Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 13.2


__ADS_3

Aish langsung melunak melihat sikap ramah pihak lain.


"Kak, cokelat-cokelat teman ku jangan diambil. Dia rendah gula dan mudah kelelahan jadi sangat membutuhkan coklat ini. Kalau dia tidak makan coklat ini, tubuhnya akan mudah drop." Kata Aish menjelaskan.


Gisel sudah seperti ini sejak dulu. Kemana pun dia harus pergi, Gisel harus makan coklat ini. Kalau tidak, tubuhnya akan mudah drop dan lemah hingga menyulitkannya melakukan aktivitas apapun.


Staf itu ragu, dia ragu apakah yang dikatakan Aish benar adanya dan ragu apakah harus mengembalikan coklat itu jika memang benar. Soalnya dia belum pernah menemukan kasus sedemikian rupa selama tinggal di pondok pesantren.


"Apa yang dikatakan Aish benar, kak. Gisel rendah gula dan wajib makan coklat untuk mengisi kekurangannya." Kata Dira ikut berbicara.


Gisel yang dilindungi oleh kedua sahabatnya ingin sekali berlari memeluk mereka. Mengapa kedua sahabatnya ini begitu baik? Baik, sangat baik hingga membuatnya ingin menangis.


"Rendah gula bukanlah masalah yang serius dan bisa diatasi dengan makan." Dokter Ira berjalan menghampiri mereka.


Kebetulan ada kegiatan razia di asrama dan dokter Ira diizinkan berpartisipasi sambil melihat-lihat apakah ada santriwati yang membutuhkan perawatannya. Awalnya dokter Ira kurang tertarik dan lebih suka diam di klinik saja, namun saat mengetahui habib Khalid juga ikut berpartisipasi di dalamnya, dokter Ira sangat senang dan tidak sabar pergi ke asrama. Dia sangat ingin pamer di depan habib Khalid untuk menunjukkan betapa baik dan berbakat dirinya. Dia ingin menggunakan waktu ini untuk menarik perhatian sang habib.


"Rendah gula memang bisa diatasi dengan makan, tapi masalahnya di pondok kita tidak makan cukup. Rendah gula butuh asupan makan yang tinggi mulai dari makanan yang bergizi hingga buah-buahan yang mengandung vitamin yang kaya. Sedangkan pondok pesantren tidak menyediakan itu semua di sini. Sebagai dokter di sini, dokter Ira pasti mengerti bagaimana pola makan kami di sini dan tahu betul kalau makanan itu enggak cukup untuk temanku. Karena tidak cukup dan tidak bisa memecahkan masalah temanku, maka tidak ada salahnya menyimpan beberapa batang coklat untuk memenuhi kekurangan itu? Lagipula temanku menyimpan coklat bukan karena rakus tapi karena kebutuhan, dokter Ira harusnya mengerti ini dengan baik." Kata Aish tidak puas dengan ucapan dokter Ira.


Dokter Ira adalah seorang dokter, perkara sesepele ini mana mungkin dia tidak mengetahuinya. Ia saja yang siswa biasa tahu kok, masa dia yang seorang dokter tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Dokter Ira tidak menyangka kawan bicaranya pandai berbicara. Dia sangat malu disanggah di depan banyak orang. Ketidakpuasan hatinya kian memuncak saat mengenali lawan bicaranya, Aisha Rumaisha, gadis yang telah bertengkar dengan sepupunya dan bahkan dirumorkan dekat dengan sang habib. Emosi dokter Ira terpancing.


Dengan tenang dia membalas.


"Aku tahu. Dan setahuku makanan pondok pesantren sangat lengkap. Ada makanan bergizi dan buah kaya vitamin setiap kali makan. Asupan ini sudah cukup untuk tubuh kalian." Katanya kukuh.


Aish berdecak tidak puas. Ia bahkan lupa jika ada habib Khalid di sini.


"Baik, itu cukup untuk tubuh kami yang baik-baik saja tapi tidak untuk temanku. Dokter Ira, kurang gula mungkin bukan penyakit yang serius tapi cukup berdampak untuk penderitanya jika rendah gula. Temanku akan kesulitan beraktivitas jika dia tidak makan coklat." Kata Aish tetap tegas dengan ucapannya.


Hah, memangnya ada apa dengan dokter?


Mereka juga manusia biasa dan bisa khilaf seperti manusia lainnya. Di samping itu Aish sangat tidak puas dengan perkataan dokter Ira yang mengisyaratkan seolah-olah kurang gula adalah sesuatu yang sepele dan tidak membutuhkan perhatian besar.


Dokter Ira menyipit tidak senang karena posisinya sebagai dokter direndahkan di sini. Belum lagi pertunjukannya sedang ditonton oleh habib Khalid, tidakkah dia akan kehilangan wajah jika sampai kalah berdebat?


"Oh, apakah temanmu benar-benar rendah gula atau hanya..." Dokter Ira tidak melanjutkan ucapannya namun semua orang tahu implikasi apa yang ingin dikatakan.


Ekspresi Aish langsung menjadi muram. Wanita ini bukanlah seorang dokter tapi hanyalah dukun yang menyamar sebagai dokter.

__ADS_1


"Bukankah kamu adalah seorang dokter? Hal semudah ini, bagaimana mungkin kamu tidak bisa melihatnya?" Tanya Aish sarkas dengan nada suara yang dibuat-buat.


Dokter Ira mengepalkan tangannya merasa terhina karena kredibilitasnya sebagai dokter benar-benar dipertanyakan di sini.


Tidak ingin menunggu dokter Ira membuat pembelaan, Aish langsung melanjutkan ucapannya.


"Oh, melihat sikap meragukan mu ini terhadap temanku, aku sekarang curiga bila kamu sebenarnya adalah dukun yang menyamar sebagai dokter. Lagian dokter tidak mungkin meragukan seorang pasien, kan?" Tanya Aish retoris.


Dira hampir saja tertawa melihat ekspresi sembelit dokter Ira. Siapapun yang memiliki mata dapat melihat jika dokter Ira sangat kewalahan menghadapi Aish. Sebagai seorang teman, mereka mengerti apa yang Aish rasakan dan tahu bahwa dia sama sekali tidak berbohong. Namun yang aneh adalah mengapa dokter Ira sangat keras kepala dan bersikukuh dengan perkataannya sendiri?


Baik, dia adalah seorang dokter, dan kata-kata dokter lebih dipercayai daripada orang awam yang buta medis. Namun melihatnya sekarang, mereka lebih condong mempercayai Aish. Sebab mereka melihat sendiri jika Gisel suka membawa coklat kemana-mana saat sedang di sekolah ataupun beraktivitas. Gisel tampaknya sangat membutuhkan coklat itu kemana pun dia pergi.


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Bisakah aku disamakan dengan seorang dukun?" Tanya dokter Ira menahan emosi.


Jika bukan karena ada habib Khalid dan banyak orang di sini, maka dia mungkin sudah memarahi Aish yang buta medis dan tidak tahu apa-apa.


"Aku tidak berbicara omong kosong. Sedari tadi kamu terus membantah apa yang aku katakan seolah-olah kamu sangat benar bahkan meragukan kesehatan temanku. Jika kamu seorang dokter saja tidak bisa menilainya di sini, maka baik, aku tidak masalah pergi ke rumah sakit langsung untuk mengeceknya. Kita lihat dan dengar baik-baik apa yang dikatakan oleh dokter di sana." Tantang Aish tidak takut.


Untuk membungkam mulut dokter Ira, ia sama sekali tidak keberatan untuk pergi ke rumah sakit. Karena ia yakin seyakin-yakinnya bila dokter di sana pun akan memberikan penjelasan yang logis dan sama dengan dirinya.

__ADS_1


Jujur, ia memang tidak meragukan identitas dokter Ira di sini. Mudah saja, pondok pesantren tidak akan memperkerjakan nya jika dia bukan seorang dokter. Nah, Aish tahu ini dengan baik.


Ia tahu dan masih berpura-pura meragukannya itu karena Aish merasakan perasaan dimusuhi oleh dokter Ira. Orang ini memiliki rasa permusuhan yang sangat kuat kepadanya. Seakan Aish berhutang 1 milyar kepadanya yang tidak kunjung dibayar.


__ADS_2