
Dia harus ikut ke pondok pesantren untuk melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri seberapa berani Aish menyakiti Aira. Huh, memikirkannya saja membuatnya langsung marah.
Mereka semua lupa atau berpura-pura lupa bahwa Aish pernah mengatakan bila dirinya tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Bagi Aish sendiri, dia merasa bukan bagian dari keluarga ini semenjak dirinya diseret ke pondok pesantren tanpa belas kasih. Dia bertekad untuk memulai kehidupan baru di luar kota, itu dulu, dengan premis dia tidak bersama habib Khalid. Namun sekarang sudah lain cerita. Dia telah bersama dengan habib Khalid, belahan dari jiwanya. Kemanapun habib Khalid pergi, dia tidak akan pernah melepaskan tangan Aish. Kemanapun dan di mana pun, Aish harus ikut bersamanya. Jadi sudah pasti dia tidak akan tinggal lagi di rumah ini. Rumah yang tidak pernah membuat Aish merasa hangat dan nyaman seperti rumah pada umumnya. Bagi Aish tempat ini adalah sebuah penjara, sumber dari rasa sakit di dalam hidup. Dia tidak mau kembali lagi.
...*****...
"Hush... Di mana aku?" Setelah sekian lama tidak sadarkan diri, dia akhirnya membuka matanya dan melihat lingkungan di sekitarnya.
Semuanya serba putih dengan bau disinfektan khas rumah sakit. Dia bingung mengapa dirinya berakhir di tempat ini?
Padahal seingatnya dia masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh habib Khalid, lalu dia melihat habib Khalid masuk ke dalam ruangan dan tanpa ragu sedikit pun, dia mengerahkan tenaga semampu yang dia bisa untuk memeluk habib Khalid. Selanjutnya semua terjadi sesuai dengan rencana yang diharapkan. Banyak orang berduyun-duyun datang menyaksikan drama yang dia buat. Semua orang sekarang tahu bahwa habib Khalid hampir menodainya- ah, katakan saja habib Khalid telah menodainya sehingga mereka berdua bisa menikah. Tapi...
"Apakah ini rumah sakit? Kenapa aku ada di rumah sakit?" Bukan di rumah sakit seharusnya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" Suara dingin seseorang menginstruksi kebingungannya.
Aira menoleh ke sumber suara, dia sangat terkejut melihat orang yang berbicara dengannya adalah Gisel. Lagi-lagi dia bingung, kenapa Gisel ada di sini?
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Aira bingung.
Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia bisa berakhir di rumah sakit dan ditemani oleh Gisel. Lalu di mana habib Khalid, calon suaminya?
"Kamu pikir aku mau datang ke sini?" Tanya Gisel ogah.
"Jika kamu tidak mau, lalu pergi saja." Balas Aira culas.
Gisel memutar bola matanya merasa jengah,"Jika aku bisa, aku pasti sudah pergi. Tapi Umi memberi perintah agar menjaga kamu."
__ADS_1
Oh jadi ini adalah perintah dari Umi. Aira tersenyum lembut.
"Gisel, aku tahu kamu marah kepadaku karena aibmu tersebar luas di pondok pesantren setelah pertengkaran kita. Tapi kamu tidak bisa menyalahkanku untuk masalah aib itu, karena kamu lah yang duluan memulai pertengkaran. Aku hanya membuat pembelaan untuk diriku sendiri dan bukan salahku bila aibmu tersebar luas." Merasa di atas angin, Aira mungkin masalah rumor yang baru-baru ini menyebar luas di pondok pesantren.
Rumor itu berisi tentang aib Gisel yang sengaja disebarkan oleh Aira sendiri untuk memberikan Gisel pelajaran agar jangan membuat masalah dan berani macam-macam lagi kepadanya.
Gisel tersenyum tipis,"Jangan berlaga bego, Aira. Aku tahu Kamu sengaja menyebarkan aibku kepada semua orang agar mereka mengucilkan ku di pondok pesantren. Tapi tidak apa-apa, tertawa lah sepuas yang kamu bisa. Aku yakin setelah keluar dari rumah sakit, kamu tidak akan bisa tertawa lagi." Ucap Gisel mengingatkan dengan rendah hati.
masalah yang terjadi di rumah Umi telah tersebar luas di pondok pesantren. Dominan semua orang memiliki satu suara kalau mereka percaya bila Aira sengaja ingin menjebak habib Khalid. Meskipun kebenarannya masih belum dipastikan, mereka yakin bahwa Aira adalah pelaku yang sebenarnya.
"Jangan mengatakan hal yang tidak jelas. Aku adalah korban, memangnya korban mana yang bisa tertawa ketika kehormatannya dinodai oleh laki-laki yang kalian semua hormati. Gisel, aku tidak sama dengan dirimu yang begitu mudah menyerahkan kehormatannya kepada laki-laki. Aku tidak, aku justru lebih baik menderita daripada kehormatanku di renggut. Memang ini sangat sulit dipercaya karena orang yang menodai ku adalah laki-laki yang kalian semua kagumi dan idolakan. Aku mengerti apa yang kalian rasakan. Tapi pikirkan posisiku sebagai korban di sini, hidupku sekarang hancur dan aku menginginkan sebuah keadilan." Aira langsung mengubah ekspresinya menjadi gadis yang menyedihkan dan tidak berdaya.
Hanya dalam waktu sekejap, dia mampu mengubah perannya.
__ADS_1
Gisel sampai tidak bisa berkata apa-apa. Jujur, dia sangat mengapresiasi ketebalan muka Aira. selain bermuka dua, ternyata ketebalan mukanya juga tidak tertandingi. Dia pantas lahir dari seorang pelakor. sungguh mengagumkan.