
Tidak,
Kepalaku berdengung panik mengirimkan sebuah alarm peringatan kepada hatiku bahwa kak Khalid.... tampaknya memiliki niat jahat kepadaku!
Jahat... matanya memang agak aneh kali ini-
"Pohon terong di sini memiliki duri-duri kecil tapi tidak akan melukai tangan dengan mudah karena itulah kamu harus berhati-hati." Topik tiba-tiba kembali ke awal pembicaraan.
Sebelum aku mengatakan sesuatu untuk membalasnya, kak Khalid tiba-tiba melepaskan sarung tangan kerjanya. Dia melepaskan sarung tangan bagian tangan kanan dan memberikannya kepadaku.
"Gunakan ini agar tangan mu tidak terluka." Kak Khalid meletakkan sarung tangannya di atas pohon terong.
Aku meremat tanganku gugup. Menunduk untuk bersembunyi dari matanya, aku menggigit bibirku sebelum berbicara dengan ragu-ragu.
"Terima kasih..."
Setelah itu dia berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah katapun kepadaku. Ekspresi wajahnya sangat tenang namun sinar matanya yang dalam seolah menyiratkan sesuatu. Aku tidak mengerti dan aku juga tidak bisa menebaknya. Tapi yang pasti untuk saat ini yang bisa aku simpulkan dari sikapnya adalah bahwa mungkin saja kak Khalid sedang marah kepadaku.
"Kak Khalid marah?" Bisik ku sambil mengambil sarung tangan itu, memegangnya dengan hati-hati.
Kak Khalid memberikan ku sarung tangan kanannya sedangkan kak Khalid sendiri masih menggunakan sarung tangan kirinya. Dilihat dari segi manapun, orang-orang akan salah paham dengan kami. Mereka mungkin sangat cemburu sekarang karena aku telah mendapatkan sesuatu yang sangat penting dari kak Khalid. Hell, ini tidak sepele selama datangnya dari kak Khalid.
"Em, kami seperti pasangan." Pikirku manis.
Kak Khalid menggunakan sarung tangan kiri dan aku menggunakan sarung tangan kanan. Ah, jika kami adalah sepasang kekasih, maka betapa romantisnya tindakan kak Khalid tadi.
Namun sayang seribu sayang, aku masih berusaha mencari cara untuk mengejarnya, ah!
"Aish, kamu sangat beruntung bisa mendapatkan bantuan habib Thalib." Begitu kak Khalid pergi dari pandangan ku, teman-teman kamarku langsung menghampiriku.
Tidak hanya teman-teman kamarku, namun para gadis yang tidak ku kenal pun diam-diam mendekat untuk menguping pembicaraan kami.
Ah, betapa puasnya melihat mereka cemburu kepadaku.
"Aku sendiri juga terkejut. Aku tidak menyangka habib Thalib datang meminjamkan ku sarung tangannya." Kataku bangga sembari mengangkat tangan kananku yang telah menggunakan sarung tangan kak Khalid.
__ADS_1
Lihat, betapa cemburunya mata-mata itu.
"Masya Allah, senangnya jadi kamu, Aish." Ujar salah satu teman kamar ku dengan pandangan kagum sekaligus cemburu.
Aku sangat mengerti perasaan mereka semua.
"Tapi Aish, kamu sangat tidak sopan tadi. Kita semua tidak boleh memanggilnya seperti itu karena habib Thalib bukan sembarang orang. Habib Thalib adalah orang yang mulia jadi kamu harus menghormatinya." Salah satu teman kamar ku mengingatkan kesalahan ku dengan murah hati.
Oh, aku juga tahu ini dan karena itulah aku berusaha mengubah panggilan ku di depan kalian semua. Tapi lihatlah yang ku dapatkan, bukannya senang, kak Khalid malah menjanjikan ku sebuah hukuman!
Aku menjawab polos,"Aku lupa dan enggak sengaja manggil dia begitu. Tapi kalian dengar sendiri kan kalau aku langsung mengubah panggilanku?"
"Aku tahu, aku hanya mengingatkan kamu agar jangan mengulanginya agar kamu tidak mendapatkan hukuman dari habib Thalib lagi."
Bahkan mereka juga mendengarkan apa yang kak Khalid katakan tadi?
Luar biasa! Tapi sayangnya kalian semua salah paham! Jika aku tidak memanggilnya 'kak Khalid ', maka kak Khalid akan menghantui ku dengan berbagai macam hukumannya, ah!
Hidup ini sangat sulit ngomong-ngomong.
Matanya menatap sarung tanganku dengan keinginan yang tersirat.
"Aku pikir kamu lebih baik istirahat saja di pinggir sawah. Kamu belum terbiasa di sini jadi lebih baik kamu berteduh saja untuk beristirahat. Biarkan aku meminjam sarung tangan habib Thalib agar aku bisa mengambil alih tugasmu. Dengan sarung tangan ini, aku pasti bisa bekerja dengan cepat."
Proposalnya sangat bagus. Dia memintaku berteduh dan beristirahat di pinggir sawah sedangkan dia menggantikan ku bekerja di sini namun dengan syarat sarung tangan kak Khalid dipinjamkan kepadanya.
Aku hanya punya satu pemikiran di dalam hatiku.
Sungguh tidak tahu malu!
"Maaf, aku tidak bisa memberikan sarung tangan ini. Habib Thalib memberikannya kepadaku jadi aku harus menjaga pemberiannya dengan hati-hati. Dan seperti yang kamu bilang tadi, aku benar-benar tidak terbiasa di tempat ini jadi sarung tangan ini seharusnya sangat bermanfaat untuk ku. Terima kasih atas tawaran mu, tapi aku sama sekali tidak membutuhkannya." Tolak ku tegas tak akan menyerahkan harta ini kepadanya.
Bukan hanya aku saja yang tidak senang dengan perkataan Gadis, namun teman-teman yang lain pun ikut tidak senang mendengarnya. Logika saja. Rata-rata mereka semua juga ingin meminjam sarung tanganku tapi mereka cukup tahu diri karena sarung tangan ini kak Khalid berikan hanya untukku. Tapi Gadis sungguh tidak memikirkan masalah ini dan memberikan penawaran yang sangat tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin aku memilih berteduh hanya karena aku tidak terbiasa dengan pekerjaan ini?
__ADS_1
Aku tidak akan melakukannya apalagi kak Khalid telah membantuku agar saat bekerja tanganku tidak terkena duri lagi.
Ck...ck, apakah aku sangat bodoh?
"Syukurlah kalau kamu mau melakukannya sendiri. Ku pikir kamu masih memiliki pertimbangan.." Wajahnya sangat malu.
Aku tersenyum acuh dan tidak ingin memperdulikannya lagi. Setelah bertukar beberapa patah lagi dengan teman-teman yang lain, mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali bekerja. Matahari sudah mulai terik sehingga kami harus bekerja secepat mungkin agar tidak kepanasan.
"Wah...wah, ada yang lagi berbunga-bunga, nih." Dira datang mengolok-olok ku.
Aku memutar bola mataku mengabaikan kedatangannya. Meskipun aku mengabaikannya, Dira masih santai membuat masalah kepadaku.
"Intuisi wanita tuh enggak pernah salah, Aish. Aku udah bilang kan kalau ada apa-apa diantara kalian?"
Aku juga merasakannya tapi untuk saat ini, jangan terlalu buru-buru. Aku harus memikirkan cara yang sopan dan santun saat mengejar kak Khalid secara resmi. Tapi ugh, kak Khalid terlalu lembut dan hangat sehingga membuatku kewalahan saat berhadapan dengannya.
"Kemana saja kalian, kenapa baru nyusul sekarang?" Tanyaku tak puas.
"Kami selalu di sini. Berhubung tadi habib Thalib, kami tidak berani menggangu kalian." Dira menjawab sambil memetik sayur terong di samping.
"Sarung tangannya bagus." Gisel mendorong Dira menjauh dariku.
Dira tidak puas dan menarik jilbab Gisel iseng sebelum berjalan ke samping ku.
"Ini sangat nyaman." Jawabku sambil melihat sarung tangan yang kini sedang ku pakai.
"Aku bisa melihatnya. Dan karena sarung tangan ini, aku melihat beberapa orang menatapmu cemburu."
Aku juga melihatnya karena itulah aku sangat puas hari ini. Meskipun panas di sini tapi itu semua sepadan dengan reaksi orang-orang itu.
"Hati-hati dengan Gadis. Dia sepertinya sangat cemburu kepadamu." Bisik Dira tiba-tiba di telingaku.
Bersambung...
Up?
__ADS_1