Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 11.2


__ADS_3

"Kak Nasifa ngomong apa, sih? Walaupun Nadira tinggal seumur hidup di sana, tetap saja di hati Nadira cuma tanah air. Nadira enggak akan pernah melupakan tanah air kita." Nadira menjawab cemberut, berpura-pura marah.


Nadira adalah gadis yang cantik, persis seperti boneka Barbie. Mungkin karena mereka memiliki darah campuran sehingga membuat fitur wajah mereka seperti boneka Barbie yang cantik dan manis.


"Duh, kakak salah ngomong nih. Kakak kirain kamu udah lupain rumah gara-gara keasyikan belajar di sana." Kata Nasifa masih berbuat menggoda adiknya.


Nadira menggelengkan kepalanya. Pipinya yang cemberut kini mengembangkan sebuah senyum manis. Wajahnya yang cantik berkali-kali lipat manisnya setelah tersenyum.


"Ngomong-ngomong, gimana kabar pondok selama aku pergi, kak?" Nadira tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Nasifa menghela nafas panjang.


"Pondok selalu baik-baik aja dan santrinya semakin banyak. Abah dan Umi senang banget pondok pesantren kita menjadi tempat amanah pertama untuk orang tua di luar sana yang ingin anaknya mencari ilmu dunia akhirat." Kata Nasifa ikut bahagia.


Semuanya masih baik-baik saja sama seperti dulu. Namun akhir-akhir ini pondok pesantren punya banyak cerita yang tidak biasa dan jauh lebih hidup dari tahun-tahun sebelumnya.


"Oh, ya?" Nadira langsung bersemangat,"Aku senang banget, kak, dengarnya."


"Kapan-kapan aku ajak keliling, yah. Pondok pesantren kita sekarang jauh lebih luas dari terakhir kali kamu di sini." Kata Nasifa.


Nadira mengangguk cepat tidak menolak tawaran Nasifa. Pasalnya ia sudah lama tidak melihat pondok dan sudah sangat merindukannya. Selama belajar di luar negeri, Nadira selalu bertanya-tanya seperti apa pondok pesantren mereka sekarang dan seberapa banyak santri yang bisa ditampung pondok pesantren mereka sekarang.


"Boleh, kak." Nadira tiba-tiba mengalihkan perhatiannya menatap pintu kamarnya.


Setelah memastikan bila pintu kamarnya tertutup rapat dan tidak ada siapapun di kamar ini selain mereka berdua, Nadira akhirnya menarik pandangannya menatap Nasifa lagi.


"Ada apa, dek?" Tanya Nasifa heran dengan sikap Nadira yang tiba-tiba gugup.


Nadira tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Kak, kalau santri pondok pesantren kita sekarang jauh lebih banyak dari terakhir kali aku di sini, maka pengajarnya pun ikut bertambah, kan?"

__ADS_1


Fokus Nasifa teralihkan.


"Pasti dong, dek. Sekarang pondok pesantren kita punya banyak staf kantor dan pengajar, insya Allah cukup untuk kuota santri sekarang." Kata Nasifa pasti.


Ada banyak alumni yang memilih magang atau bekerja tetap di sini dan ada juga banyak orang luar yang bekerja di sini ikut memajukan pondok pesantren. Intinya pondok pesantren tidak kekurangan staf kantor atau pengajar karena Allah selalu mengirim orang-orang luar biasa yang mau membantu kemajuan pondok.


"Oh, terus dengar-dengar habib Thalib sekarang kerja di sini jadi staf kantor, beneran ya, kak?"


Mendengar adiknya menanyakan perihal habib Khalid, entah kenapa Nasifa merasa tidak nyaman.


"Iya, dek. Sebenarnya habib Thalib di sini juga kadang-kadang ngajar kok selain jadi staf kantor." Jawab Nasifa sambil mengamati perubahan ekspresi di wajah adiknya.


Nadira sangat senang mendengarnya. Wajahnya yang putih sontak mengembangkan warna merah, tampak tersipu malu.


"Udah berapa lama, kak?" Tanya Nadira tersipu.


Nasifa meneguk air ludahnya, ragu-ragu tapi masih menjawab.


"Sudah 6 bulan yang lalu."


Nadira langsung mengguncang pundak Nasifa sambil melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Kakak kok enggak ngomong apa-apa sih sebelumnya sama aku? Kenapa kakak enggak pernah bilang kalau habib Thalib udah lama di sini? Dan kenapa aku baru tahu sekarang kalau habib Thalib kerja di sini? Kalau aku enggak pulang maka aku enggak akan tahu kalau habib Thalib udah lama di sini?!"


Nadira marah sekaligus senang mendengarnya. Ia marah karena tak satupun keluarga yang memberitahu perihal kedatangan habib Khalid di sini dan ia juga senang karena habib Khalid akhirnya datang ke pondok pesantren setelah 16 tahun yang lalu menghilang.


Nasifa yang diguncang oleh adiknya tiba-tiba menjadi bingung melihat betapa tinggi antusias adiknya ketika membicarakan habib Khalid.


"Dek, berhenti!" Nasifa memegang tangan adiknya.


Nadira tersadar, wajah cemberutnya sontak memerah malu. Ia menarik tangannya menjauh dari pundak Nasifa.

__ADS_1


"Maaf, kak. Aku terlalu bersemangat." Kata Nadira malu-malu.


Nasifa memutar bola matanya malas.


"Okay, tenangin diri kamu." Kata Nasifa seraya memperbaiki bajunya yang berantakan karena ulah adiknya sendiri.


Nadira tersenyum malu. Ia juga kesulitan mengendalikan dirinya sendiri yang terlalu senang mendengar kabar ini. Saat pertama kali mendengar kabar ini di Kairo kemarin, Nadira tidak bisa membayangkan betapa bahagianya ia hari itu. Ia mendatangi teman-teman kamarnya. Memeluk mereka satu persatu untuk berbagi kebahagiaan dan bahkan melakukan hal-hal konyol yang mengundang gelak tawa. Untungnya di depan Nasifa, ia masih bisa mengendalikan suasana hatinya yang sedang meluap-luap.


"Em...kenapa kakak enggak pernah ngomong apa-apa soal kedatangan habib Thalib ke pondok?" Tanya Nadira jauh lebih tenang.


Nasifa mengangkat bahunya acuh.


"Kamu enggak nanya, dek." Jawabnya simpel.


Nadira sontak memutar bola matanya.


"Terserah deh. Eh, tapi sampai kapan rencananya habib Thalib kerja di sini? Soalnya kan orang tua habib Thalib udah enggak ada dan dia sekarang harusnya tinggal sendiri." Tanya Nadira berharap bila sang habib akan tinggal lama di sini.


Nasifa menggelengkan kepalanya ragu.


"Aku enggak tahu, dek." Karena mungkin habib Thalib hanya tinggal sebentar saja di sini. Batinnya ragu.


Kedatangan habib Khalid 6 bulan yang lalu sudah membuat Nasifa terkejut karena setelah 16 tahun tinggal di Arab dan Mesir, Nasifa pikir habib Khalid akan menetap di sana. Nasifa pikir kedatangan habib Khalid ke sini sangat tidak biasa dan memiliki tujuan tertentu. Bukan hanya sekedar mengajar atau mengabdi di pondok pesantren karena Abah bilang habib Khalid tidak akan tinggal lama.


Dan setelah dipikir-pikir, kedatangan habib Khalid ke sini mungkin menyangkut tentang penolakan 16 tahun yang lalu. Tahun dimana Nasifa merasakan betapa pahitnya cinta pertama.


"Yah..." Nadira agak kecewa mendengarnya.


"Dek, kamu jangan yang aneh-aneh, yah. Nanti Abah sama Umi marah kalau kamu mikir yang macam-macam." Kata Nasifa memperingatkan.


Nasifa pernah bertemu dengan habib Thalib dulu dan bahkan pernah berbicara dengannya jadi Nasifa memiliki kesan yang sangat dalam untuk habib Khalid dulu. Tapi Nadira berbeda. Nadira dulu masih kecil dan belum pernah bertemu dengan habib Khalid. Nadira malah mengenal habib Thalib lewat cerita mulut ke mulut banyak orang dan hanya bisa melihatnya lewat sebuah foto. Jadi Nasifa agak mengantisipasi adiknya ini karena Nadira sepertinya terlalu antusias mendengar tentang habib Khalid. Seolah-olah...yah, Nasifa tidak berani memikirkannya.

__ADS_1


Nadira tersipu malu dan menundukkan kepalanya malu melihat Nasifa.


"Kakak ngomong apa, sih? Emangnya pikiran apa yang bisa Nadira buat Abah sama Umi marah? Nadira kan enggak macam-macam." Kata Nadira membantah.


__ADS_2