
"Aku dulu pernah satu sekolah dengan adiknya Aish. Bukan karena aku ingin membela Aish, serius maksudku baik mengatakan ini. Dia bukanlah orang yang baik dan suka memanipulasi orang dengan wajah sok baiknya itu. Bahkan dia berani menghancurkan kehidupan seseorang- aku tidak bisa menyebutkan namanya di sini, karena ini adalah privasi orang. Tujuanku mengatakan ini agar kalian berhati-hati dan jangan sampai terprovokasi oleh apa yang dia katakan. Dia memiliki ular di dalam hatinya." Dira kesal mendengar apa yang Nana katakan.
Apa ini salah Aish? Selama tinggal di pondok pesantren dia tidak pernah mengatakan satu kata buruk pun tentang Aira kepada teman-teman kamar yang lain. Tapi dia, orang yang baru saja pindah langsung mengatakan kata-kata buruk tentang Aish kepada orang lain. Jelas dia bermaksud jahat dan ingin mencemarkan nama baik Aish di pondok pesantren. Hanya saja sebagai seorang saudara meskipun mereka berbeda Ibu, dia tidak mengerti mengapa Aira memiliki hati yang begitu busuk?
"Dira diam, jangan katakan apa-apa lagi. Biarkan dia melakukan apapun sesuka hatinya. Orang-orang tidak sebodoh itu." Aish menepuk pundak Dira agar berhenti berbicara lagi.
Sementara itu Gisel, orang yang pernah bersekutu dengan Aira di sekolah dulu, diam-diam menundukkan kepalanya menyesal. Tidak hanya menyakiti Aish tapi juga dengan kesalahan yang dia perbuat, dia menghancurkan hidupnya sendiri.
"Masya Allah ada habib Thalib." Perhatian semua orang langsung teralihkan.
Mereka dengan kompak melihat ke arah pintu masuk stand makanan santriwati. Di sana berdiri habib Khalid dengan senyuman lembut di wajah. Senyuman yang telah berkali-kali menyihir hati para santriwati.
"Tumben habib Thalib ke sini lagi." Fisik seseorang terpana melihat ketampanannya.
"Habib Thalib kian hari makin tampan aja, mau move on gimana coba kalau dia makin up sedangkan kita makin down?" Bisiknya dengan nada bercanda.
Sementara itu Dira dan Gisel tanpa sadar kompak menggelengkan kepala mereka bersama-sama. Hati mereka berdua sudah mati rasa melihat habib Khalid. Mata mereka sudah hampir dibutakan oleh semua perhatian sang habib kepada sahabat mereka, jadi bagaimana mungkin mereka menyimpan hati terhadap sang habib?
"Heran deh, tiap kali orang ini ke sini sama orang pasti langsung terdiam." Gumam Dira tidak berdaya.
"Orang yang enggak punya pesona mana mungkin ngerti. Udah, kamu lebih baik diam aja daripada malu-maluin diri sendiri." Ucap Gisel mendelik.
Dira langsung meneguk ludahnya kesal. Apa masa iya dia tidak memiliki pesona?
Tapi kalau dipikir-pikir sepertinya ada kemungkinan karena sampai dengan saat ini dia tidak pernah mendapatkan surat dari santri ataupun dikejar oleh laki-laki lain. Tidak seperti santriwati yang lain, mereka pasti memiliki pengagum rahasia yang diam-diam mengiriminya surat. Melihat dirinya yang masih jomblo sampai detik ini, dia bertanya apakah mungkin bila dirinya- nggak mungkin. Bukannya nggak ada yang mau, tapi tepat dirinya lah yang masih enggan mencari. Ya, Ini karena dirinya yang masih ingin jomblo!
__ADS_1
"Coba lihat deh muka Khalisa." Bisik Gisel sembari menggeser kepala Dira melihat ke arah samping agar melihat orang yang dia tunjuk.
Mereka berdua melihat ekspresi konyol di wajah Khalisa. Dia sepertinya belum menghilangkan harapannya kepada sang habib. Padahal mereka pikir Khalisa sudah tidak mengejar sang habib lagi, karena mereka tidak pernah melihatnya lagi setelah pertengkaran waktu itu.
"Mukanya sembelit banget, bakal aneh kalau ada cowok yang suka cewek kayak begini." Cibir Dira mengejek.
"Kamu benar juga. Kalaupun ada cowok itu pasti rugi nikah sama dia." Gisel diam-diam menertawakan perasaan bertepuk sebelah tangan Kalisha kepada sang habib.
Cinta ya cinta, tapi jangan memaksakan diri sampai-sampai bermain drama. Bukannya orang jatuh cinta tapi justru sebaliknya, orang yang melihat pasti jatuh ilfil.
"Habib Thalib mau ke meja kita." Suara itu segera mengalihkan perhatian mereka berdua.
Aish terpaku diam membisu ketika matanya menangkap sosok sang habib yang kini tengah berjalan ke arahnya. Bola matanya bersinar terang mencerminkan sosok sang habib enggan berkedip seolah takut kehilangan. Sampai akhirnya dia melihat bila sang habib sekarang tepat berada di sampingnya.
"Kak Khalid?" Sapa Aish malu-malu.
Kakinya yang berpijak di lantai seolah mengambang karena menerima perhatian dari seluruh pasang mata yang ada di sini. Ada cemburu juga iri, karena di antara mereka semua, Aish adalah satu-satunya gadis yang dihampiri oleh sang habib.
Tersenyum lembut, mata gelapnya menatap Aish tanpa penghindaran"Aku lupa memberikan barangmu tadi pagi yang tertinggal di sawah."
Barang apa? Aish tidak merasa meninggalkan barang apapun di sawah tadi pagi. Bukannya meninggalkan barang tapi dia malah mengambil barang sang habib dan masih belum kering sampai sekarang.
Seolah menjawab kebingungan Aish, lalu sang habib menaruh kantong plastik putih yang dia bawa ke atas meja tempat depan Aish.
"Jangan lupa minum setiap hari." Bisik sang habib dengan suara kecil sebelum berbalik pergi.
__ADS_1
Sang habib langsung pergi tanpa menunggu reaksi dari Aish. Langkah kakinya begitu ringan seolah tidak merasakan tatapan pasang mata dari ribuan satriawati yang mengaguminya di sini.
Mereka jelas sangat cemburu melihat sang habib menghampiri gadis lain. Jujur banyak gadis yang diam-diam berharap sang habib memperlakukan mereka sehangat yang dilakukan ketika berhadapan dengan Aish.
"Siapa gadis beruntung itu?" Mereka mulai berbisik-bisik.
"Kalau tidak salah namanya Aish."
"Namanya tidak asing."
"Tentu saja tidak asing, karena dia adalah gadis yang dirumorkan bersama habib Thalib baru-baru ini."
"Oh..." Mereka terdiam.
Sementara itu Aish tercengang dan semua teman mejanya melongo heran melihat kantong plastik putih yang ada di depan Aish. Mereka tidak mendengar bisikan sang habib. Sedangkan Gisel dan Dira dapat mendengarnya tapi tidak terlalu jelas.
"Ini.." Aish merasa tidak nyaman dengan banjir pasang mata yang masih betah melihatnya.
Nama Jujur saja, Dia sangat senang melihat kecemburuan di mata-mata mereka. Kalau bisa dia ingin mengatakan kepada mereka semua bahwa dia merupakan satu-satunya gadis yang di spesialkan oleh sang habib di sini. Selain dirinya, mereka semua tidak memiliki kesempatan.
"Saat di sawah tadi aku lupa membawa barang ku balik." Aish mengambil kantong plastik itu dan menaruhnya di atas pangkuan dan menutupinya dengan kain jilbab. Karena ini adalah pemerintahan sang habib maka dia tidak bisa membukanya di sini.
Gisel dan Dira yang tahu Aish tidak meninggalkan barang apa-apa,"...." Yo, ini adalah konspirasi.
Teman-teman kamarnya menatap iri bungkusan yang yang disembunyikan oleh Aish di balik jilbabnya.
__ADS_1