
Aish nurut membersihkan lumut lumut yang ada di atas tembok. Bahkan tembok yang tinggi dan jauh dari jangkauan pun Aish paksa bersihkan hingga melukai buku jarinya.
"Hish.." Rasanya perih, Aish berusaha menutup mulutnya agar tidak berteriak atau mengeluh.
Namun rasanya agak aneh karena sedari tadi dia hanya berfokus mengawasi Aish. Apapun yang Aish lakukan akan langsung dikomentari oleh Khalisa, dikritik atau diminta untuk membersihkan ini-itu sampai-sampai Aish mulai kehilangan sabar.
"Awas aja suatu hari nanti pasti bakal ku balas." Gumam Aish nelangsa.
Kamar mandi di sini terdiri dari 7 pemandian umum dan 7 pribadi. Jadi bila ada santriwati yang sedang berhalangan, mereka bisa mandi di kamar mandi pribadi agar bisa menyembunyikan aib. Sedangkan mereka yang tidak dianjurkan mandi di tempat umum agar bisa menghemat waktu.
"Sekarang ambil kamar mandi ini." Khalisa menunjuk salah satu kamar mandi umum kepada Aish begitu dia keluar dari kamar mandi umum nomor 3. Jika dilihat-lihat ini adalah kamar mandi umum terakhir karena yang lain sudah dibersihkan.
Aish langsung menghirup udara dingin entah karena marah juga sedih. Marah karena merasa dirinya telah dianiaya dengan sengaja oleh Khalisa dan sedih karena habib Khalid sangat kejam menghukumnya dengan membersihkan kamar mandi.
Hei, ini sudah kamar mandi keempatnya hari ini dan hampir dua jam dirinya menahan muak membersihkan semua tempat kotor ini. Dan dari semua kamar mandi pilihan, Khalisa selalu sengaja mengarahkannya pada kamar mandi umum yang jauh lebih besar dari kamar mandi pribadi. Dia kesal, tidak bisa menerimanya tapi takut berdebat karena habib Khalid pasti akan lebih membela dia daripada dirinya.
Ah, hatinya langsung pahit saat memikirkannya.
"Apa kamu sengaja melakukannya?" Tukas Aish tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Khalisa menatapnya heran. Tidak hanya Khalisa saja, tapi beberapa orang yang ada di sini juga menatap Aish dengan ekspresi tanda tanya di wajah masing-masing.
"Maksud kamu apa, dek?" Tanya Khalisa tidak mengerti.
Aish langsung tertawa rendah mendengarnya.
"Tugas kamu di sini hanya mengawasi kami dan bukan untuk memerintah kami. Tapi yang aku lihat dari awal bekerja kamu malah memerintah aku, mengaturku harus melakukan ini dan membersihkan itu. Katakan, apakah ini tugas seorang pengawas? Enggak kan? Tugas pengawas adalah mengawasi apakah pekerjaan kami benar atau tidak, tapi kamu malah sok-sok mengatur kami. Atau mungkin pengawas di sini memiliki definisi berbeda dari semua yang orang tahu? Apakah pekerjaan pengawas di sini juga bisa mengatur dan memerintah?" Cecar Aish dengan luapan marah.
Dia merasa dihina olehnya karena Khalisa memerintahkannya untuk melakukan banyak hal dan menempatkan pada kamar mandi umum terus. Bagi dirinya yang sudah dengan paksa merendah mau menerima tugas ini sudah menjadi masalah besar bila dia juga diperintah melakukan banyak hal seolah-olah dia adalah seorang pekerja atau babu.
"Aish, kamu kenapa?" Gisel dan Dira buru-buru datang setelah mendengar keributan di luar.
"Dia sengaja ngatur-ngatur dan memerintah aku selama membersihkan kamar mandi umum." Kata Aish dengan kedua mata memerah.
"Ngatur dan memerintah kamu?" Tanya Gisel mengulangi.
Dira langsung ikut marah,"Bukannya tugas dia cuma ngawasin doang?"
Mereka menatap Khalisa dengan ekspresi tidak ramah dan kesal.
__ADS_1
"Aku tidak memerintah. Aku hanya memintanya membersihkan bagian-bagian yang kotor saja." Khalisa berdalih dengan wajah tak bersalahnya.
"Meminta? Apa iya meminta namanya kalau kamu suruh aku melakukan ini-itu yang seharusnya enggak dilakukan? Bahkan tembok yang sudah lama kotor pun aku disuruh membersihkannya. Apa enggak ngatur namanya ini!" Aish tidak mau kalah bicara sebab dialah yang benar-benar merasakan hati busuk gadis ini.
Entah apa dosanya kepada gadis ini karena setelah dia perhatikan dari kemarin gadis ini terus saja menargetkannya.
"Fitnah! Kak Khalisa enggak mungkin ngelakuin tindakan tercela itu. Kamu pasti sengaja merusak nama baik kak Khalisa biar semua orang tidak menyukainya!" Tuduh Meri menyalahkan Aish.
Lagipula semua orang sangat jelas dengan sikap dan perilaku Khalisa sehingga mereka tidak mungkin mempercayai Aish, si anak kota yang kurang ajar sejak awal masuk pondok pesantren.
"Nama baik belaguk banget! Memangnya dia siapa dan kenapa Aish harus mencemari nama baiknya, hah?! Kamu emangnya punya bukti? Kalau enggak jangan asal ngomong karena itu sama saja kamu memfitnah Aish!" Dira langsung angkat bicara dengan berani, menatap Meri tajam tanpa rasa takut sedikitpun.
Nasibnya emang kurang lebih sama dengan Aish karena orang yang mengawasinya adalah Meri. Tapi menurutnya Aish lebih menderita daripada dia karena Meri masih waras dan enggak terlalu kejam di kamar mandi tadi.
"Aku...aku memang tidak punya bukti tapi kamu juga tidak punya bukti atas tuduhan kamu tadi." Ucap Meri tidak mau kalah bicara.
"Kamu tanya bukti? Nih lihat tangan Aish sampai berdarah!" Gisel menunjukkan tangan Aish yang terluka tadi.
Tangannya sudah dibasuh tadi dan harusnya bersih, namun mungkin karena baru saja terluka darahnya masih keluar, tidak banyak tapi tidak bisa menutupi goresan daging yang terkoyak.
__ADS_1