
Ayah tiba-tiba pulang ke rumah lebih cepat dari jadwal. Bunda pikir karena pekerjaan di kantor sudah selesai, itulah kenapa suaminya pulang lebih cepat. Tapi saat melihat wajah pucat suaminya, ekspresi wajahnya berubah khawatir.
"Ayo pergi ke pondok pesantren." Desak Ayah sambil mengeluarkan pakaian ganti dari dalam lemarinya.
Jantung Bunda langsung berdebar kencang.
"Kenapa kita pergi ke pondok pesantren, Ayah? Apakah terjadi sesuatu kepada Aira di sana?" Tanya Bunda panik namun belum bergerak mengganti pakaiannya.
"Abah tadi meneleponku. Dia bilang Aira mendapatkan masalah di pondok pesantren dan dikirim ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Masalah ini cukup besar dan menyangkut nama baik pondok pesantren, jadi dia meminta kita untuk datang karena akan ada sidang yang melibatkan putri kita." Jawab Ayah sambil menghentikan tangannya mengambil pakaian.
Dia tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Aira. Tetapi menilai dari nada suara Abah yang serius, dia menduga bila masalah ini sangat serius. Ayah bertanya tentang masalah apa itu, tapi Abah menolak menjawab dan memintanya untuk segera datang ke pondok pesantren. Mendengar perintah dari Abah, dia tidak menunda waktu dan segera pulang ke rumah untuk mengawasi beberapa baju ganti.
"Astagfirullah... Ayah, Aira dilarikan ke rumah sakit? Apa yang terjadi kepada putri kita? Bagaimana pondok pesantren bisa lalai dan membuat putri kita mengalami kecelakaan di sana?" Mendengar Aira mengalami kecelakaan di pondok pesantren hingga dilarikan ke rumah sakit, Bunda langsung histeris antara marah dan sedih karena putri yang dia besarkan dengan hati-hati tidak memiliki kehidupan baik di luar kota.
__ADS_1
"Abah tidak menjelaskan apa-apa. Dia hanya mengatakan bahwa masalah ini ada hubungannya dengan Aish juga. Jadi kita harus segera ke sana sebagai wali mereka." Kata Ayah tidak berdaya.
Kedua putrinya sama-sama mengalami masalah di pondok pesantren. Yang satu dilarikan ke rumah sakit, sementara yang satu lagi dia tidak tahu kabarnya. Hati Ayah campur aduk memikirkannya. Dia bertanya-tanya, mungkinkah Aish telah melakukan sesuatu kepada Aira hingga membuatnya dilarikan ke rumah sakit.
"Apakah Aish mengganggu Aira lagi?" Tanya Bunda murka.
"Aku tidak tahu."
Bunda menggelengkan kepalanya tidak percaya,"Sudah kubilang kan jangan mengirim Aira ke pondok pesantren yang sama dengan Aish! Dia tidak akan pernah hidup bahagia bila bersama dengan Aish! Aira akan terus-menerus diganggu oleh Aish, dia akan dilecehkan dan disakiti oleh Aish. Tapi kenapa Ayah belum mengerti juga apa yang aku maksud?! Apakah Ayah lupa bagaimana penderitaan Aira selama ini ketika Aish masih ada di rumah? Putriku tidak pernah hidup bahagia dan bahkan nyawanya terancam! Dia hampir saja meregang nyawa, tapi kenapa Ayah tidak pernah mengambil pelajaran dari masalah ini? Lihat sekarang apa yang terjadi. Masalah itu terulang kembali dan Aira harus dilarikan ke rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang. Ku harap itu tidak seburuk yang aku pikir. Tapi Ayah, bila sesuatu benar-benar terjadi kepada Aira atau bahkan nyawanya terancam, maka aku tidak akan memaafkan Aish lagi. Sudah cukup penderitaan yang dialami oleh putriku di rumah. Sebagai seorang Ayah, kamu harus memberikan keadilan untuk putriku. Usir Aish dari rumah ini dan jangan biarkan dia kembali lagi ke rumah ini. Jika tidak, maka aku akan angkat kaki dari rumah ini bersama putriku. Kami tidak sudi memiliki hubungan dengan orang yang hampir saja membunuh putriku!" Ucap Bunda membuat janji dengan suara lantang penuh emosi.
"Siapa yang mengizinkan kakak meninggalkan rumah ini! Kakak dan Aira tidak boleh angkat kaki dari rumah ini. Orang yang pantas meninggalkan rumah ini adalah Aish. Dia adalah bencana, aib, dan masalah yang terus-menerus menghantui keluarga kita. Aku tahu betapa menderitanya kakak melihat Aira ditindas oleh Aish, aku tahu, dan karena itulah kakak tidak pantas meninggalkan rumah ini. Harusnya Aish yang pergi. Dia tidak pantas berada di rumah ini!" Bibi tiba-tiba membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.
Awalnya bibi tidak mau menguping pembicaraan Ayah dan Bunda karena itu adalah masalah rumah tangga mereka. Namun saat mendengar sumpah Bunda tadi, dia akhirnya tahu kalau masalah ini ada sangkut pautnya dengan Aish. Dan dia semakin terkejut ketika mengetahui kalau Aish membuat masalah lagi kepada Aira di pondok pesantren hingga membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Geram, dia langsung masuk ke dalam kamar dan menolak gagasan Bunda untuk keluar dari rumah ini.
__ADS_1
Menurutnya orang yang pantas pergi dari rumah ini adalah Aish. Momok keluarga yang harus segera dienyahkan agar tidak menimbulkan masalah yang lain.
"Cukup, apa yang baru saja kamu katakan!" Ayah berteriak membentak bibi.
"Apa yang aku katakan memang benar, kak. Mau sampai kapan kakak membiarkan Aish mengintimidasi Aira terus-menerus? Apakah kakak tidak kasihan melihat Aira? Dia berulang kali dilukai oleh Aish tapi kakak tidak menghukumnya dengan serius sehingga sekali lagi dia mengulangi kesalahan yang sama kepada Aira. Tolong pikirkan situasi Aira." Bibi tidak direm meskipun dibentuk oleh Ayah.
Toh, apa yang dikatakan memang benar adanya bahwa Aish adalah masalah di rumah ini sedangkan Aira adalah keberuntungan.
"Jangan katakan apapun lagi. Masalah ini belum jelas kebenarannya. Mungkin saja Aira masuk ke rumah sakit karena suatu alasan yang tidak ada sangkut pautnya dengan Aish." Kata Ayah sambil mengemasi pakaian gantinya.
Posisinya sangat sulit. Dia tidak bisa memilih apakah harus mempertahankan Aira dan mengusir Aish. Baginya mereka berdua adalah darah dagingnya, harta paling berharganya di dunia ini. Dia tidak mampu kehilangan salah satu di antara mereka dan dia tidak mampu memilih salah satu diantara mereka. Dia tidak ingin memilih.
"Oh ya, kita lihat saja nanti. Jika Aish benar-benar melukai Aira, aku sendiri yang akan mengusirnya dari rumah ini. Dan aku akan ikut bersama kalian ke pondok pesantren. Aku tidak percaya jika bukan dia pelakunya, huh." Dengan begitu bibi langsung keluar dari kamar Ayah untuk mengemasi barang-barangnya yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
Dia harus ikut ke pondok pesantren untuk melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri seberapa berani Aish menyakiti Aira. Huh, memikirkannya saja membuatnya langsung marah.