor-"
"Cukup! jangan ributkan masalah ini di sini." Sela Ayah tidak senang.
Salahnya membicarakan masalah di depan adik-adiknya. Karena dia sangat tahu bahwa adik-adiknya tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak berbicara banyak.
Akan sangat memalukan membicarakan masalah ini di depan Umi dan Abah.
Seolah mengerti petunjuk Ayah, mereka berdua langsung terdiam dan tidak berbicara lagi.
Abah tidak mengatakan apa-apa terhadap kata-kata mereka yang terbilang kasar, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi yang bermakna. Dan dia sedikit mengerti mengapa perlakuan keluarga ini kepada Aish dan Aira berbeda. Malam itu saat mengirim Aish ke pondok pesantren keluarga ini agak acuh tak acuh dan bahkan hanya membawa satu koper pakaian saja. Sedangkan sekarang saat mengirim Aira ke pondok pesantren keluarga ini membawa banyak sekali barang-barang dan koper, seolah-olah mereka datang ke sini bukan untuk mengirim putrinya belajar melainkan untuk memindahkan putrinya tinggal.
Sungguh menarik.
__ADS_1
"Maaf Abah karena telah mengganggu pembicaraan kami." Ayah lalu menarik Aira untuk lebih dekat dengannya dan kembali berbicara.
"Abah perkenalkan, ini putri keduaku namanya Aira. Dia adalah gadis yang sangat cerdas dan pintar. Di sekolah lamanya banyak guru-guru yang menyukai putriku ini dan yang paling penting adalah prestasi putriku ini tidak pernah turun. Sekarang putriku akan diserahkan kepada Abah dan Umi, aku mohon kalian berdua menjaga putriku dengan baik di sini. Jika dia salah jangan ragu untuk menegur dan memarahinya, tapi aku mohon jangan memukulinya. Sebab putriku ini sangat lemah dan mudah sakit, dia tidak tahan bekerja terlalu keras." Minta Ayah sebagai seorang ayah kepada Abah dan Umi, selaku pemilik pondok pesantren, orang yang akan menggantikan posisinya selama tinggal di tempat ini.