
Baik Dira dan Gisel sebenarnya tidak terlalu memperhatikan makanan ini karena menurut mereka makanan itu juga tidak seberapa. Tapi situasi mereka sekarang berbeda. Di pondok, makanan sekecil atau sebanyak apapun pasti sangat bernilai untuk mereka. Menunggu makanan dari pondok pesantren saja tidak cukup- sebenarnya sih cukup-cukup saja kalau disyukuri tapi masalahnya mereka bukan orang tahan tidak makan makanan tambahan jadi semua makanan yang diangkut sungguh sangat berarti untuk mereka berdua.
"Makanannya akan di bawa ke dapur umum untuk dialokasikan ke kita semua nantinya." Jawab Siti menjelaskan.
Dira mendengus,"Dibalikin maksudnya?"
Siti tersenyum kecut, kalau dikembalikan lagi logikanya untuk apa pondok pesantren mengadakan razia dan bersusah payah mengangkut semua makanan ini pergi?
"Enggak lah. Semua makanan ini akan dibagi rata untuk semua santri dan santriwati saat makan di kantin nanti, bahkan walaupun sama-sama sepotong apel, semua orang harus wajib dapat. Jadi mana mungkin bisa dikembalikan ke kita." Jelas Siti kepada mereka.
Saat makan malam nanti mungkin mereka akan mendapatkan makanan pendamping, meskipun tidak seberapa namun semua orang bisa mencicipinya. Sejujurnya ini jauh lebih baik daripada menyimpan untuk diri sendiri sebab tidak semua orang memiliki kelebihan makanan untuk disembunyikan di dalam lemari.
__ADS_1
Gisel manyun. Namun di dalam hati dia sangat bersyukur karena semua coklatnya tidak diambil oleh staf kedisiplinan asrama putri. Jika tidak, maka hari-hari kedepannya tidak akan semudah itu bisa dilewati.
"Sayang banget. Tanpa makanan cadangan, hidupku pasti enggak tenang di sini." Celetuk Dira melebih-lebihkan.
Aish menyenggolnya tidak senang.
"Ya tinggal beli ke kantin aja repot. Pondok pesantren enggak ngelarang kita beli makanan atau jajan kok, asal dalam batas wajar dan tidak disembunyikan."
"Tahu kok. Nanti kita pergi belanja yah habis sholat ashar?" Kesedihannya dengan mudah berlalu.
Aish dan Siti tanpa sadar menggelengkan kepala tidak berdaya. Agaknya mereka berdua cukup terkesan dengan mental Dira yang berubah-ubah.
__ADS_1
"Nah, anak-anak ini mau dibawa kemana? Apa hukumannya sudah dimulai dari sekarang?" Perhatian semua orang kembali ke pelaku-pelaku penyimpangan yang tengah diorganisir pergi mengikuti salah satu staf kedisiplinan asrama putri.
Mereka sepertinya sangat enggan dan bahkan tidak mau bergerak pergi tapi ditegur tegas oleh salah satu staf kedisiplinan asrama putri. Akibatnya mereka terpaksa mengikuti dengan malu.
Siti menggelengkan kepalanya membantah.
"Hukuman mereka enggak akan dimulai sekarang karena mereka semua dibawa pergi untuk menemui Umi di rumah. Masalah sebesar ini umumnya akan ditangani Umi dulu sebelum diambil alih oleh pondok pesantren." Kata Siti menjelaskan.
Umi, semua orang jelas tahu siapa yang Siti maksud. Umi di pondok pesantren bagaikan Ibu negara yang sangat dihormati dan dimuliakan. Jangankan mencium tangan Umi, banyak santriwati yang seringkali berebutan memasuki rumah Umi untuk sekedar menyapu atau membantu pekerjaan lainnya. Pasalnya Umi juga seorang sarifah yang memiliki keturunan darah mulia di tubuhnya.
"Oh, maka mereka semua pasti sangat malu dihadapan Umi nanti." Bisik Aish prihatin.
__ADS_1