Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 10.9


__ADS_3

"Dek, besok adikmu pulang ke Indonesia. Apa kamu sudah tahu kabar ini?" Umi masuk ke ruang tamu dengan sepiring buah yang telah dipotong dan dicuci bersih, meletakkannya di atas meja tepat di depan gadis cantik yang sedang asik membaca novel.


Gadis itu terkejut. Novel yang tadinya sangat menarik perhatiannya kini kehilangan daya tariknya saat mendengar pertanyaan Umi.


Adiknya akan pulang?


Aneh, kenapa begitu cepat?


Bukankah adiknya pulang setengah tahun lagi dari luar negeri?


"Aku enggak tahu, Umi. Tapi ini serius, Umi?" Tanyanya tak percaya.


Umi tersenyum lebar sambil mengangguk. Wajah berseri Umi membuktikan bahwa kabar ini memang benar adanya dan merupakan kabar gembira. Sebab putri keduanya itu telah lama tinggal di luar negeri untuk menuntut ilmu. Harusnya menurut rencana awal putri keduanya akan kembali ke Indonesia setengah tahun lagi mengikuti jadwal kelulusannya. Akan tetapi putri keduanya tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia tanpa niat menunggu hari kelulusan nya.


Umi senang mendengarnya dan diam-diam memikirkan berbagai makanan lezat yang akan ia buat untuk putri keduanya.


"Siapa yang memberi tahu, Umi? Apa Nadira menelpon sendiri ke Umi?" Tanya Nasifa skeptis.


"Adikmu memang tidak menelpon Umi, tapi dia langsung menelpon Abah, mu."

__ADS_1


Nasifa terdiam. Ia merasa bila kepulangan adiknya sepertinya terlalu buru-buru seolah ada sesuatu yang dikejar adiknya.


Menghela nafas panjang. Ia harap ini hanya kekhawatiran tak berdasar nya saja dan ia juga harap jika hari-hari damai di pondok pesantren tidak akan cepat berlalu.


"Nadira akan pulang ke sini, aku ikut senang mendengarnya." Ucap Nasifa tulus.


Ia telah lama tidak bertemu dengan adiknya karena sang adik lebih memilih sekolah di luar negeri daripada di pondok orang tua mereka. Jujur, ia merindukan adiknya, diam-diam merasa tak sabar untuk bertemu dengannya dan ia juga bertanya-tanya, seperti apa rupa adiknya setelah sekian lama tinggal di luar negeri?


...****...


Pagi harinya Aira bangun pagi dan segera keluar dari rumah setelah menyelesaikan sarapannya. Dengan gamis panjang dan cadar putih yang menutupi wajahnya, Aira berjalan ringan di sekitar jalan komplek perumahan dan sesekali berpapasan dengan warga sekitar. Mereka menyapa Aira dengan senyum sumringah di wajah, menggoda Aira dengan kata-kata candaan dan bahkan menjodoh-jodohkan Aira dengan putra-putra mereka yang masih lajang.


Bertahan beberapa menit dalam lelucon mereka, Aira akhirnya bisa melarikan diri setelah sekian lama berjuang.


Ia mempercepat langkah kakinya hingga sampai di depan rumah Nabila, orang yang pernah sok dekat dengan habib Khalid dan membuat para gadis di komplek menahan cemberut karena cemburu.


Berdiri di depan gerbang rumah, Aira ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Assalamualaikum?" Salam Aira sopan.


Namun, tak ada yang membukakannya pintu. Aira menggigit bibirnya, bertanya-tanya di dalam hati apakah suaranya terlalu kecil atau penghuni rumah memang belum bangun?


Mengetuk lagi dan mengulangi salam yang sama,"Assalamualaikum?" Kali ini volume suaranya agak meninggi.


Akhirnya Aira mendengarkan suara langkah kaki dari dalam rumah.


"Waalaikumussalam, siapa?" Kata orang tersebut seraya membuka pintu rumah.


"Ini aku, Tante." Sapa Aira sopan.


Wanita paruh baya itu terkejut melihat kedatangan Aira pagi-pagi begini di rumahnya.


"Oh, Aira. Masuk, Nak."

__ADS_1


__ADS_2