
"Kakek, hari ini cuacanya sangat bagus. Mengapa kita tidak ikut mengantarkan Aira pergi ke tempat itu? Nenek tahu bila kakek tidak puas dengan masa lalu. Tapi apa yang bisa kita lakukan, semuanya sudah terjadi dan ini juga kemauan putra kita. Kita tentu tidak bisa memaksanya hidup tak bahagia seumur hidupnya karena yang disukai putra kita bukanlah Arumi. Selain itu tidak ada gunanya marah sekarang, kakek. Aira tidak bersalah di dalam keluarga ini. Dia adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dia adalah korban di rumah ini jadi tidak sepatutnya kakek mengucilkan Aira. Jujur saja, Aira memenuhi semua harapan yang kita inginkan di keluarga ini. Dia terlahir cantik, cerdas, prestasinya sangat baik di sekolah dan disukai banyak guru. Percayalah, bila kedua orang tua itu masih hidup sampai sekarang, mereka pasti bangga memiliki cucu sebaik Aira." Nenek datang ke taman belakang dengan secangkir teh hangat di atas nampan beserta sepiring makanan ringan yang sengaja Bunda buat untuk para orang tua yang tidak menyukai rasa manis menyengat.
Nenek meletakkan nampan di atas meja di samping kursi kakek dan mendudukkan dirinya tepat di samping kakek. Pagi ini sangat cerah, udara sangat bersih dan menyegarkan sehingga kakek betah duduk di sini dengan sebuah buku tebal di atas pangkuannya.
Melihat istrinya datang, kakek menutup buku bacaannya dan menaruh buku tersebut dengan hati-hati di atas meja. Baru setelah menua dia menyadari betapa pentingnya ilmu dan betapa menyenangkannya membaca buku. Semenjak Aish meninggalkan rumah ini, kakek suka menghabiskan waktunya di taman belakang untuk membaca buku atau merawat tanaman.
Ini adalah rutinitas rutinnya selama bulan pertama kepergian Aish.
"Apakah mereka akan bangga? Jangan membohongi diri sendiri. Aku tidak pernah bilang jika Aira bukanlah cucuku, untukmu aku berusaha menjadi kakek yang baik. Namun karakter yang ada di dalam dirinya telah membuatku sangat kecewa. Mengapa dia tidak bisa tumbuh sama seperti Aish? Sungguh malang, Aish ku besar tanpa kasih sayang seorang Ibu dan diabaikan oleh Ayahnya. Hanya dengan usahaku dalam hidup ini aku berusaha untuk mengisi kekosongan hatinya. Sedangkan Aira? Dia tumbuh besar bersama orang tua yang lengkap dan kalian pun membangga-banggakan apapun yang dia lakukan, tapi kenapa dia tumbuh menyimpang disaat semua yang dibutuhkan telah Allah cukupi? Coba lihat Aish baik-baik. Sebagai seorang Ibu, apakah kamu tidak merasa iba dengan kehidupannya yang sengsara? Kalian membanggakan Aira namun disaat yang sama menjatuhkan Aish, apakah ini adil? Ini tidak adil. Aku tidak hanya kecewa kepada Aira, tapi aku juga kecewa kepada dirimu, kepada putraku, dan kepada anak-anak ku yang lain. Apa salah Aish hingga kalian perlakukan sedemikian rupa di dalam rumah ini? Apa hanya karena dia lahir dari wanita yang tidak dicintai oleh putraku? Bila memang begitu maka demi Allah, kalian adalah orang-orang yang berhati kejam! Dan aku, sebagai kepala keluarga di rumah ini, sebagai seorang Ayah yang bertanggung jawab, dan sebagai kakek dari cucu-cucu ku tak akan pernah melupakan apa yang terjadi di rumah ini. Penderitaan yang Aish lalui di rumah ini akan selalu hidup di dalam hatinya, posisi kalian dihatinya mungkin hanyalah sebuah luka untuknya." Kakek berbicara lemah di samping nenek tanpa menoleh. Mata tuanya terangkat tinggi menatap hamparan luasnya langit di atas sana.
Kata-katanya yang bernada lemah membawa rasa sakit, ketidakberdayaan, dan sebuah penyesalan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hanya Allah SWT, Sang Pencipta, yang mengetahui betapa dalam penyesalan di dalam hatinya.
__ADS_1
Nenek sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa dibuatnya. Ada rasa malu di wajahnya. Suaminya sendiri mengakui bahwa dia adalah wanita yang kejam, hatinya tersiram air dingin. Sakit, tapi menolak untuk mengakui kebenaran ini. Entahlah, mungkin karena Aira selalu memuaskan hatinya selama ini karena mereka berdua sangat dekat.
"Bagaimana mungkin kami adalah orang-orang yang kejam? Itu tidak benar! Bila Aish memiliki sedikit saja sikap Aira, maka kami tidak akan menyalahkannya-"
"Lihatlah, kamu sudah tua tapi hatimu masih saja sempit. Jika kamu benar-benar memiliki hati nurani untuknya, maka kamu takkan buta dan mengecap Aira adalah gadis yang sempurna. Hari ini dia memutuskan untuk melepaskan cadarnya saat pergi ke tempat itu, lalu kenapa kamu tidak marah dan menghentikannya? Bukankah kamu dan anak-anak selalu menyindir Aish karena Aira menggunakan cadar? Sekarang dia melepasnya, tapi kenapa aku tidak mendengar teguran lantang yang biasa kamu arahkan kepada Aish?" Potong kakek langsung membuat nenek tercengang.
Nenek meremat tangan tuanya gugup sembari memperhatikan ekspresi tenang di wajah suaminya.
Kakek langsung angkat suara,"Alasan mu benar, tapi mengapa kamu tidak mengatakan alasan ini saat berbicara dengan Aish? Kamu malah semakin memojokkannya di rumah ini seakan-akan dia sangat berdosa jika tidak menggunakan cadar. Selain itu, daripada menuntut Aish untuk mengikuti Aira, mengapa kamu tidak membujuk anak-anak mu untuk menutup aurat? Kalian suka menghakimi kehidupan Aish dan membanding-bandingkannya dengan Aira, tapi lupa dengan diri sendiri yang masih jauh dari kata baik, astagfirullah, betapa malunya aku dihadapan Allah karena keluarga ku adalah orang-orang yang sangat sibuk mengurus urusan orang lain tapi lupa dengan diri sendiri."
Lagi-lagi ucapan kakek tepat sasaran, menusuk langsung ke dalam titik lemah nenek. Setelah kakek mengatakannya secara gamblang, nenek berkali-kali dibuat malu dan sedih karena suami yang dicintai ternyata selalu memandangnya seperti ini. Dia juga tidak berdaya melihat putri-putri serta menantunya yang tidak menutup aurat. Padahal kakek seringkali mengingatkan mereka tapi tidak kunjung di dengar.
__ADS_1
"Aku tahu bahwa-"
"Dia datang untuk membawa garis nasabnya yang pernah menghilang. Aish bukanlah orang yang bisa kalian sentuh atau hakimi lagi sebab orang yang bersamanya jauh lebih baik daripada kalian semua. Aku harap kalian tidak merasa malu nantinya." Potong kakek tidak ingin mendengarkan kata-kata pembelaan nenek lainnya.
Tiba-tiba hatinya merasa lelah menghadapi istrinya sendiri yang selalu merasa benar dan berdiri di pilihan yang benar. Karena kecintaannya yang buta, istrinya tidak bisa melihat lingkungan di sekitarnya.
Kakek menghela nafas panjang, berdiri dari duduknya dan pergi dengan buku tebal di tangan kanannya. Saat kakek pergi, dia bahkan tidak menyapa nenek yang masih duduk terbengong di tempatnya.
Barulah setelah kakek menghilang dari pandangannya, nenek tersadar dan memanggil dengan cemas.
"Kenapa suamiku akhir-akhir ini mengatakan sesuatu yang tidak jelas tentang Aish?" Gumamnya heran sembari mengejar ke arah mana kakek pergi.
__ADS_1