Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 29.5 (Suara Hati Aira)


__ADS_3

Tempat ini begitu hidup, ramai, dipenuhi oleh banyak suara tawa dan keceriaan. Namun entah mengapa dia dan tempat ini sepertinya tidak menyatu sama sekali. Mereka diwarnai kebahagiaan, sementara dirinya terjebak dalam kesepian. Sebuah rasa yang belum pernah dirasakan. Dulu dia menertawakan saudaranya yang hidup dalam kesepian tak berujung. Dia pikir saudaranya tidak akan pernah memiliki hari bahagia ini karena perhatian semua orang hanya tertuju kepadanya. Berpuas diri untuk hari yang paling menyakitkan yang tak berujung untuk saudara tersayang, kepuasan itu menenggelamkan hatinya. Tapi dia salah. Allah langsung membantah semua pikiran kotor ini. Hanya dalam waktu yang singkat dia membuat dirinya tertawa. Sungguh, ini sangat lucu.


Dia pikir saudaranya tidak memiliki teman lagi, tidak memiliki orang-orang yang perhatian kepadanya, dan bahkan tidak memiliki keluarga karena dia telah mengambil semua ini dari saudaranya.


Namun lihatlah sekarang. Saudaranya kini tersenyum bahagia dengan balutan gaun pengantin putih yang indah dan cantik. Rona merah itu begitu hidup, membuat mata banyak orang terpesona. Khususnya untuk laki-laki yang berdiri di samping saudaranya. Mata hitam itu tak pernah lepas dan selalu memandangi wajah saudaranya, seolah-olah saudaranya adalah satu-satunya orang yang dapat memasuki mata itu.

__ADS_1


Cemburu, dia sangat cemburu. Kedua tangannya mengepal menahan amarah. Hatinya terluka dan kecewa karena semua yang telah dia usahakan dengan susah payah, lenyap dalam waktu sekejap mata.


Ini sangat menyakitkan.


"Semenjak hari itu, hidupku langsung hancur kak Aish. Aku dihukum cambuk hingga pingsan berkali-kali dan masih belum bisa berjalan sampai beberapa hari yang sangat menyiksa. Karena luka cambuk di punggung, aku tidak bisa bergerak terlalu banyak dan kemana-mana harus menggunakan kursi roda. Ini sangat menjengkelkan, aku merasa payah. Tapi penderitaanku tiada habis-habisnya. Setelah dikeluarkan dari pondok pesantren dengan cara tidak hormat, kemanapun aku pergi untuk mendaftar sekolah, mereka tidak mau menerima ku. Padahal aku berprestasi, tapi kenapa mereka tidak mau menerimaku? Mereka sama sekali tidak mengetahui betapa berharganya aku. Lalu rumah? Hah, jangan bicarakan tentang mereka lagi. Manusia-manusia munafik itu mengucilkan ku di rumah. Mereka yang dulu selalu memuji-muji diriku, membandingkan diriku jauh lebih baik daripada dirimu kini dengan kompak memalingkan muka, tidak mau mengakui ku lagi. Ayah pun sekarang mulai bersikap dingin kepadaku. Saudaraku, hidupku benar-benar menderita di rumah sementara dirimu sangat bahagia di sini. Aku.... sangat marah kepadamu. Rasa-rasanya aku ingin mencekik mu saja untuk melampiaskan betapa marahnya aku. Menikah dengan habib Thalib, bagaimana mungkin semuanya berakhir sampai di sini?" Aira mengusap wajahnya depresi, berbicara dengan diri sendiri untuk mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


"Aira, ayo pulang." Bunda menepuk bahu putrinya.


Dia sangat kasihan dengan putrinya yang jatuh ke titik ini namun tak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya selain doa serta terus berusaha menghibur hatinya.


Aira tersenyum pahit.

__ADS_1


"Iya, Bun...aku mau segera tidur." Bisiknya lemah.


__ADS_2