Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.2


__ADS_3

Jantung Aish sangat berdebar. Dia kira habib Khalid akan mendekatinya tapi ternyata habib Khalid hanya mengaitkan sesuatu di ranting pohon. Padahal kakinya sudah lemas tak bertulang karena terlalu gugup. Jika habib Khalid benar-benar mendekatinya maka dia mungkin sudah menggelepar di tanah sekarang.


Hey, kadang cinta juga punya sisi lebay nya, yah.


"Ini adalah ringkasan buku lamaku selama sekolah dulu. Aku pikir pelajarannya tidak jauh berbeda dengan tahun sekarang. Dan daripada menyia-nyiakannya di tempat ku, lebih baik buku-buku ini ku berikan saja kepadamu." Ucap habib Khalid kepada Aish.


Setelah itu dia membawa kakinya mundur beberapa langkah kembali ke tempatnya berdiri terakhir kali.


Mata Danis menatap heran ke arah habib Khalid. Pasalnya habib Khalid tidak pernah sekolah di Indonesia ataupun di pondok pesantren ini. Dia adalah lulusan dari sekolah terkemuka di negeri Arab dan sempat melanjutkan pendidikan di Mesir, tepatnya Kairo. Dan setahunya dari informasi yang dia dapatkan dari para senior di pondok, habib Khalid tidak pernah kembali ke Indonesia sejak 15 tahun yang lalu dan baru saja kembali ke Indonesia 6 bulan yang lalu. Berita luar biasanya adalah habib Khalid tiba-tiba memilih pondok ini untuk menetap dan memulai karirnya sebagai pengajar.


Jadi dari keseluruhan cerita ini habib Khalid tidak mungkin memiliki catatan pelajaran yang sama sama dengan pondok sebab pelajaran di setiap pondok berbeda-beda dan bahkan jalannya akan sangat berbeda dengan sekolah yang ada di luar negeri. Oleh karena itu Danis mau tidak mau merasa heran darimana habib Khalid mendapatkan semua catatan ini?


Tidak mungkin kan habib Khalid mengambil catatan anak pondok dan bahkan lebih tidak mungkin lagi jika habib Khalid menulis sendiri semua catatan di buku ini hanya untuk Aisha Rumaisha, gadis kota yang sempat mewarnai cerita-cerita di pondok beberapa hari ini.


"Ini...Kak Khalid...aku tidak bisa menerimanya."


Kak Khalid? Batin Danis terkejut.


Dan yang lebih mengejutkannya lagi habib Khalid tidak mengatakan apa-apa terhadap panggilan akrab Aish ini. Danis menjadi bingung.


Berbeda dengan Danis yang bingung, Aish justru merasa sangat senang habib Khalid masih memikirkannya dan bahkan membantunya belajar.


Tapi rasa malunya sungguh lebih besar. Dia masih sadar diri tidak bisa membaca, menulis ataupun menerjemahkan tulisan Arab gundul, ah!


Ini adalah problematika yang tidak bisa dipecahkan dengan mudah. Mungkin setelah sekolah selama 10 tahun di pondok, kesulitannya ini bisa dibatasi!

__ADS_1


Seolah mengerti kekhawatiran Aish, habib Khalid lalu berkata,"Kamu tenang saja. Aku menulisnya dengan huruf biasa lengkap dengan terjemahannya. Jadi kamu tidak perlu takut untuk mempelajarinya. Selain itu aku juga sudah membicarakannya dengan para penguji besok bila kamu dan temanmu akan diberi pengertian. Kalian adalah anak baru dan belum belajar lama sehingga staf pengajar tidak akan terlalu menekan kalian."


"Ah," Aish sontak mengangkat kepalanya kaget.


Habib Khalid bahkan membicarakan kesulitannya kepada para staf pengajar pondok?


Wajah Aish rasanya kian membengkak, berat dan sangat hangat seperti kentang panas yang baru keluar dari penggorengan.


"Terima kasih, Kak. Aku...aku sangat senang..." Bisik Aish seraya menundukkan wajahnya tidak memiliki keberanian menatap sang habib.


Di bawah cahaya bulan yang terang benderang, seulas senyuman manis perlahan terbentuk di wajah tampan tanpa cela tersebut. Mata gelapnya menyipit, tampak indah mengikuti garis senyum yang ditarik oleh bibirnya. Sejenak, waktu seolah berhenti diantara mereka. Bahkan sekalipun tak ada yang berbicara, alam seolah mengerti apa yang menggantung di hari Aish. Buaian angin malam yang sejuk nan segar buktinya. Seakan-akan pertemuan malam ini direstui oleh Sang Maha Romantis melalui sentuhan suasana lembut yang Aish rasakan secara perlahan merasuki hatinya.


"Baiklah, aku tidak akan menggangu waktumu lagi. Luangkan waktumu untuk belajar dan bertanyalah kepada teman kamar mu bila ada yang tidak kamu mengerti. Assalamualaikum."


Mereka berpisah begitu saja. Habib Khalid dan Danis membawa langkah kaki mereka menjauh untuk melanjutkan patroli yang sempat tertunda. Mereka melangkah dengan cepat dan perlahan tenggelam di bawah gelapnya malam yang dingin.


Sedangkan Aish masih berdiri di tempat. Mata aprikot nya tidak pernah berpaling sedikitpun dari pemilik punggung tegap itu. Mereka begitu kokoh hingga membuat banyak gadis menerbangkan sebuah ilusi bersandar di tempat itu. Hah, tidak terkecuali Aish sendiri.


"Hah..." Aish menghela nafas panjang.


Tangan kanannya meraba dadanya, merasakan debaran jantung yang masih belum kembali berdetak normal seperti biasanya. Malu, hatinya tak tahan lagi dengan perasaan lembut ini. Dia duduk berjongkok di atas rumput sambil menutup wajahnya yang masih panas. Ugh, dia sangat memalukan. Padahal mereka hanya bertemu dan berbicara saja tapi entah kenapa reaksinya sangat berlebihan.


Dia...hah, dia sangat sulit menahan diri ketika berhadapan dengan habib Khalid!


Bagaimana tidak, habib Khalid sangat tampan bahkan senyumnya pun lebih indah dari apapun yang pernah Aish lihat di dunia. Tidak hanya tampan secara fisik namun dalamnya pun juga sangat mempesona. Jarang Aish menemukan laki-laki yang sangat ramah dan mudah tersenyum tapi pada saat yang sama tidak mudah didekati.

__ADS_1


Sungguh, habib Khalid adalah orang yang tidak terjangkau- itulah yang orang-orang simpulkan tapi agaknya Aish tidak berpikiran seperti itu.


"Oi, Aish?" Suara Dira segera menarik Aish dari lamunannya.


Aish mengangkat kepalanya menatap Dira dan Gisel yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Malu, dia berpura-pura mengusap wajahnya agar mereka tidak melihat ada sesuatu yang aneh dari wajahnya.


"Muka kamu kok merah gitu, Aish? Kamu sakit, yah?" Sayangnya Gisel masih menangkapnya.


Aish spontan menggelengkan kepalanya sambil menyentuh wajahnya yang perlahan kehilangan suhu dan kembali normal.


"Aku...aku enggak apa-apa kok." Elak Aish tidak mau mengatakannya.


Dira menyipitkan matanya melihat Aish. Dia curiga ada sesuatu yang Aish sembunyikan.


"Aneh, pasti ada sesuatu yang terjadi saat kami belanja tadi, yah?" Tebak Dira tepat sasaran.


Namun Aish tidak mau mengatakannya jadi dia terus mengelak.


"Apa yang bisa terjadi sama Aisha Rumaisha?" Kata Aish bangga, dia kemudian mengalihkan topik pembicaraan,"Gimana? Apa aja yang kalian beli? Bagi sini. Aku udah enggak sabar tahu nungguin kalian."


Diingatkan tentang makanan yang mereka beli, Gisel dan Dira dengan mudahnya teralihkan- sebenarnya sih enggak, tapi mereka tidak bisa terus memaksa Aish untuk terus berbicara karena Aish sendiri enggan untuk membicarakannya.


"Kami beli banyak gorengan dan kue bolu."


Mereka meletakkan kantong plastik hitam di atas rumput seraya duduk bersila. Kemudian dengan tangan cekatan Dira membariskan beberapa gorengan yang jarang mereka temui di kota dulu- bukannya jarang tapi lebih tepatnya mereka yang ogah untuk membelinya dulu. Sekarang tinggal di tempat ini mereka akhirnya tahu bila makanan sederhana pun sangat enak dan lebih menggugah selera daripada makanan mahal di kota tempat mereka tinggal.

__ADS_1


__ADS_2