
Semua makanan ditarik dan para pelaku penyimpangan dibawa pergi oleh staf kedisiplinan asrama putri. Tapi tak satupun santriwati yang masuk ke dalam kamar. Mereka semua berpura-pura bodoh, sok asik berbicara di depan kamar ataupun pintu padahal sebenarnya semua orang menunggu rombongan habib Khalid balik dari lantai atas.
Dan benar saja, tak berselang beberapa menit lamanya sosok habib Khalid mulai memasuki atensi semua orang. Habib Khalid turun bersama rombongannya yang sangat mencolok. Dipimpin oleh habib Khalid dan beberapa ustad, langkah mereka langsung menyita perhatian. Untuk sesaat tidak ada yang fokus pada keberadaan staf kedisiplinan asrama putri di belakang. Apalagi sempat memperhatikan wajah tersenyum dokter Ira yang sok lembut dan bersahaja, mereka mengabaikannya dengan mudah.
Alasannya simpel saja. Pesona habib Khalid dan ustad-ustad itu jauh lebih menyenangkan mata daripada melihat sesama jenis, ya, kan?
"Ck, habib Thalib terlalu mempesona. Ibaratnya dia nih berlian, yang lainnya timah." Decak Dira tidak tahan melihat habib Khalid.
Rasanya ada sinar yang membuat matanya silau sehingga dia selalu memiliki keinginan untuk berpaling atau menundukkan kepalanya.
Mulut mereka bertiga langsung berkedut tertahan mendengar pengandaian Dira yang terlalu...kejam. Normalnya perhiasan akan dibandingkan dengan jenis perhiasan yang sama juga. Tapi Dira sedikit melenceng, meskipun diantara mereka berdua diam-diam menyetujuinya.
"Jangan gitu ah, Dir. Habib Thalib memang berlian yang menyilaukan sedangkan para ustad itu adalah tembaga yang tidak sengaja terseret cahayanya." Tegur Gisel memperbaiki.
Siti semakin meringis mendengarnya. Tiba-tiba dia merasa bila orang-orang ini agaknya memiliki sirkuit otak yang sangat keras dan tajam, setidaknya cukup berbeda dengan sirkuit orang normal.
"Jangan banyak omong. Kalau di dengar sama mereka, kalian berdua pasti diseret bersihin kamar mandi lagi." Peringat Aish berusaha menahan senyum geli di bibirnya.
__ADS_1
Ah, kedua sahabatnya ini sangat unik.
"Iya...iya, diem nih." Dira langsung menutup mulutnya tidak suka diancam.
Ada trauma tersendiri saat mengingat kata kamar mandi diucapkan. Ugh, seumur-umur baru kali itu dia dipaksa membersihkan kamar mandi umum.
"Ssh..." Para santriwati kompak menundukkan kepala.
Mungkin ada beberapa santriwati yang nakal, diam-diam mengintip ke arah sang habib yang semakin dekat dengan mereka. Pipi mereka dihiasi semburat merah yang manis, mengintip malu-malu dari balik kerumuman yang tidak mencolok. Sungguh jatuh cinta yang manis, inilah rasa yang hanya bisa dikagumi dari jauh namun tak bisa realisasikan dengan dekat sebab sang objek kekaguman adalah seseorang yang tidak mudah digapai.
Tap
Tap
Tap
Seolah-olah langkah itu ditujukan kepadanya. Semakin dekat, maka semakin terjerat pula hati Aish. Hingga akhirnya ia tidak bisa menahan ******* hati. Mendongak ke atas, mata aprikot nya tertangkap basah mengintip ke arah sang habib. Aish tertegun, matanya terpaku melihat betapa tampan wajah sang habib. Perlahan wajah tampan itu membentuk garis senyuman yang sangat indah nan lembut, membuat hati Aish yang gelisah langsung terpana.
__ADS_1
Dug
Dug
Dug
Suara jantungnya bergema panik di dalam hatinya. Untuk sejenak, matanya tidak bisa berpaling dari pemilik mata gelap itu. Hangat dan manis, Aish tidak tahu sudah berapa kali ia merasakan sensasi ini tiap kali bertemu dengan sang habib. Namun yang pasti, tiap perasaan ini muncul sensasinya semakin kuat dan tertahankan, Aish sama sekali tidak pernah merasa bosan. Hatinya malah semakin ingin...ingin lebih dekat lagi-
"Akh!"
Kepalanya tiba-tiba ditekan oleh kekuatan besar. Aish langsung memegang kepalanya sambil mendelik kesal kepada sang pelaku yang telah menghancurkan momen indahnya.
"Apaan sih?!"
"Nunduk, begok. Kamu enggak lihat apa ekspresi dokter Ira di belakang waktu ngeliat kamu tadi? Ekspresinya suram banget seolah-olah pengen nyuntikin sianida ke darah kamu." Bisik Dira jengkel.
Dira punya kesadaran diri yang tinggi terhadap suasana hati orang karena belajar dari pengalamannya sewaktu di kota. Untuk beberapa orang, dia bisa mengatakan mereka tidak menyukainya tapi tidak berbahaya. Tapi untuk beberapa orang yang lainnya lagi, dia bisa mengatakan mereka tidak menyukainya dan agak berbahaya. Orang seperti ini sepatutnya dijauhi.
__ADS_1
Dan perasaan ini cukup dia rasakan ketika melihat dokter Ira tadi. Mungkin saja kebencian ini dipupuk saat Aish menenangkan perdebatan tadi. Yah, mungkin.