Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 6.9


__ADS_3

Aish tidak tidur. Dia hanya merebahkan badannya di atas kasur saja untuk melarutkan pegal-pegal di tangan dan kakinya. Dan dia juga tidak bisa tidur walaupun dirinya mau karena semua pikirannya saat ini telah dibayang-bayangi oleh habib Khalid. Berawal dari pertengkaran di kamar mandi, lalu disusul pergi ke pasar bersama hingga pulang, habib Khalid telah memperlakukannya dengan baik.


Ya Allah, sejujurnya aku sulit mempercayai cinta semenjak Mama dikhianati Ayah. Aku malah pernah berpikir bahwa hatiku tidak akan pernah merasakan perasaan ini karena kepalaku telah mencatat dengan baik bagaimana sakitnya sebuah pengkhianatan. Rasanya sulit mempercayai seseorang sedalam itu. Namun Rabb ku, hal yang tak kusangka adalah penolakan hati ini dengan mudahnya terpatahkan oleh kehadiran kak Khalid. Rasa manis yang ku rasakan setiap kali melihatnya ternyata telah menyentuh titik terdalam hatiku. Entah apa yang kak Khalid rasakan kepadaku, apakah rasa ini terbalas atau tidak berbalas, aku tidak bisa menebaknya. Namun yang pasti satu hal yang tidak bisa ku pungkiri bila hatiku sudah jatuh terlalu dalam tanpa kusadari. Pantas saja... pantas saja Mama memilih bertahan dengan Ayah walaupun dia tahu bila rasanya tidak berbalas. Ya Allah, Engkau mungkin lebih tahu bila Mama bukannya tidak ingin pergi tapi hatinya lah yang menahan langkah kakinya. Lalu, bagaimana dengan diriku di masa depan nanti?


Akankah semuanya berjalan sesuai dengan harapanku?


"Hey?" Dira ikut merebahkan dirinya di atas kasur bersama Aish.


Rebahan tepat di sebelahnya. Dia mengatur posisinya senyaman mungkin dan mulai menonton langit-langit kamar yang sangat monoton di atas sana.


"Kamu keliatan sedih. Aneh, padahal sebelumnya kamu terlihat sangat bahagia."


Aish menghela nafas panjang. Dia hanya memikirkan masa depannya saja yang tak pasti dan tanpa sadar mengait-ngaitkan nya dengan akhir tragis Mamanya. Ada ketakutan tersendiri namun bodohnya lagi, dia sudah terlanjur masuk ke dalam jurang perasaan ini.


"Aku merindukan Mama. Biasanya aku akan datang menjenguknya setiap dua atau tiga hari sekali. Namun sekarang aku di pondok pesantren. Jaraknya begitu jauh dari kota kita dan aku juga tidak bisa keluar sampai sejauh itu karena pondok tidak akan mengizinkannya." Cerita Aish tidak menutupi kesedihannya- kecuali tentang perasaannya yang sedang terombang-ambing.


Dira sudah tahu jalan kehidupan Aish setelah mendengar gosip dari anak-anak sekolah tapi dia tidak terlalu jelas karena Aish jarang membicarakannya.


"Pasti kamu sangat merindukannya." Entah sejak kapan Gisel ikut berbaring bersama mereka.


"Aish, apakah kamu masih mengingat bagaimana wajah Mama mu saat itu?" Dira bertanya tampak penasaran.


Mendengar pertanyaan Dira, Aish langsung tersenyum kecut. Melihatnya?


Mungkin kenangan itu tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya jika benar, tapi sayangnya...


"Aku belum pernah melihat wajah asli Mamaku karena dia meninggal saat aku berusia dua tahun. Aku hanya bisa melihat Mama dari foto-foto yang ditinggalinya." Aish membicarakannya dengan santai namun ditelinga kedua temannya, kata-kata itu terdengar begitu menyedihkan.

__ADS_1


Dira dan Gisel menatapnya kosong. Rasanya pasti begitu menyakitkan tumbuh tanpa kasih seorang Ibu yang telah berjasa besar melahirkannya. Kehilangan Ayah mungkin bisa digantikan oleh peran seorang Ibu, namun peran seorang Ibu tidak akan pernah bisa digantikan oleh seorang Ayah. Apalagi bila seorang Ayah memutuskan untuk membawa wanita lain sebagai Ibu sambung, percayalah, kasih seorang Ayah akan teralihkan pada kehadiran wanita baru tersebut. Ceritanya akan lebih tragis lagi bila wanita itu melahirkan seorang anak untuknya.


"Aish, kamu adalah gadis yang kuat." Bisik Dira pahit.


"Hem, setelah semua penderitaan ini yakinlah Allah akan mengirimkan buah manis dari kesabaran mu."


Aish tersenyum kecil dan tidak merespon ucapan mereka.


Apakah dia benar-benar gadis kuat seperti yang Dira gambarkan?


Aish tidak yakin karena kerap kali dia akan mengurung diri di dalam kamar untuk menumpahkan kelelahan dihatinya lewat sebuah tangisan.


Lalu, apakah semua penderitaan ini sudah benar-benar berlalu?


Benar, dia telah diusir dari rumah. Harusnya penderitaan ini sudah cukup, kan?


Cukup. Harusnya cukup. Tapi mungkin tidak cukup.


Suasana menjadi melow. Mereka tidak memiliki mood untuk berbicara lagi. Entahlah, mungkin suasana hati mereka terinfeksi oleh kata-kata singkat Aish yang menyedihkan.


Dira dan Gisel tiba-tiba teringat betapa menyedihkannya mereka sebelum datang ke tempat ini. Hah... semua orang punya luka di hati masing-masing. Dan mereka berdua pun juga tidak terkecuali. Hanya saja dari semua luka itu, mereka pernah menikmati kasih sayang orang tua yang lengkap tapi tidak dengan Aish.


Dia..


Tidak seberuntung mereka berdua.


...****...

__ADS_1


Malam harinya semua orang kembali sibuk untuk mempersiapkan ujian sekolah. Mereka langsung membuka buku catatan dan kitab-kitab aneh untuk mengulas kembali ilmu pengetahuan mereka. Namun situasi ini tidak berlaku untuk Aish, Dira dan Gisel. Mereka cenderung bersantai dan tidak terlalu ambil pusing. Lagipula tidak ada gunanya belajar keras karena mereka sama sekali tidak mengerti apa yang harus dipelajari dan bagaimana cara membaca kitab-kitab aneh itu. Akan sia-sia jika mereka memaksakan diri untuk belajar.


"Siti, pondok pesantren libur ngaji kalau sekolah ujian?" Tanya Dira ke Siti.


Siti menutup kitab bersampul biru ditangannya dan menaruh kitab itu dengan hati-hati di dalam lemari.


"Iya. Kita libur ngaji di malam hari aja biar bisa belajar dengan baik." Jawab Siti tanpa mengangkat kepalanya.


Setelah menaruh kitab, dia lalu beralih mengambil buku catatannya untuk mempelajari pelajaran yang telah dia ringkas dengan hati-hati.


"Oh, begitu." Dira kemudian kembali ke kasurnya.


"Kalian kok enggak belajar? Besok kan kita ujian." Gadis bertanya sopan.


Dia awalnya pindah dan satu ranjang dengan Gisel. Namun hanya dalam satu hari posisinya segera digantikan oleh Siti. Kini orang yang tidur bersebelahan dengan Gisel adalah Siti sedangkan Gadis pindah menggantikan posisi Siti yang sebelumnya. Gadis sangat sedih. Lagi-lagi dia menyalahkan Siti di dalam hatinya karena berani mengambil posisinya.


"Kami masih belum ngerti apa-apa jadi guru enggak akan marah kalau nilai kami nantinya jelek." Jawab Gisel enteng.


Situasi mereka pasti akan dimaklumi oleh para pengajar di sini karena mereka baru pindah ke sini dan tidak mengerti apa-apa tentang tulisan Arab gundul di setiap buku atau kitab.


Gadis juga tahu ini. Tapi dia mencoba menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan mereka lagi.


"Itu...aku bisa mengajari kalian."


Aish tersenyum tipis.


"Tidak perlu. Kamu sangat sibuk. Kami tidak bisa mengganggumu." Tolak Aish secara sopan.

__ADS_1


Gadis mengepalkan tangannya malu. Ekspresi diwajahnya menunjukkan kebingungan. Yah, dia bingung dengan perubahan sikap Aish kepadanya. Seolah-olah Aish sedang menjaga jarak darinya.


"Aish, apa kamu masih marah karena aku tidak membantumu membersihkan kamar mandi?" Pasti ini alasannya, kan?


__ADS_2