Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (6)


__ADS_3

Pulang dari dapur umum, Gisel dan Laras langsung kembali ke asrama. Baju mereka berdua bau makanan karena tinggal di dapur selama beberapa jam. Laras sudah terbiasa dengan kehidupan di dalam dapur. Tinggal di kapur memiliki beberapa resiko. Baju bau makanan, pakaian terciprat minyak ataupun kuah, dan seringkali pakaian menjadi kotor. Untuk mengantisipasi semua kerugian ini, Laras sudah menyiapkan 3 baju yang khusus digunakan selama memasak di dalam dapur. Ini dilakukan untuk mengantisipasi bila pakaian ternoda sesuatu yang tidak bisa dihilangkan. Tidak hanya Laras saja yang memiliki ide ini. Namun semua orang yang tinggal di dapur juga menggunakan ide ini. Mereka tidak mau pakaian mereka kotor. Bukannya berlebihan, tapi makanan yang mereka masak adalah porsi besar pondok pesantren. Di mana pondok pesantren Abu Hurairah memiliki ribuan santri dan santriwati. Tak pelak, setiap kali memasak pasti baju mereka mengalami masalah. Kalau tidak mengalami masalah ya sangat disyukuri. Tapi bau makanan yang menempel di pakaian sangat tidak nyaman di bawa tidur.


"Kamu harus menyiapkan beberapa pakaian yang khusus digunakan untuk bekerja di dalam dapur. Kalau tidak, dalam waktu 1 minggu cucianmu pasti menumpuk." Laras berbagi informasi dengan Gisel ketika melihat Gisel mencium bajunya.


Sayang sekali. Baju Gisel bagus, terlihat masih baru. Tapi gara-gara bekerja di dapur, baju ini jadi kotor. Lihat saja noda-noda minyak di sekitar lengan Gisel, cek, Laras lupa memberitahunya tadi sore.


Gisel juga kesal tidak mempertimbangkan masalah ini dari awal. Gara-gara terlalu bersemangat, dia sengaja mengambil baju yang dibelikan Aish kepadanya dua bulan yang lalu. Gamis ini termasuk gamis kesayangannya. Kainnya bagus dan lembut, nyaman dipakai. Dan yang paling penting adalah gamis ini pemberian dari Aish. Sahabatnya.


"Terima kasih kak sudah mengingatkan. Aku akan menyiapkan baju khusus untuk bekerja di dapur." Gisel telah berpikir menggunakan gamis yang mana. Tapi untuk sementara pikiran ini dikesampingkan dulu. Badannya gerah dan lengket gara-gara tinggal di tempat yang panas. Belum lagi bau makanan yang menyiksa, dia tidak tahan.


"Kak Laras, aku mandi dulu, ya? Badan aku lengket semua, aku nggak bisa tidur kalau nggak mandi." Gisel izin pergi mandi.


Laras awalnya heran melihat Gisel mandi malam-malam. Tapi setelah mendengarkan penjelasan singkatnya, dia langsung mengerti. Maklum, Gisel belum terbiasa dengan kehidupan di dapur jadi dia belum beradaptasi. Nanti setelah terbiasa dengan dapur, lama-lama Gisel juga malas mandi malam.


"Okay, aku juga mau ganti baju dan ambil air wudhu sebelum tidur."


Mereka berdua kemudian pergi ke kamar mandi bersama-sama.


Gedung ini memiliki 5 kamar mandi per lantai dan secara total semuanya berjumlah 15 kamar mandi. Berhubung mereka adalah pekerja, urusan mandi tidak terlalu mendesak.


Gisel suka kamar mandi di sini. Semuanya satu orang per kamar mandi. Tidak seperti di asrama putri, meskipun ada kamar mandi pribadi tapi terkadang dimasuki duluan sama santriwati lain. Alhasil dia, Dira, dan Aish terpaksa mandi di kamar mandi bersama santriwati lain. Dan itu sangat menyiksa karena mereka bertiga sama sekali tidak terbiasa!


Beberapa kamar mandi lainnya telah terisi oleh orang lain. Untungnya masih ada kamar mandi yang kosong. Gisel mempersilahkan Laras untuk mengambil air wudhu dulu. Setelah Laras pergi barulah dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Air yang sejuk segera mengguyur tubuh lelahnya yang lengket. Matanya terpejam nyaman merasakan udara segar membebaskan dirinya dari perasaan gerah. Dia tergoda mengguyur kepalanya. Tapi dia tidak berani karena pernah mendengar seseorang berkata bahwa membasahi kepala dapat mengundang penyakit. Jadi dia dengan enggan melewatkan sesi itu.


Mandi sebentar saja. Kurang lebih 20 menit kemudian, dia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan puas. Sementara bajunya yang kotor dilipat dengan rapi untuk dibawa kembali ke kamar. Dia belum membeli sabun cuci jadi untuk sementara dia tidak mencuci pakaiannya.


Cklak


Masuk ke dalam kamar, Laras tidak menggunakan jilbab saat tidur. Dia memiliki rambut keriting dan membiarkannya tergerai begitu saja di atas bantal. Seolah memperhatikan tatapan Gisel, dia tersenyum lebar.


"Sudah selesai mandi?" Tanyanya berbasa-basi.


Gisel mengangguk sambil tersenyum.


"Sudah kak, rasanya sangat nyaman. Aku tidak merasa gerah lagi." Jawab Gisel santai.


Dia mengambil bak cucian dari bawah meja rias dan menaruhnya di samping tempat tidur. Lalu baju kotor tadi dia lempar ke sana bersama jilbab.


Gisel memiliki kebiasaan. Dia tidak suka tidur tanpa menggunakan jilbab. Kebiasaan ini sudah ada sejak ia tinggal di asrama bersama teman-teman yang lain. Dulu di asrama semua orang menggunakan jilbab ketika tidur. Jadi dia dengan enggan mengikuti, tapi lama-lama terbiasa dan tidak biasa jika melepasnya.


"Di mana ponsel kamu, dek?" Laras tengah bermain ponsel sambil rebahan.


Gisel baru ingat kalau dia masih belum mengambil ponselnya di kantor. Sekarang dia sudah bukan santriwati lagi, dia tidak harus menyembunyikan ponselnya karena dia adalah seorang pekerja di sini.

__ADS_1


"Aku belum mengambilnya, kak. Besok saja ketika ada waktu." Kata Gisel sembari merebahkan dirinya di atas kasur.


"Baiklah." Laras kembali fokus memainkan ponselnya.


Gisel termenung sendirian. Dia tiba-tiba merindukan kedua sahabatnya yang masing-masing telah memiliki jalan hidup. Harusnya dia tidak terjebak dalam kesepian. Karena kedua sahabatnya telah melangkah maju ke depan, jadi dia juga harus berani.


Menghela nafas panjang, dia tiba-tiba teringat pemberian Danis di dapur tadi. Dia lupa mengambilnya dari baju tadi. Untung saja baju itu tidak basah dan masih kering. Jika basah, dia takut pemberian Danis akan rusak.


Melihat Laras yang sedang asyik memainkan ponsel dan mengabaikan dirinya, Gisel berpura-pura batuk ringan sebelum menggeledah saku pakaiannya yang kotor di dalam bak. Tidak butuh waktu lama, dia menemukan sapu tangan terlipat milik Danis.


Mengambilnya cepat lalu kembali rebahan di atas kasur. Gisel buru-buru membentangkan selimutnya dan bersembunyi di dalam. Lampu kamar masih belum dimatikan, jadi dia bisa melihat dengan bebas di dalam.


Pertama-tama Gisel memperhatikan lipatan sapu tangan yang rapi. Kainnya lembut, sekilas harganya tidak murah. Dia memang mendengar dari orang-orang kalau Danis berasal dari keluarga kaya raya.


Mengambil nafas panjang, Gisel tahu bahwa pondok pesantren ini diisi oleh orang-orang yang berasal dari berbagai macam latar belakang. Ada yang miskin terlalu miskin, ada yang biasa-biasa saja, ada yang berasal dari keluarga kaya raya, ada pula yang berasal dari kalangan luar biasa seperti Aish.


Semuanya bercampur aduk di tempat ini tanpa membeda-bedakan diri. Menggunakan seragam yang sama, harus menutupi aurat, tidak memiliki barang-barang mewah untuk dipamerkan, dan semua orang memakan makanan yang sama. Di sini percuma memiliki banyak uang karena uang sebanyak itu tidak menemukan barang yang cocok untuk dibelanjakan. Diizinkan membeli kebutuhan sehari-hari yang harganya tidak seberapa. Memang diizinkan untuk membeli makanan di kantin yang harganya tidak seberapa, tapi masih di batasi. Uang di sini benar-benar tidak terlalu memiliki banyak posisi.


"Lumayan berat." Bisik Gisel sambil menimbang berat sapu tangan itu di tangan kanannya.


Perlahan Gisel membuka lipatan sapu tangan. Gerakannya yang sangat hati-hati, seolah-olah takut merusak barang yang ada di dalam. Beberapa detik kemudian dia menemukan sebuah kotak persegi sebesar telapak tangan. Dari kemasan kotak itu Gisel mengetahui apa yang ada di dalamnya.


"Dark coklat 50%!" Gisel berseru kaget.


"Masya Allah, akhirnya aku memiliki kesempatan lagi untuk memakan coklat ini. Dan potongannya jauh lebih besar dari yang aku beli." Membuka kotak coklat, wangi manis dan pahit yang bercampur padu segera menghantam indera penciumannya.


"Baunya enak. Eh, ada surat?" Tiba-tiba dari bawah kotak, jatuh sebuah kertas kecil.


Ini adalah surat. Surat dari Danis untuknya. Dengan dada berdegup kencang dia membuka surat itu. Berusaha menahan tangannya yang gemetaran agar tidak bergerak lagi. Tapi dia tidak bisa, sungguh tidak bisa. Hatinya terlalu gugup gugup. Ya, gugup dan senang pada saat yang sama. Bagaimana mengatakannya?


Intinya dia sangat bersemangat sampai-sampai tidak bisa mengendalikan reaksi tubuhnya sendiri.


Aku sudah menanyakannya ke dokter langsung. Coklat jenis ini cocok untuk kamu. Ada 15 potong kecil di dalamnya. Kamu bisa memakannya selama 5 hari, tolong jangan diabaikan dan makan dengan patuh. Danis.


Pesan yang tertulis di dalam surat.


"Ya Allah...ya Allah....ya Allah." Bibirnya berseru memanggil Sang Pencipta, sementara tangannya memegang kuat surat kecil itu.


Ternyata begini rasanya mendapatkan sesuatu dari orang yang disukai. Dulu Gisel bertanya-tanya apa yang dirasakan Aish ketika mendapatkan sesuatu dari Habib Khalid?


Reaksinya hampir sama dengan dirinya. Mereka berdua gemetaran dengan perasaan gugup membuncah di dalam hati. Ternyata bukan cuma perasaan gugup saja, tapi juga ada perasaan manis. Sungguh sangat manis. Manis sampai-sampai dia tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Baru saja kemarin dia galau, terjebak dalam kesedihan yang tak berujung. Selama beberapa hari itu dia berpikir, menebak-nebak apa hubungan Danis dengan wanita itu. Dan berulang kali mengingatnya maka sakit hatinya terasa semakin jelas. Dia sangat tersiksa.


Tapi hari ini tiba-tiba dia mendapatkan kejutan. Danis tidak hanya berbicara dan mengobrol dengannya, tapi Danis juga memberikan sesuatu. Coklat persegi kualitas premium. Coklat ini mungkin dibeli ketika Danis tidak ada di pondok pesantren. Karena dia tahu coklat ini hanya di jual di mall saja, dan tidak ada di tempat lain.

__ADS_1


"Ya Allah, aku sangat senang. Bagaimana ini ya Allah, hatiku berdebar kencang dan kedua tanganku gemetaran. Aku merasa melayang saat ini dan aku juga sangat senang. Kak Danis memberiku sebuah hadiah, ya Allah. Ini coklat... Berarti dia tahu kebutuhanku. Tapi, dari mana dia tahu tentang kebutuhanku ini? Apakah dia pernah mendengarnya dari seseorang ataukah dia mencari tahu sendiri? Ya Allah, apa yang baru saja aku pikirkan! Bagaimana bisa aku berpikir sejauh itu!" Gisel menepuk pipinya yang panas.


Bibirnya melarang untuk berpikir sejauh itu, tapi otaknya mengembara dengan bebas. Berpikir jauh sungguh sangat jauh, sampai-sampai jatuhnya imajinasi.


Iya, masa iya dia berpikir kalau Danis sengaja mencari tahu tentang dirinya karena dia agak...um, tak bisa diteruskan.


"Gisel, Gisel, Gisel? Kamu nggak apa-apa kan?" Panggilan Laras membangunkan dirinya dari lamunan panjang.


Gisel buru-buru menyampingkan kotak coklat itu ke sisi tembok dan menutupnya dengan selimut. Lalu dia menyingkirkan selimut dari wajahnya.


"Aku baik-baik aja, kak Laras. Kenapa, kak?" Pipinya panas dan terlihat memerah.


Warnanya lebih jelas daripada saat di kantin. Apalagi dengan penerangan di dalam kamar yang jauh lebih terang daripada yang ada di kantin, bagaimana mungkin Laras tidak bisa melihatnya?


"Aku kira kamu tadi nangis di dalam selimut. Wajah kamu merah banget, Gisel. Apakah kamu demam ataukah kamu sakit?" Laras menyingkirkan ponselnya berniat turun menghampiri Gisel.


Tapi Gisel buru-buru melambaikan tangannya mencegah Laras datang ke sini.


"Aku nggak apa-apa kok, kak. Serius, aku baik-baik aja. Aku juga nggak demam ataupun sakit, semuanya okay. Wajahku merah karena mungkin terlalu lama di dalam selimut, um... Agak gerah di dalam selimut." Ucap Gisel menjelaskan kepada Laras.


Alasannya tidak aneh. Dan Laras tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Gisel.


"Okay, kalau kamu tidak apa-apa. Bagaimana kalau lampunya dimatikan saja biar kamu nggak kepanasan? Kamu juga boleh membuka jendela. Jendela kita menggunakan teralis pembatas. Jadi nggak apa-apa kalau kamu membukanya semalaman. Tidak akan ada orang yang bisa masuk ke dalam. Lagian juga ini pondok pesantren, orang asing tidak bisa masuk." Laras menginstruksikan jika kamar ini masih terasa panas setelah lampu dimatikan.


Tapi bagi Laras kamar ini baik-baik saja. Tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, intinya nyaman.


"Iya, kak. Kalau kakak mengizinkan maka aku akan membukanya. Kebetulan aku suka tidur dengan jendela terbuka." Sempat iri melihat Aish tidur di samping jendela karena udara sejuk langsung menerpanya.


Akhirnya sekarang gilirannya tiba. Dengan senang hati dia membuka jendela. Lalu mematikan lampu dan kembali rebahan. Sekarang dia tidak perlu menutup dirinya dengan selimut karena Laras tidak bisa melihat apapun.


Crak


Coklatnya lembut dan gurih. Gisel tanpa sadar menutup mulutnya meresapi setiap elemen coklat yang meleleh di dalam mulut.


Um, kualitas premium memang berbeda. Batinnya kagum.


Danis menganjurkannya untuk memakan coklat ini selama 5 hari. Artinya dalam satu hari dia bisa makan 3 potong coklat kecil yang sangat lezat. Gisel enggan melakukannya. Ini adalah coklat kesukaannya dan pemberian dari Danis, dia harus menahan diri agar tidak serakah. Mungkin satu potong per-hari, dia tidak rela lebih dari dan kurang dari ini.


"Harus disimpan hati-hati." Bisik Gisel sembari menutup kotak coklat dan menaruhnya ke dalam lemari. Sisi lemari paling dasar, dia takut kehilangan lagi.


Bukannya dia tidak mau berbagi dengan Laras. Tidak, dia tidak sekejam itu. Hanya saja ini adalah pemberian dan dia juga sangat menghargainya. Jadi, dia terpaksa menyimpan coklat ini dan berjanji kapan-kapan membeli sesuatu, dia akan berbagi dengan Laras.


"Selamat tidur...kak Danis." Bisiknya malu-malu.

__ADS_1


Memegang erat sapu tangan milik Danis, dia jatuh tertidur dalam suasana hati yang sangat baik. Bahkan di dalam tidur pun, wajahnya masih tersenyum seolah-olah dia masuk ke dunia mimpi yang sangat indah.


__ADS_2