
Tidak ada seorangpun di dalam kamar ini kecuali dirinya. Habib Khalid pergi entah ke mana, sedangkan dirinya bertugas membereskan kamar yang ditinggali oleh habib Khalid. Dia tidak merasa cemas ditinggalkan sendiri. Sesungguhnya dia malah senang karena bisa menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan dan merapikan barang-barang kekasihnya.
Ah,
"Semalam kami sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing, tapi kami belum memutuskan apa hubungan kami sekarang." Gumamnya sembari mengelap rak-rak buku.
Ada juga salah satu poin di mana Aish ingin menanyakannya kepada habib Khalid. Tapi pembicaraan mereka tidak bertahan lama semalam sehingga dia tidak bisa menanyakannya. Lalu setelah selesai shalat tahajud dan shalat subuh, dia juga tidak bisa berbicara karena harus mengaji. Dia tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya kepada habib Khalid.
Bertanya-tanya di dalam hati apa maksud dari perkataan habib Khalid yang mengungkapkan bahwa dia tidak menginginkan Aish menyukainya, tapi menginginkan Aish untuk jatuh cinta kepadanya. Implikasi dari perkataan ini adalah bahwa habib Khalid sudah mencintai Aish lebih dulu daripada Aish sendiri. Dia telah lama memendam perasaan ini dan belum mengungkapkannya karena Aish mungkin belum mencintainya.
Jadi,
"Apakah kak Khalid sengaja memberikanku banyak hukuman agar aku jatuh cinta kepadanya? Pftth! Mustahil. Orang normal mana yang akan jatuh cinta kalau dihukum terus-menerus...eh, tapi bisa jadi sih. Soalnya kan kak Khalid ganteng, kemungkinan besar orang yang dihukum terus-menerus oleh akan jatuh cinta dan tidak membencinya. Em, soalnya aku ngerasain sendiri. Walaupun kak Khalid orangnya kejam kalau memberi hukuman, tapi sebenarnya dia juga sangat baik. Aku perhatikan terkadang dia akan memberi keringanan terhadap hukuman yang kami jalani. Contohnya saat kami dihukum membersihkan sawah. Waktu itu kami tidak hanya diberi makanan bagi oleh kak Khalid, namun kami juga diminta berhenti bekerja setelah siang hari. Lalu hukuman kami dialihkan untuk membantu dapur umum memasak dan membersihkan pekarangan rumah Umi. Dibandingkan bekerja di sawah, kedua hukuman itu jauh lebih baik dan aman. Kami merasa puas. Yah, kak Khalid sebenarnya baik. Aneh saja kenapa banyak orang mengatakan dia kejam ketika memberikan hukuman." Aish menggelengkan kepalanya heran ketika mengingat pembicaraan teman-teman di kamarnya.
Terlalu banyak rumor yang tidak benar tentang kekasihnya. Itu hanyalah omong kosong belaka. Sebagai orang yang paling dekat dengan habib Khalid di pondok pesantren, dia tahu bahwa kekasihnya bukanlah orang yang seperti itu.
Setelah selesai membersihkan rak-rak buku, Aish kemudian beralih membersihkan nakas di samping tempat tidur. Tapi dia baru saja mengambil langkah ketiga dan perhatiannya sudah ditarik oleh sebuah kertas usang yang terselip di antara banyak buku-buku berat di atas nomor 3. Aish pikir kertas itu adalah sampah jadi dia menariknya dan berniat membuang kertas itu ke bak sampah.
"KR?" Tangannya membeku tertahan di udara.
__ADS_1
Dia menarik kertas itu lagi dan membawanya ke hadapan. Di atas kertas usang itu ada banyak sekali bentuk font yang indah dan cantik. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya.
KR,
Dua huruf ini bertebaran di mana-mana di atas kertas usang mengikuti perubahan banyak font. Bahkan ada juga tulisan Arab yang ditulis dengan kaligrafi yang indah.
Melihat kedua huruf ini, jantung Aish seketika berdebar. Dia memegang lehernya, menyentuh kalung yang diberikan oleh habib Khalid kepadanya sebagai pelipur lara atas kesedihan di dalam hati. Kalung ini juga berasal dari perusahaan perhiasan KR.
KR, apakah KR ada hubungannya dengan habib Khalid?
Ada kecurigaan di dalam hati ini. Dia menebak dengan perasaan yang sangat luar biasa. Entah itu kaget, sulit mempercayainya, dan bahkan kekaguman... Semuanya bercampur aduk di dalam hati.
Tersenyum sumringah, tangannya dengan cekatan melipat kertas usang itu dan mengembalikannya ke atas rak. Ini pasti sangat penting untuk habib Khalid jadi dia tidak akan membuangnya.
Dia kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan kamar ini sampai suara pintu mengalihkan perhatiannya.
Habib Khalid masuk ke dalam kamar dengan dua kantong plastik putih di tangan.
"Assalamualaikum, sudah lama menunggu?" Tanyanya seraya membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Aish menghentikan aktivitasnya membersihkan kamar dan mengambil dua kantong plastik dari tangan habib Khalid.
"Waalaikumsalam. Nggak lama kok, kak. Aku tidak terlalu merasakannya karena terlalu asik membersihkan kamar." Bola matanya bersinar terang ketika mengatakan.
Seolah ingin mengatakan bahwa dia ingin dipuji atas semua pekerjaan yang telah dia lakukan.
Habib Khalid tertawa geli. Tangan besarnya menyentuh puncak kepala Aish, dan mengelusnya pelan.
"Terima kasih kamu telah membantuku untuk membersihkannya. Gara-gara tidak pulang ke sini selama satu bulan, kamar ini jadi berdebu dan tidak terurus. Untungnya ada kamu di sini. Terima kasih. Oh ya, aku baru saja membeli bubur ayam. Terakhir kali aku memperhatikan kamu sepertinya suka dengan bubur ayam yang ku beli. Dan khusus untuk kamu, ada banyak telur puyuh di dalamnya." Habib Khalid menarik Aish untuk duduk di atas karpet.
Dia tadi keluar sebentar untuk membeli sarapan. Di antara semua sarapan yang enak pilihannya adalah membeli bubur ayam. Buburnya lembut dan hangat, sangat cocok untuk perut yang kosong. Tapi yang paling penting dari semua itu adalah Aish menyukainya.
Aish menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
"En, terima kasih, kak. Aku suka bubur yang kakak beli terakhir kali dan aku juga berterima kasih karena kalau kamu perhatikan makanan yang aku sukai." Hatinya terasa masam. Karena Ayah saja tidak pernah memperhatikan apa yang dia sukai, mungkin Ayah sebenarnya tidak tahu makanan apa yang dia suka dan tidak suka.
Rasanya pahit.
"Jangan memikirkan masa lalu. Lihat, aku di sini. Aku akan memenuhi semua yang kamu inginkan dan memperhatikan apapun yang kamu sukai serta tidak sukai. Denganku di sini, kamu tidak perlu mengingat masa lalu." Ucap habib Khalid kepada Aish.
__ADS_1
Perih rasanya melihat sang pujaan hati bersedih karena mengingat masa lalu. Dia memang belum pernah melihat bagaimana Aish menjalani hidup di rumah itu. Tapi dia tahu aku bahwa kekasihnya seringkali terluka karena di kesampingkan oleh keluarga itu. Beberapa bulan yang lalu ketika dia datang berkunjung ke rumah itu untuk mencari Kakek sebagai pengingat bahwa sudah waktunya mengirim Aish pergi, dia melihat perhatian semua orang hanya tertuju kepada Aira. Mereka berbicara lembut dan manis tentang Aira untuk menarik perhatiannya agar tertarik kepada Aira. Waktu itu dia tidak bisa menyebutkan bagaimana perasaan isi hatinya. Dia hanya berpikir bahwa beginilah keluarga yang pilih kasih dan terlalu mempercayai kedatangan orang baru. Terlalu mempercayai Bunda Aira membuat mereka lupa bahwa Aish juga pernah memiliki seorang Ibu yang pernah mereka dorong secara perlahan dengan jurang kehancuran.