
Keputusan ini Ayah telah memikirkannya berkali-kali sebelumnya. Dia pikir Aish mungkin patah hati karena ditinggalkan sendirian di tempat itu dan alangkah baiknya bila putri keduanya datang menyusul agar Aish lebih nyaman.
"Ayah..." Mata Aira langsung basah tampak menyedihkan.
Dengan suara bergetar,"Aira bukannya enggak mau pergi...kenapa tidak, pondok pesantren adalah tempat yang sangat baik untuk menuntut ilmu. Tapi Aira takut, Ayah. Aira takut kak Aish mencoba menyakiti aku lagi dan mengulangi kesalahan yang sama. Aira takut kejadian malam itu terulang kembali. Padahal... selama ini Aira mencoba dekat dengannya tapi balasan kak Aish...dia malah ingin menghancurkan ku. Ayah, pikirkanlah. Bila hari itu aku sampai jatuh ke tangan laki-laki yang tidak benar, maka betapa hancurnya aku sekarang. Aku...aku enggak mau itu semua terjadi dan aku juga enggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aira takut dengan...kak Aish." Semakin dia berbicara semakin kecil pula suaranya.
Suaranya bergetar lembut dan terdengar sangat menyakitkan. Seolah-olah dia sangat takut dan tidak bisa melepaskan diri dari kenangan suram hari itu.
"Ayah mengerti..." Ayah tak berdaya melihat betapa takut putrinya saat ini.
Dia tidak bisa menyalahkan penolakan putri keduanya karena pada kejadian itu, Ayah mengakui bila Aish sudah terlalu keterlaluan. Menyampingkan darah yang sama, Aish tega menyakiti adiknya sendiri. Padahal masa lalu adalah masa lalu, dan semuanya sudah lewat jadi tak seharusnya Aish berlarut-larut dalam hal ini apalagi sampai menyakiti adiknya sendiri.
"Ayah tak perlu khawatir dengan kak Aish. Di sana dia pasti bertemu dengan orang yang baik dan orang yang bisa membantunya berubah. Aira percaya bila kak Aish suatu hari nanti akan berubah dan menyadari semua kesalahan yang dia lakukan." Aira menghibur Ayahnya dengan suara lembut.
Aira bukan tanpa alasan menolak pergi. Selain karena masih marah dengan Aish, dia juga sebenarnya kukuh di sini karena masih menunggu kabar habib Khalid. Dia percaya habib Khalid akan kembali lagi ke sini dan dia sangat percaya bahwa diantara para gadis di komplek ini, satu-satunya yang pantas bersanding dengan habib Khalid adalah dirinya.
Aira tak membual. Ini memang faktanya. Hampir semua orang di komplek ini menyukai Aira yang memiliki akhlak yang baik dan cerdas. Bahkan mereka juga sering bercanda akan menjodohkan Aira dengan putra-putra mereka agar mereka bisa memiliki menantu yang soleha juga cucu yang cantik nan manis.
Sanjungan seperti ini sudah terbiasa masuk ke telinga Aira dan awalnya sempat dipikirkan dengan baik. Tapi setelah melihat habib Khalid, semua pikirannya tiba-tiba terhapus. Yah, habib Khalid adalah orang yang mulia, berdarah mulia, dari keturunan yang mulia pula. Maka menurutnya alangkah lebih baik bila sang habib dapat bersanding dengan dirinya.
Pasalnya dia merasa telah memenuhi kriteria yang laki-laki inginkan pada wanita.
__ADS_1
"Ayah juga mengharapkannya. Baiklah, kamu bisa kembali ke kamarmu. Istirahatlah."
"Ya, Ayah."
Aira lalu keluar dari ruang kerja Ayah dan kembali ke kamarnya. Setelah masuk ke dalam kamar, dia segera melepaskan cadar dan jilbabnya, kemudian melipatnya dengan rapi sebelum masuk ke dalam lemari.
Mengusap pipinya yang cemberut, dia menatap wajah cantiknya di depan cermin. Menatapnya dengan pandangan memuja seolah-olah dirinya adalah kehadiran yang langka di dunia ini-tapi, dia sungguh tak puas bila dibandingkan dengan kecantikan Aish.
Kakaknya itu cantik namun menawan. Bila Aish memiliki sikap yang baik dan tidak cuek, maka akan banyak orang yang mengejarnya. Tapi sayang sekali, Aish menyia-nyiakan pesonanya sendiri.
"Kak Aish terlalu sombong, sekalinya jatuh langsung dikirim ke pondok. Aku yakin dia pasti sangat tersiksa di sana." Gumamnya dalam suasana hati yang baik.
...****...
Aish dan teman kamar yang lain ditugaskan untuk membersihkan sayuran terong yang ada di paling ujung berbatasan langsung dengan tembok luar pondok pesantren. Sesampai mereka di sana, Aish langsung menganalisis waktu yang akan mereka habiskan mungkin tidak akan lama karena ada juga santriwati dari kamar lain yang ditugaskan untuk memetik terong di sini.
"Wah, pantas ramai banget. Ternyata ada habib Thalib, toh." Kata Dira dengan suara yang sengaja di keras-keras kan.
Benar saja, atensi Aish langsung berpindah melihat tempat yang paling ramai di sawah ini. Di dekat tembok, habib Khalid sedang berdiskusi dengan beberapa laki-laki yang memegang buku serta alat tulis.
"Lihatlah para gadis ini, cek...cek... ternyata mau di luar ataupun di pondok, mereka semua sama aja kalau udah masuk urusan cinta." Kagum Dira ketika matanya menangkap para santriwati sesekali mencuri pandang ke arah habib Khalid.
__ADS_1
Gisel tersenyum,"Kita punya perbedaan. Para gadis di kota terkesan berani dan jarang pemalu, tapi lihat para gadis di sini. Mereka sangat pemalu sampai-sampai bersembunyi di balik pohon terong." Katanya diselingi tawa.
Aish dan Dira juga ikut tertawa. Mereka merasa bahwa para gadis di sini sangat imut dan penakut. Jika orang-orang ini bertemu dengan laki-laki di luar, maka mungkin reaksi mereka akan sangat lucu jika dikejar-kejar oleh anak kota. Pasalnya laki-laki di luar jauh lebih berani daripada para santri di sini.
"Tapi aku kok heran yah, masa sih kebetulan lagi diskon bulan ini? Soalnya frekuensi kita ketemu sama habib Thalib bukannya terlalu sering, yah?"
Gisel tiba-tiba menyuarakan kebingungannya. Dan bukan cuma Gisel aja yang bingung sekaligus heran, tapi Dira dan Aish juga heran. Dasarnya habib Khalid terkenal sangat sibuk di pondok, saking sibuknya para santriwati sampai mengeluh karena tidak bisa melihat habib Khalid.
Tapi lihatlah kenyataan sekarang. Telah beberapa kali mereka 'kebetulan' bertemu dengan habib Khalid dan mereka juga belum pernah mendengar 'kebetulan' ini terjadi kepada santriwati yang lain.
"Aku juga heran. Katanya dia sangat sibuk dan jarang bisa keluar dari kantornya." Kata Dira penasaran.
Aish meremat tangannya gugup. Sejak topik ini diangkat kepalanya sudah berselancar memikirkan kemungkinan yang terlalu... tinggi!
"Kak Khalid emang sibuk, kok. Tuh lihat, dia kan lagi kerja di sana." Kata Aish masuk akal, tanpa sadar berusaha menampik khayalan tingginya.
"Nah, emang benar dia lagi kerja sekarang tapi kata teman-teman kamar ini terlalu enggak biasa. Oh ya, satu lagi." Dira menoleh ke Aish, menatapnya dengan pandangan menyelidik.
Aish sampai merinding dilihat seperti ini olehnya.
Dira lalu menyambung ucapannya,"Setahuku hanya Aish satu-satunya orang yang mendapatkan keistimewaan bisa memanggil habib Khalid dengan sebutan akrab itu. Selain dia, tak ada satupun orang yang bisa melakukannya. Untuk memastikan kebingungan ini, aku sudah bertanya kepada teman-teman kamar dan jawaban mereka sangat kompak. Mereka bilang aku adalah orang yang kurang ajar jika sampai memanggil habib Khalid dengan sebutan 'kak'." Matanya berkedip samar menatap wajah menawan Aish yang perlahan memerah di bawah pengawasan beberapa pasang mata,"Aish, jujurlah. Kamu dan habib Thalib sebenarnya bukan sekedar kenalan biasa'kan?"
__ADS_1
Bersambung...
Lagi?