
Sementara itu di luar kelas. Aish, Dira dan Gisel mencari tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Mereka melihat bila koridor terlalu berisik dan sebaiknya duduk di tempat yang agak sepi.
Jadi mereka bertiga duduk di sebuah pohon rindang yang ditanam tepat depan kelas. Mereka duduk bersandar di atas rerumputan sambil menatap bosan orang-orang yang lalu lalang di koridor sekolah.
"Nadira, kak Nasifa sekarang sudah punya tunangan dan dengar-dengar dia akan segera menikah setelah lulus dari pondok. Apakah itu benar?"
Perhatian mereka bertiga ditarik oleh kerumunan orang-orang yang sedang mengelilingi Nadira.
Melihat orang-orang tidak punya kerjaan ini, Aish tidak tahu harus berkata apa. Karena tidakkah orang-orang ini terlalu sibuk bergosip?
Aneh.
Nadira menjawab malu-malu.
"Kakakku memang sudah bertunangan dan insya Allah menurut rencana dia akan segera menikah setelah lulus. Abah bilang pernikahan kakak akan dilaksanakan di sini jadi kalian semua pasti akan menghadirinya."
Semua orang langsung heboh. Lalu ada yang bertanya lagi.
"Lalu bagaimana denganmu, Nadira? Apakah kamu juga sudah bertunangan dan siapa tunangan mu?" Saat pertanyaan ini keluar semua orang langsung panas dingin.
Bahkan Aish pun ikut menajamkan telinganya. Dia ingin mendengar dengan kedua telinganya sendiri apa jawaban langsung Nadira. Sebab rumor sudah terlalu banyak beredar dan Aish tidak bisa tenang setiap kali memikirkannya.
Melihat mata-mata penuh keingintahuan semua orang, pipi Nadira langsung memerah terang. Dia sangat malu sekarang dan salah tingkah ditatap seserius ini oleh mereka semua.
"Itu...dia adalah laki-laki yang sangat luar biasa- ah tidak, kalau sudah waktunya, kalian nanti pasti akan tahu." Katanya tidak berani menjawab.
Namun samar-samar mereka bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Nadira. Lantas hati mereka langsung masam. Baru menduga saja rasanya sudah sakit apalagi jika itu benar-benar terjadi?
"Gadis ini sangat pandai memancing." Kata Dira dingin.
__ADS_1
Selama ini dia hanya diam saja melihat Nadira berbicara dengan kroni-kroninya.
Aish menggelengkan kepalanya merasa rumit dengan perasaannya sendiri.
"Aku tidak tahu..kak Khalid?!" Matanya membola kaget melihat habib Khalid tengah berjalan masuk ke sekolah bersama beberapa orang laki-laki dan ustazah.
Di sekolah ini laki-laki tidak diizinkan masuk. Aturan ini juga berlaku untuk para staf kantor laki-laki ataupun ustad pondok. Selama mereka laki-laki, apapun pekerjaannya tidak bisa diizinkan masuk. Tapi ada pengecualian. Misalnya mereka datang lebih dari satu orang dan didampingi oleh staf kantor perempuan ataupun ustazah yang bertugas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, jika tidak ada kepentingan, laki-laki tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini.
"Nadira, lihat itu! Habib Thalib datang berkunjung ke sekolah kita." Bukan hanya Aish saja yang terkejut, tapi kelompok Nadira pun tak kalah terkejutnya.
"Tumben habib Thalib berkunjung ke sekolah kita. Biasanya dia enggak akan pernah ngelirik sekolah kita sedetik pun." Yang lain melebih-lebihkan.
Ada juga yang membual diantara orang-orang ini.
"Eh, mungkin saja habib Thalib datang ke sini sengaja untuk melihat Nadira. Coba kalian semua pikirkan, sebelum Nadira di sini habib Thalib tidak pernah menampakkan hidungnya di sekolah kita." Bualan nya sangat masuk akal dan dengan mudah diterima oleh mereka.
Pasalnya apa yang dia katakan memiliki kemungkinan yang sangat besar dan saat ini adalah buktinya yang paling valid.
"Jangan berbicara omong kosong, nanti kalau di dengar sama habib Thalib, aku jadi enggak enak." Katanya dengan jantung berdebar-debar.
Mulutnya memang mengatakan itu tapi jantungnya tidak bisa mengkhianati betapa senangnya dia saat ini. Mungkinkah apa yang dikatakan teman-temannya itu benar bila sang habib datang ke sini khusus untuk melihatnya?
Pasalnya sebelum dia pindah ke sini, habib Khalid tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke tempat ini.
"Nadira jangan rendah hati. Kamu adalah satu-satunya gadis yang dapat bersanding dengan habib Thalib.." Suara-suara itu mengganggu ketenangan Aish.
Aish muram dan cemburu. Ia menolak keras untuk mempercayai apa yang dikatakan orang-orang itu, tapi disaat yang sama ia juga dibuat bertanya-tanya apakah yang orang-orang itu katakan memang benar adanya bahwa sang habib datang ke sini hanya untuk melihat Nadira?
Aish kesal. Hatinya jadi gelisah memikirkannya.
__ADS_1
"Udah, jangan dipikirin. Mending kamu samperin habib Thalib aja biar mereka semua diam." Kata Gisel ikutan kesal.
Orang-orang ini terlalu banyak bicara pikirnya. Mengapa mereka tidak belajar untuk menutup mulut saja daripada membicarakan hal-hal yang masih belum jelas kebenarannya?
"Iya, Aish. Kamu pergi aja temui habib Thalib biar mereka semua tutup mulut." Bujuk Dira tidak kalah jengkelnya dengan Gisel.
Aish juga mau menghampiri habib Thalib tapi ia sungguh malu. Biasanya sang habib lah yang datang menghampirinya- tunggu, untuk kali ini lebih baik jangan bertindak pasif dulu!
Tidakkah ia ingat bila dirinya saat ini sedang menjalankan misi untuk mengejar sang habib?
Aish berpikir bila tidak salah untuk menghampiri habib Khalid sekarang. Lagipula ia sedang mengejarnya sekarang.
Tepat saat Aish membuat keputusan, suara-suara dari kelompok Nadira kembali menggangunya.
"Jangan malu, Nadira. Ayo kita temui habib Thalib untuk menyapanya. Dia pasti senang mendapatkan sapaan darimu." Bujuk teman-teman di sekitarnya.
Nadira awalnya menolak, tapi setelah dibujuk satu atau dua kali, dia akhirnya mengiyakan dengan malu-malu. Lagipula dia juga sudah sangat ingin bertemu dengan sang habib dan ingin melihat wajah tampan tanpa cela sang habib lebih dekat lagi.
Hem, dia ingin memuaskan hatinya.
Mendengar ini Aish langsung menjadi tidak tenang. Ia langsung bangun dari duduknya dan berjalan cepat melewati lapangan untuk menemui sang habib lebih dulu. Aneh, semakin dekat mereka maka semakin ringan langkahnya. Aish tiba-tiba menyadari bila itu tidak sesulit yang ia pikirkan.
"Lho, ngapain Aish ke sana?" Orang-orang berjalan dengan Nadira mau tak mau merasa heran melihat Aish berjalan cepat di depan mereka.
Tapi Aish sama sekali tidak memperdulikan mereka. Ia tetap membawa langkahnya tanpa niat untuk jeda sedikitpun.
"Kak..kak Khalid!" Panggil Aish begitu ia semakin dekat dengan habib Khalid.
Habib Khalid memang sudah melihat keberadaan Aish dan diam-diam memperhatikan langkahnya dari jauh. Tersenyum lembut, wajah tampannya yang di gurat indah memberikan Aish sebuah rasa nyaman yang menenangkan hatinya. Tanpa sadar Aish tidak setakut sebelumnya.
__ADS_1
"Lelah?" Tanya habib Khalid seraya menyodorkan sebotol air mineral yang belum selesai diminum.