Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 24.8


__ADS_3

Soalnya Aish selalu khawatir dan memikirkan habib Khalid semenjak di bawa ke rumah sakit. Dia tidak bisa tenang. Duduk tidak mampu menghibur suasana hatinya dan bahkan berdiri pun sama. Bibi mengerti apa yang dirasakan oleh Aish. Bila suaminya ada di posisi habib Khalid, dia juga tidak akan bisa mengendalikan emosi di dalam hati.


"Apakah dokter mengizinkan aku masuk ke dalam, bibi?" Tanya Aish antusias.


Bibi menganggukkan kepalanya memastikan bahwa dokter memang mengizinkan dia masuk. Aish sangat senang. Tanpa menunggu bibi berbicara, dia membuka pintu bangsal habib Khalid dan langsung masuk ke dalam. Bibi melongo kaget melihat kecepatan tangan Aish. Untuk sesaat dia tidak bisa berkata-kata karena keponakannya sangat cepat tanggap bila menyangkut soal habib Khalid.


"Anak muda zaman sekarang...ck...ck.." Bisik bibi tidak berdaya.


Paman mengucapkan selamat tinggal kepada dokter setelah mendapatkan arahan dan instruksi dari dokter untuk situasi habib Khalid selanjutnya. Ternyata kondisi habib Khalid cukup serius. Dia sempat meremehkannya karena habib Khalid jatuh pingsan. Beruntung dia langsung mengambil tindakan mengirim habib Khalid ke rumah sakit sehingga obat-obatan itu tidak menyebabkan komplikasi serius di tubuh habib Khalid.


"Di mana Aish?"


Bibi melirik suaminya,"Dia sudah masuk ke dalam. Kenapa, habib? Apakah dokter mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


Bibi memegang tangan besar suaminya. Lalu dia menarik sang suami duduk di kursi tunggu untuk membicarakan kondisi habib Khalid.


"Dokter tidak mengatakan hal-hal yang serius dan menginstruksikan agar kita tidak mengganggu waktu istirahat habib Thalib. Jangan bicarakan dulu masalah habib Thalib. Menurutku yang harus kita perhatikan sekarang adalah situasi keponakan kita. Dia mungkin trauma melihat keadaan habib Khalid tadi siang. Saat dia keluar dari kamar nanti, ajak dia jalan-jalan untuk merilekskan pikirannya." Ujar sang suami kepada istrinya.


Paman adalah seorang Ayah, dia memiliki dua putri dan satu putra. Sebagai seorang Ayah tentunya dia tahu bagaimana perangai seorang anak gadis. Mental mereka agar rapuh dan mudah terstimulasi oleh hal-hal yang cukup buruk. Dia khawatir gara-gara masalah ini membuat Aish meninggalkan trauma mendalam di dalam hati.


"Jangan khawatir, mas. Keponakan kita tidak serapuh itu. Dia adalah gadis yang kuat. Mas juga melihatnya sendiri kalau selama di sini dia tidak pernah menangis atau histeris. Aku memperhatikan bahwa dia sangat tenang dalam situasi ini. Tapi meskipun begitu aku juga berniat membawanya jalan-jalan nanti untuk menghibur dirinya agar jangan terlalu terbawa suasana." Bibi mengerti kekhawatiran suaminya.


Bibi juga sempat takut jika Aish suasana. Namun setelah diperhatikan baik-baik, keponakannya ternyata tidak terlalu rapuh dan malah memiliki hati yang cukup kuat. Sungguh, dia melihat bayangan kakaknya di dalam diri Aish. Tenang dan keras kepala, mereka seperti berasal dari cetakan yang sama- ah, bagaimana mungkin dia bisa lupa kalau Aish adalah putri dari kakaknya. Sungguh konyol.


Beberapa saat yang lalu mereka sempat mengobrol dan melihat video rekaman di ponsel sang habib. Durasinya kurang lebih setengah jam. Berawal dari seorang laki-laki paruh baya menghampiri habib Khalid hingga kedatangan banyak orang yang mengelilingi tempat kejadian. Semuanya masuk dalam lensa kamera dan terekam dengan jelas. Video ini membuktikan bahwa habib Khalid tidak ada sangkut pautnya dengan Aira. Bahwa sejak awal habib Khalid tidak pernah menyentuh pintu kamar itu. Mereka langsung lega karena habib Khalid tidak membuat mereka kecewa.


"Kita akan melihat situasinya lebih dulu, mas. Dengan bukti kuat yang ada di tangan kita sekarang dan ditambah dengan saksi kunci di tempat kejadian, harusnya kita bisa membawa masalah ini ke meja hijau. Tapi dengan premis habib Khalid menyetujui langkah yang kita ambil ini, dan barulah kita bisa membuat keputusan masalah ini akan dibawa ke mana. Sesungguhnya aku sangat berharap bila masalah ini dibawa ke meja hijau agar pelaku kejahatan ditangkap dan diberikan hukuman yang tegas. Tidak bisa dibayangkan bagaimana hancur hati keponakan kita bila habib Thalib masuk ke dalam jebakan. Membayangkannya saja membuatku marah. Tapi mas aku heran melihat Aira juga memiliki obat yang sama di dalam tubuhnya. Sudah begitu dia mengaku-ngaku bila habib Thalib akan menyentuhnya, apakah dia tidak sedang bermimpi? Jangan-jangan masalah ini merupakan rencana darinya? Jika benar, aku tidak tahu harus berkomentar apa kepadanya tapi aku sangat mengagumi orang tua yang telah membesarkannya menjadi orang seperti ini. Mereka pasti sangat kecewa." Membicarakan tentang Aira, ekspresi di wajah bibi sangat muram. Ada beberapa dugaan samar di dalam hatinya tentang masalah ini.

__ADS_1


Namun di antara semua tebakan itu, dia lebih percaya dan yakin kalau semua ini adalah rencana Aira. Karena semua ini terlalu janggal menurutnya. Bagaimana bisa Aira meminum obat yang sama dengan habib Khalid dan bahkan Aira koar-koar mengakui bahwa habib Khalid adalah orang yang menyentuhnya. Bukankah ini sangat aneh?


Di antara semua orang atau laki-laki di pondok pesantren, mengapa Aira malah menuduh habib Khalid menyentuhnya?


Ini pasti sebuah konspirasi dan rencana yang sudah disusun dengan baik.


"Aku juga sependapat dengan kamu. Tapi kita hanya bisa menunggu ketika semua orang telah kembali ke pondok pesantren untuk memulai penyelidikan agar jangan berburuk sangka. Untuk sementara kita harus bersabar."


Dia mencurigai Aira untuk alasan yang dapat dimengerti. Tapi dia tidak mau terlalu berburuk sangka dan memilih untuk menunggu ketika semuanya berkumpul. Intinya kesimpulan dari masalah ini adalah habib Khalid terbukti tidak bersalah itu jauh lebih penting dari apapun sehingga keponakannya tidak akan kecewa.


"Iya, mas. Aku mengerti apa yang mas katakan. Sekarang sudah masuk waktu shalat ashar, sementara Aish menemani habib Thalib di bangsal, kita pergi shalat dulu mas. Nanti setelah balik dari mushola kita akan mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan buat mereka berdua. Ayo mas."


Waktu shalat ashar sudah tiba, mereka tidak mau menunda dan langsung pergi ke mushola bersama-sama. Setelah pulang dari shalat ashar, mereka sempat mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan. Mereka tidak tahu sampai kapan habib Khalid akan dirawat karena setelah mendapatkan penanganan dari rumah sakit, kondisi habib Khalid sudah membaik.

__ADS_1


...*****...


Sementara itu di dalam bangsal rumah sakit tempat habib Khalid dirawat, Aish berjalan hati-hati agar tidak mengganggu waktu istirahat kekasihnya. Dia menarik kursi samping tempat tidur sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara mengganggu. Lalu dia duduk di samping tempat tidur. Tangan yang saling meremat karena gugup dan sudah berkeringat banyak perlahan meraih tangan kanan sang kekasih. Sedangkan tangan kiri habib Khalid dialiri cairan infus berwarna putih untuk menopang cairan tubuhnya.


__ADS_2