
Aish memutar bola matanya tak sabar.
"Udah, jawab aja sih." Desaknya tak tahan.
Sudut mulut Dira berkedut. Ia tiba-tiba merasa bila Aish ternyata tidak secerdas yang ia pikirkan. Bukannya cerdas, Dira lebih merasa bila sahabatnya ini agak...idiot?
Eh, apa semua ini gara-gara cinta?
Kalau iya, maka pengorbanan untuk cinta terlalu besar ditanggung. Dira tak berani memikirkannya dan diam-diam berdoa semoga virus itu tidak terlalu memperhatikannya yang jomblo.
"Itu simpel, Aish. Habib Thalib enggak mau disentuh sama Khalisa karena mereka bukan muhrim-"
"Bukan mahram!" Perbaiki Gisel di samping.
Dira mengangguk setuju tanpa rasa malu di wajahnya.
"Benar, mereka bukan mahram. Lagian habib Thalib jaga jarak bukan cuma ke Khalisa aja, tapi ke semua santriwati di sini termasuk kita juga." Sambung Dira menjelaskan.
Aish tertegun.
Memang dulu ia memikirkannya bila mereka tak seharusnya bersentuhan. Namun beberapa kali habib Khalid menyentuhnya. Bila hanya sekali, mungkin Aish akan menganggap jika itu adalah ketidaksengajaan atau spontanitas untuk menyelamatkannya.
Namun tidak, habib Khalid telah melakukannya berulang-ulang.
Aish bingung. Jantungnya mulai berdebar kencang. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya, mengapa habib Khalid memegang tangannya beberapa kali? Seakan tak ada penghalang di antara mereka.
"Kalau...kalau kak Khalid sentuh perempuan gimana?" Tanya Aish berdebar.
Baik Gisel dan Dira langsung memutar bola mata mereka geli. Pertanyaan mudah ini mengapa masih ditanyakan juga?!
"Ya dosa lah, Aish. Kita semua kan bukan mahram jadi mana bisa main sentuh aja! Kecuali perempuan yang ia sentuh adalah adiknya, Ibunya, kakaknya, atau istrinya. Setahuku aku ini, kurang lebihnya. Nanti kalau kamu bingung tinggal baca lagi buku yang dikasih habib Thalib ke kamu." Jawab Gisel santai tanpa memperhatikan wajah linglung Aish.
Aish menyentuh wajahnya aneh. Bertanya, mungkinkah ia adalah saudara perempuan sang habib yang terbuang karena tidak mungkin ia menjadi istrinya. Yah, logika saja. Aisha tak pernah merasa sudah nikah dengan habib Khalid- sebenarnya sih ia berharap. Anggap saja ia mengalami amnesia sehingga melupakan momen yang paling penting di dalam hidupnya!
"Kenapa, Aish?" Tanya Dira aneh melihat perubahan warna wajah Aish dari terdistorsi hingga senyum-senyum sendiri.
Aish langsung membuang pikiran tak masuk akalnya jauh-jauh.
__ADS_1
"Enggak, aku cuma kaget aja ngeliat Khalisa tiba-tiba deketin kak Khalid dan hampir nyentuh lengannya. Tapi untungnya kak Khalid cepat menghindarinya." Katanya lega.
Habib Khalid menjaga jarak dari Khalisa dan bahkan lebih enggan lagi melihatnya, jujur Aish sangat lega. Dan seperti yang sahabatnya jelaskan tadi, ternyata orang yang menjaga jarak dari Khalisa dan Nasha bukan hanya habib Khalid seorang, namun para ustad pun kompak memalingkan wajah.
Aish sekarang memahaminya. Hanya saja Aish masih bingung karena seringkali ia merasa diperhatikan oleh sang habib. Diperhatikan...
Aish mengangkat kepalanya melihat ke arah habib Khalid lagi-
Deg
Mata mereka bertemu. Aish sangat gembira dan tanpa sadar tersenyum. Namun, sebelum ia merasa lega, habib Khalid langsung memalingkan wajahnya tanpa senyum ataupun tatapan ramah seperti biasanya.
Habib Khalid masih bersikap dingin.
Aish murung. Makanan yang sudah disajikan di depannya langsung kehilangan godaannya. Menundukkan kepalanya, ia mengambil air minum di samping piringnya tanpa niat menyentuh makanannya.
"Kamu enggak makan, Aish?" Tanya Gisel di samping.
Aish menggelengkan kepalanya cemberut.
Gisel melihat wajah cemberut sahabatnya itu, lalu menoleh ke sang habib yang kini membelakangi stan makanan.
Ia kemudian menghela nafas panjang. Perihal perasaan sahabatnya, ia tak mau terlalu ikut campur karena ia memiliki catatan kriminal di hati Aish. Ia tidak mau Aish salah paham.
Selain itu, Gisel juga tidak berdaya mengurusi percintaan sahabatnya karena ia sendiri pun masih belum jelas!
Jatuh cinta terlalu sulit, ah!
"Makan, Aish. Perut kamu enggak boleh kosong, lho." Desak Dira sambil menarik piring Aish ke depannya.
Aish tersenyum tipis.
Makanan sangat penting di sini karena semuanya serba dibatasi. Menghela nafas panjang, ia lalu mengambil sendok makanan dan mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya.
Sementara itu di luar, habib Khalid dan beberapa ustad muda masih berbicara. Mereka sama sekali tidak mengungkit masalah Khalisa yang tiba-tiba datang dan hampir menyentuh lengan habib Khalid.
"Di sini ada beberapa anak baru yang datang dari kota." Seorang ustad tiba-tiba mengangkat masalah ini.
__ADS_1
Anak baru dari kota, semua pikiran langsung tertuju pada ketiga anak kota yang pernah membuat masalah besar di pondok. Namun sekarang setelah mulai beradaptasi, ketiga orang ini tidak terlalu mencolok lagi.
Habib Khalid tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
"Masya Allah, mereka bertiga cantik-cantik dan pemberani." Canda seorang ustad.
Memang rata-rata orang pondok memiliki paras yang cantik, namun sangat jarang mereka menemukan gadis yang pemberani seperti ketiga anak kota itu.
Mau tak mau ini membuat mereka tertarik dengan ketiga anak kota itu.
"Benar. Ada salah satu gadis yang paling mencolok diantara mereka bertiga, tapi aku tidak tahu namanya siapa." Kata salah satu ustad menyesalinya.
Lalu seorang ustad melihat ke arah stan makanan.
"Mungkinkah gadis berkerudung abu-abu yang duduk di meja nomor 3 itu?"
Perhatian mereka semua langsung tertuju pada Aish. Pasalnya wajah cemberut Aish sangat mencolok. Dan sekali lihat pun mereka tahu bila Aish adalah orang kota itu. Sebab Aish dan kedua sahabatnya memiliki gaya makan yang berbeda dari anak pondok normalnya.
Habib Khalid mengangkat alisnya. Terbatuk ringan, pandangan para ustad langsung ditarik oleh suara batik sang habib.
"Ayo mulai berpatroli. Seperti biasa, kalian bisa mengawasi area asrama putra sebelum masuk ke area kantor depan." Kata habib Khalid memberikan arahan.
Beberapa ustad langsung menghela nafas panjang. Mereka sebenarnya masih ingin melihat ketiga anak kota itu tapi perintah habib Khalid tidak bisa ditunda. Dengan senyuman penyesalan, semua orang langsung mengikuti habib Khalid pergi dan membuat para santriwati kecewa.
Padahal mereka sangat mengidolakan habib Khalid dan para ustad itu. Setidaknya mereka bisa menarik perhatian salah satu ustad jika tidak mendapatkan perhatian sang habib.
Namun harapan mereka malam ini harus tertunda, karena mereka semua telah pergi!
...****...
Pulang dari kantin, Aish dan kedua sahabatnya langsung kembali ke kamar. Mereka meregangkan tubuh mereka selama setengah jam sebelum naik ke atas ranjang. Kebiasaan mereka ini sering diikuti oleh teman-teman di kamar jika tidak ada yang sibuk belajar.
Duduk di depan lemarinya. Aish melihat tanggal merah yang sengaja ia lingkari di kalender.
Tanggal itu amat sangat berat untuknya dalam hidup ini. Namun meskipun begitu, tak pernah sekalipun ia absen dari tanggal itu.
"Aish, siapa yang ulang tahun hari itu?"
__ADS_1