
Kenapa kak Aish memanggil habib Thalib dengan sebutan 'kak Khalid'? kak Aish tidak bisa menghilangkan sifat kurang ajarnya meskipun sudah sekolah di pondok pesantren! Batin Aira marah di dalam hatinya.
Dia lalu mengamati habib Khalid dengan sorot mata penuh harapan. Berharap habib Khalid marah atau menegur Aish yang menurutnya kurang ajar.
Aneh, habib Khalid terlihat tidak perduli sama sekali dengan panggilan kurang ajar Aish. Seolah-olah dia tidak pernah mendengar apapun yang Aish katakan sebelumnya.
Habib Khalid peka terhadap pengamatan Aira namun tidak mengatakan apa-apa untuk berkomentar.
Habib Khalid mengangguk ringan kepada Aish. Air putih yang sebelumnya diabaikan kini berpindah ke mulut sang habib dan membuat Aira berseru kaget.
Gelas itu pernah disentuh Aish sebelumnya dan kini juga disentuh oleh habib Khalid. Tidakkah gambar ini terlihat familiar di dalam drama?
Mereka... berciuman?
Tidak! Aira menampik keras ide ini karena habib Khalid mengambil air dari sisi gelas yang lain. Yah, dari sisi gelas yang lain!
"Kak..." Aish memanggil tertahan melihat sang habib minum dari bekas bibirnya langsung!
Oh ya Allah, Aish yakin jika sisi yang habib Khalid sentuh adalah sisi yang dia sentuh saat minum tadi!
Bagaimana Aish melihatnya?
Bukankah ada tanda uap yang ditinggalkan bibir Aish di gelas saat minum tadi?
Yah, dan tanda itu kini hilang setelah sang habib menyentuh gelas itu.
Tidak, jantung Aish kembali menggila lagi di dalam dadanya. Tanpa mengatakannya pun Aish tahu bila wajahnya sudah sangat merah sekarang.
Ugh, mimpi apa dia semalam bisa minum di gelas yang sama dengan sang habib?
"Habib Thalib, bukankah gelas itu sudah kotor?" Tanya Aira cemburu.
Habib Khalid meletakkan gelas yang sudah kosong ke tempatnya semula.
__ADS_1
"Jika kotor, aku tidak akan meminumnya." Jawabnya sederhana.
Sudut mulut Aira berkedut tertahan. Bukan kotor itu yang Aira maksud, habib Khalid harusnya mengerti.
Sementara itu Aish berusaha untuk menutup rapat mulutnya agar tidak tersenyum. Jika dia tersenyum, bukankah pikirannya terlalu jelas?
"Jika kamu tidak makan lagi kita bisa pergi sekarang agar bisa kembali lebih cepat ke pondok pesantren." Kata habib Khalid kepada Aish.
Aish langsung menganggukkan kepalanya cepat-cepat takut habib Khalid menarik kata-katanya kembali.
"Pergi. Kita bisa pergi sekarang."
Aira merasa diabaikan oleh sang habib.
"Habib Thalib mau kemana dengan kak Aish?" Dia ingin ikut.
Habib Khalid berdiri dari duduknya dan tanpa memandang Aira, dia menjawab.
"Mengurus sesuatu." Sangat singkat dan tidak jelas.
"Oh.." Aira menggigit bibirnya cemas.
"Pulang lah. Tidak baik keluyuran di luar. Ayah pasti mengkhawatirkan mu." Pesan Aish datar diam-diam bersuka cita atas kemalangan adiknya.
Untungnya habib Khalid bersikap sangat acuh di depan Aira. Yang membuat Aish sangat lega. Pasalnya orang-orang di sekelilingnya mudah terpengaruh oleh Aira, mereka berpikir bila Aira adalah gadis yang istimewa.
Habib Khalid memimpin jalan di depan sementara Aish menyusul di belakang. Mereka pergi melewati Aira dengan sikap pengabaian yang tidak disamarkan.
Aira cemburu dan sedih. Dia lalu mengejar mereka berdua dari belakang berniat mengikuti mereka berdua pergi.
"Habib...habib Thalib, bisakah aku ikut bersama denganmu? Aku...aku sudah lama tidak bertemu dengan kak Aish dan aku sangat merindukannya." Aira menggigit bibirnya memberanikan diri maju ke depan untuk berbicara.
Habib Khalid memalingkan iris gelapnya menatap ke arah lain seraya menggeser langkah kakinya agak menyamping menjaga jarak dari Aira.
__ADS_1
Menjawab sopan,"Maaf, urusan ini tidak bisa melibatkan orang lain. Kamu bisa bertemu dengannya dilain waktu." Tolak habib Khalid tanpa menoleh sedikitpun ataupun menghentikan langkah kakinya.
Aira kecewa. Tapi dia tahu untuk tidak memaksakan kehendaknya di habib Khalid sebab dia tidak ingin meninggalkan kesan yang sangat buruk.
"Ah, aku mengerti. Kalau begitu tolong jaga kak Aish untukku." Katanya tulus, yah, hanya Allah yang tahu betapa 'tulus' hatinya mengatakan ini.
Habib Khalid mengangguk ringan tanpa meliriknya.
"Pasti. Kamu tidak perlu mengingatkan ku."
Dia lalu mempersilakan Aish masuk ke dalam mobil.
Aish tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah malu Aira. Meskipun ditutupi oleh cadar, Aish bisa melihat betapa tidak nyamannya Aira saat ini melalui sorot matanya. Syukurlah pikir Aish. Dia senang mengetahui pesona Aira ternyata tidak mempan di depan habib Khalid. Lagian habib Khalid kan sudah sering melihat wanita yang baik dan lebih baik lagi dari Aira di pondok pesantren. Cadar yang para wanita itu gunakan sungguh mencerminkan isi hatinya yang tulus dan tidak berniat mengikuti tren. Tidak seperti Aira yang menggunakan cadar karena tren dan fashion yang sedang booming di sosial media, hah...tentu saja hatinya tidak benar-benar tulus.
"Aira, hari ini sangat cerah. Jangan lupa banyak tersenyum ya, dek." Ucap Aish dalam suasana hati yang sangat baik sebelum masuk ke dalam mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung merubah wajahnya menjadi gadis yang kalem dan tenang, seolah-olah orang yang baru saja menertawakan Aira bukanlah dirinya.
Melihat mobil habib Khalid semakin menjauh dari pandangannya, Aira mengepalkan tangannya menahan cemburu. Dia jengkel dengan kelakuan Aish. Beraninya dia tertawa. Padahal Aish hanya numpang mobil saja dengan habib Khalid dan tidak bermaksud apa-apa.
Hah, yang benar saja. Orang seperti habib Khalid tak mungkin tergoda melihat Aish. Memangnya kelebihan apa yang dimiliki oleh Aish?
Selain cantik dan menawan, dia tidak punya apa-apa lagi. Nilainya rendah di sekolah dan tidak berprestasi, di samping itu akhlaknya sangat buruk hingga sering dikecam oleh banyak orang. Aish tidak punya apa-apa untuk dibanggakan dan habib Khalid tak punya alasan untuk menyukai Aish.
"Aku jauh...jauh lebih baik dari kak Aish." Gumamnya kesal.
"Tapi mengapa habib Thalib membawa Aish bersamanya dan mereka akan pergi kemana hari ini?" Bingung Aira iri sekaligus tidak rela.
"Pondok pesantren... apakah kak Aish bertemu dengan habib Thalib di pondok pesantren tempatnya sekolah sekarang? Jika benar begitu maka betapa bodohnya aku menolak tawaran Ayah hari itu!" Sungutnya menyesali kesempatan besar yang telah dilewati.
Jika saja dia tidak menolak, maka semuanya tidak akan pernah sampai ke titik ini. Dan kemungkinan besar orang yang ada di dalam mobil saat ini adalah dirinya, bukan Aish yang terlahir sia-sia.
"Aku harus pulang."
__ADS_1
Aira sudah kehilangan selera makannya dan dia tidak berniat melanjutkan perjalanannya lagi ke mall. Baginya tidak ada yang lebih penting dari urusan ini. Dia harus segera berbicara kepada Ayah agar bisa memindahkannya ke pondok pesantren.