
Teman sekamarnya kini lebih curiga lagi tapi berusaha menahan ekspresi di wajahnya.
"Apa yang kamu bicarakan, Gadis? Uang sebanyak itu sangat besar dan tidak mudah didapatkan. Bahkan walaupun mereka berasal dari orang kaya bukan berarti mereka tidak membutuhkan uang. Uang tidak jatuh dari langit jadi siapa yang tidak sedih kehilangan uang sebanyak itu! Lagipula pencurian ini adalah kasus besar dan sebaiknya dilaporkan ke polisi saja!" Katanya kesal.
Jika memang benar Gadis adalah pelakunya, maka dia benar-benar tidak menyangka jika Gadis adalah orang yang seperti itu dan bahkan lebih tidak menyangka lagi Gadis yang seperti itu adalah teman tidurnya.
Sungguh menakutkan!
"Aku cuma asal berbicara." Ucap Gadis lemah.
Temannya tidak perduli dan beralih berbicara dengan orang di sampingnya.
Melihat semua orang melakukan diskusi panas, senyuman Aish semakin lebar di bibirnya. Ia menatap semua teman-teman kamarnya dengan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Teman-teman, tolong, dengarkan." Kata Aish menginterupsi diskusi panas mereka.
Semua orang langsung menghentikan acara diskusi mereka dan beralih mendengarkan Aish kembali. Mereka penasaran apakah kasus ini akan dilaporkan ke pondok pesantren atau ke polisi.
"Aku takkan melaporkan kasus ini ke pondok pesantren ataupun ke polisi karena kami berpikir mungkin pelakunya sedang terdesak atau membutuhkan uang jadi kami akan melepaskannya. Adapun kenapa aku mengungkapkan kasus ini adalah karena aku ingin mengingatkan sang pelaku agar jangan mengulanginya lagi karena kita semua musafir di sini, kita sama-sama membutuhkan uang. Untuk mengganti kerugian Gisel, aku akan memberikannya uang senilai 5 juta dan aku harap pelaku yang telah mencuri uang Gisel agar jangan memperhatikannya lagi. Kalau tidak, percayalah... masalah ini tidak akan diselesaikan dengan murah hati." Peringat Aish serius.
Setelah selesai berbicara, ia lalu memberikan uang itu kepada Gisel yang masih kaget dengan kata-kata Aish barusan. Dia sama sekali tidak menyangka Aish akan mengganti uangnya yang hilang semalam. Padahal Aish seharusnya tidak bertanggung jawab karena itu bukan kesalahannya. Tapi mengapa Aish sangat baik...
Matanya memerah, rasanya sangat asam.
"Kamu tidak perlu mengganti ku..." Bisiknya menolak.
__ADS_1
Belum surut keterkejutan orang-orang tentang keputusan Aish tidak akan membawa kasus ini ke pondok ataupun ke pondok pesantren, mereka sekali lagi dikejutkan dengan beberapa kata terakhir Aish.
5 juta, Aish dengan murah hati memberikannya kepada Gisel tanpa berkedip sekalipun. Seolah-olah uang sebanyak itu tidak terlalu banyak.
Aish tersenyum satai,"Tidak apa-apa, anggap saja aku sedang berinvestasi dengan Allah SWT untuk bekal ku di akhirat kelak."
Setelah mendengar ini, Gisel tidak lagi menolak uang Aish. Dia mengambil uang Aish, meremat nya sekuat mungkin di dalam telapak tangannya. Perlahan, bulir-bulir hangat mulai menelusuri pipinya, jatuh meninggalkan noda basah tanpa isak tangis yang menyayat hati.
"Terima kasih." Ucapnya tulus penuh akan rasa syukur yang tulus terkira.
Dia merasa bahwa di dunia ini tidak lagi memiliki ruang kehangatan untuk dirinya. Ya Allah, betapa kotor dirinya. Gisel tahu dan sangat mengenal dirinya yang hina selama ini. Terbiasa terombang-ambing dalam perselisihan keluarga yang menganggapnya beban, sebagai anak yatim piatu, bagaimana hatinya tidak sedih mendapatkan semua penolakan itu?
Dia terbiasa merindukan kehangatan dan mudah cemburu melihat orang yang hidup bahagia. Seperti Aish tidak dikejar-kejar banyak laki-laki, Gisel pernah merasa cemburu. Rasa cemburunya membuat hati ini terobsesi mengambil orang yang ada di dekat Aish, memberinya ilusi bahwa dia jatuh cinta kepada mantan pacar Aish pada saat itu hingga dia benar-benar menggadaikan mahkota hidupnya yang sangat berharga.
Saat ini, hanya Allah yang tahu betapa bahagia dirinya sekarang.
"Hei, jangan menangis." Aish tiba-tiba jadi canggung.
Tidak hanya Aish yang merasa canggung dengan tangisan tiba-tiba Gisel, namun Dira juga tidak tahu harus bereaksi apa melihat tangisannya.
Perlahan teman-teman kamar mulai berkumpul mengelilingi Gisel, mengatakan beberapa kata penghiburan untuk membuat Gisel tertawa lagi. Kata-kata mereka agak dibuat-buat yang membuat Gisel jadi tertawa. Suasana yang tadinya sempat tegang dan mengandung bawang kini menjadi ceria kembali. Setelah Gisel menjadi lebih ceria, teman-teman kamar yang lain mulai membicarakan tentang uang Gisel yang hilang. Mereka menanyakan berbagai macam hal kepada Gisel, pasalnya kejadian ini telah mengundang banyak pertanyaan dibenak masing-masing.
Melihat ini, Gadis yang sama sekali tidak bergerak di tempatnya segera memutar bola matanya jengah.
"Ini adalah sebuah konspirasi." Bisiknya menuduh.
__ADS_1
Seseorang yang kebetulan mendengar ucapannya mendengus,"Konspirasi atau tidak, hanya Allah yang tahu kebenarannya. Jadi kamu sebaiknya tutup mulut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di sini." Katanya tidak senang.
Gadis tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat malu juga disaat yang sama hatinya sangat murka melihat satu persatu orang-orang disekitarnya mulai berpihak kepada Aish.
Mereka sangat tidak tahu malu pikirnya. Mendekati Aish gara-gara memiliki banyak uang dan suka berbagi makanan enak. Padahal sejujurnya mereka semua adalah orang-orang yang munafik, baik di depan namun buruk di belakang. Pikir Gadis tak senang.
...****...
Malam harinya setelah selesai makan malam, semua orang langsung kembali ke asrama untuk beristirahat. Mereka tidak langsung tertidur ke dunia mimpi karena waktu masih pagi dan mereka pun belum mengantuk. Apalagi besok libur, sehingga beberapa orang berniat begadang semalaman malam ini.
"Malam ini bintang banyak banget, kalian enggak mau lihat?" Gisel melihat taburan bintang di langit malam ini sangat cerah dan indah.
Dia ingin mengajak kedua sahabatnya keluar untuk melihat bintang-bintang.
"Ajak Dira aja, deh. Aku mau fokus belajar biar nilai sekolah ku enggak memalukan di mata kak Khalid." Tolak Aish sembari mengecilkan suaranya.
Gisel cemberut. Dia ingin Aish juga ikut tapi sayangnya sahabatnya ini sangat bertekad untuk belajar keras. Ugh, dia tidak biasa dengan sahabatnya yang begitu rajin. Menurutnya Aish enggak normal kalau begini.
"Iya, deh. Aku mau ke Dira dulu." Gisel tidak melihat Dira di kasur nya.
Melihat ke arah lain, Gisel langsung tercengang melihat Dira dan teman-teman kamar yang lain sedang bermain kartu poker di sudut kamar. Mereka semua sangat heboh. Ada yang bertugas bermain dan ada pula yang bertugas mengawasi pintu kamar. Berjaga-jaga jika ada ustazah atau pengawas yang masuk ke dalam kamar.
Ugh, kegiatan ini sangat mendebarkan tapi seru.
Melihat pemandangan ini Gisel tahu Dira tidak akan menemaninya menatap bintang. Menghela nafas lembut, dia memutuskan untuk pergi sendiri.
__ADS_1