Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 31.6


__ADS_3

Tapi semuanya hanyalah sebuah penyesalan. Dia tidak bisa lagi kembali ke masa-masa itu. Waktu yang dia abaikan.


"Mas... Aku nggak bermaksud begitu, aku... Aku juga mengerti bagaimana situasi keluarga kita sekarang." Bunda malu melihat ekspresi lelah di wajah suaminya.


Bibi memutar bola matanya mencela,"Oh, kamu mengerti? Lalu kenapa kamu masih bertahan di rumah ini? Kalau kamu memang mengerti, maka kamu seharusnya pergi dari rumah ini semenjak Mama Aish meninggal dunia. Itupun kalau kamu masih memiliki wajah." Ucap bibi bias sengaja mencari masalah.


Bunda langsung tercekat oleh kata-kata bibi. Kata-katanya sangat tidak menyenangkan dan langsung membuat suasana menjadi tegang di dalam ruangan ini.


"Berhenti bicara. Jika kamu bicara lagi, maka segera kemasi semua barang-barang kamu dari rumah ini. Aku tidak membutuhkan orang yang banyak bicara seperti kamu." Kata Ayah dingin memperingatkan bibi agar jangan membuat masalah.


Paman sangat ketakutan melihat Ayah, dan buru-buru membujuk istrinya agar berhenti berbicara lagi. Jika istrinya berbicara, dia takut malam ini mereka akan tidur di jalanan.


Tapi bibi keras kepala. Dia tidak mengerti sama sekali. Hatinya sudah terlalu marah karena kakaknya ingin mengusirnya dari rumah ini hanya gara-gara wanita hina yang telah melahirkan seorang anak sia-sia.


"Kakak berani mengusirku dari rumah ini hanya gara-gara dia? Aku ini adik kakak dan dia adalah orang lain. Aku masih berhak jauh lebih berhak daripada dia. Jadi orang yang seharusnya angkat kaki dari rumah ini adalah-"


"DIAM!" Bentak Ayah habis kesabaran.


Dia menatap bibi tajam. Bibi sangat ketakutan hingga tanpa sadar menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Saking takutnya, dia ingin bersembunyi ke belakang suaminya untuk menghindari kemarahan Ayah.


"Aku bilang berhenti bicara, kenapa kamu tidak mau mendengar? Dan apakah kamu bodoh, kamu memang adikku tapi aku lebih mementingkan istriku daripada kamu. Karena apa, karena dia adalah istriku, orang yang akan menua bersamaku. Sedangkan kamu? Kamu hanyalah adik yang sudah lepas tanggung jawab dariku. Aku tidak berkewajiban untuk menampung kamu di rumah ku, apalagi kamu tinggal gratis bersama suami dan anak-anak kamu di sini. Tidakkah kamu malu? Kamu menumpang di rumahku secara gratis dan tidak mau bekerja, mungkin ketidakpedulian ku selama ini kamu anggap sebagai orang bodoh? Dan sekarang beraninya kamu mempertanyakan posisi istriku di rumah ini? Hei, biar ku beritahu. Di jauh lebih berhak tinggal di rumah ini daripada kamu. Besok, kamu, suamimu dan anak-anakmu, aku tidak mau tahu kalian harus segera mengemasi barang-barang kalian dan keluar dari rumahku. Rumah ini bukan tempat penampungan yang bisa kalian datangi sesuka hati!" Kata Ayah emosi.


Dia sudah lelah mengurus perusahaan, menghadapi wajah para investor yang acuh tak acuh, mendengar kata-kata para tetangga yang asyik bergosip membicarakan masalah keluarganya, dan sekarang adiknya selalu mencari gara-gara di rumah. Menyalahkan istri dan anaknya.


Ayah tahu bahwa Aira salah dalam masalah ini, namun bukan berarti adiknya bisa memojokkan anaknya terus-menerus dan menghina martabat istrinya.


Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.


"Kakak? Apa yang kakak katakan! Aku dan suamiku juga anak-anakku, kami adalah keluarga kakak. Bagaimana mungkin kakak mengusir kami dari rumah." Bibi langsung panik dan baru menyadari kesalahannya.


Dia menyesalinya sekarang.


Ayah sungguh tidak mau tahu.


"Kamu memang keluargaku tapi bukan berarti kamu bisa tinggal bebas di rumahku apalagi sampai menyalahkan dan memojokkan anak serta istriku. Dan bukan kewajibanku untuk menafkahi keluarga kamu. Jika aku terus-menerus menampung kamu, maka apa gunanya kamu memiliki suami? Tuntut dia dan pulanglah ke rumah kalian. Aku tidak ingin melihat kalian lagi." Kata-kata ini tidak hanya ditujukan kepada bibi, tapi adik-adiknya yang lain juga.

__ADS_1


Adik-adik yang numpang hidup setelah berbulan-bulan lamanya. Mereka bilang datang ke sini untuk berlibur, tapi tahu tahunya mereka menghabiskan hampir satu tahun tinggal di sini. Kalau kakek dan nenek yang tinggal, itu bukan masalah. Ayah tidak akan pernah mempermasalahkannya, karena sudah sewajarnya seorang anak menafkahi dan menyediakan tempat tinggal untuk orang tuanya. Tapi ceritanya akan berbeda kalau itu adalah adik-adiknya. Apalagi mereka masih sehat dan bugar. Tak seharusnya Ayah menafkahi mereka semua, orang-orang pemalas yang tidak mau bergerak.


"Kakak tolong pikirkan baik-baik. Kita adalah keluarga, lebih baik kita tinggal di satu tempat bersama-sama agar hubungan tetap terjaga." Anggota keluarga yang lain mulai panik karena tidak mau angkat kaki dari rumah ini.


Tapi Ayah sama sekali tidak peduli. Dia sudah cukup bersabar dengan semua masalah yang dihadapi, lalu sekarang adik-adiknya mulai membuat masalah. Dia sudah cukup untuk semua ini.


"Hubungan akan tetap terjaga seberapa jauh jarak diantara kita. Lagi pula tinggal di satu tempat bukannya semakin mempererat hubungan, tapi malah meregangkan hubungan dan menambah masalah. Jadi keputusanku tidak akan pernah berubah. Berlaku untuk semua orang. Silakan segera kembali ke rumah kalian. Aku sudah cukup dengan semua masalah ini dan aku tidak ingin menerima masalah lain lagi." Keputusan Ayah final.


Tanpa memperdulikan tatapan suram di wajah adik-adiknya, Ayah langsung pergi ke kamar orang tuanya. Dia ingin menemani kakek yang masih terbaring lemah di dalam kamar.


*****


Beberapa hari berlalu dengan damai. Bibi dan anggota keluarga yang lain masih bertahan di rumah dengan alasan kesehatan kakek. Ayah untuk sementara menutup mata dengan masalah ini. Terlebih lagi itu adalah permintaan kakek yang ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.


Karena kemarahan Ayah sebelumnya, tidak ada lagi orang yang membuat masalah di rumah. Meskipun mereka tahu senang akhirnya bisa bertahan di rumah ini tapi mereka tetap memiliki kekhawatiran karena Ayah tidak akan memberikan wajah kepada mereka untuk waktu-waktu selanjutnya.


"Aira, sedang apa, Nak?" Kakek berjalan pelan menghampiri Aira yang kini tengah terduduk di kursi taman memandang rumput di bawah kakinya.


"Aku sedang memandangi rumput, Kakek." Jawab Aira lembut.


"Memandangi rumput, boleh kakek duduk di samping." Kakek tersenyum kepadanya.


Aneh pikirnya. Kakek bersikap aneh. Tapi Aira tidak tahu, bagian mana yang aneh.


"Boleh, kakek." Aira menggeser duduknya.


Duduk di samping Aira, kakek menutup matanya sembari menikmati angin sore yang menenangkan. Aira bingung karena baru saja semalam kondisi kakek memburuk, tapi pagi-pagi kakek sudah terlihat segar bugar dan mulai berjalan mengelilingi rumah seperti yang dia lakukan ketika dalam kondisi fit yang baik.


"Nak, kamu adalah gadis yang baik." Tiba-tiba kakek berbicara.


Aira terkejut. Dia menatap kakek, beberapa detik kemudian memalingkan wajahnya kembali menatap rumput di bawah.


"Tapi bagi kakek, kak Aish adalah yang terbaik, bukan? Kakek selalu menyayangi kak Aish dan memberikan apapun yang diinginkan kak Aish. Bagi kakek, Kak Aish adalah cucu yang paling kakek sayangi." Ujar Aira bersedih.


Kakek selalu mementingkan Aish dalam segala hal. Dan itu tidak disembunyikan, melainkan dilakukan secara terang-terangan. Jadi bagaimana mungkin dia tidak cemburu?

__ADS_1


Aira tahu bahwa dia lahir dari wanita yang merusak rumah tangga orang, tapi apakah itu salahnya?


Apakah itu salah orang tuanya?


Mengapa kakek tidak memikirkan bagaimana perasaannya melihat alis dimanjakan, sedangkan dirinya diabaikan.


"Kakek tidak akan menyembunyikannya darimu. Jujur saja, Nak. Kakek tidak menyetujui pernikahan di antara Ayah dan Bunda kamu, tapi apalah daya, kamu sudah terlanjur ada, jadi kakek terpaksa membiarkan kedua orang tuamu bersama. Meskipun kamu lahir dari hubungan yang kakek tidak restui dulu, tapi bagi kakek kamu adalah cucu kakek. Posisi kamu sama dengan Aish, selalu sama. Hanya saja kenapa kakek selalu mementingkan Aish lebih dulu, bukankah jawabannya sudah jelas, Nak? Kamu memiliki Ayah dan Bunda, mereka memanjakan kamu menyayangi kamu, sementara kakakmu tidak. Kamu melihat sendiri bagaimana hidupnya di rumah ini, kakakmu tidak seberuntung kamu dalam hal kasih sayang. Karena dia tidak puas dalam kasih sayang, kakek mengambil inisiatif untuk menggantikan posisi Ayah kamu sekaligus menebus penderitaan yang dialami Mamanya di keluarga kita. Selain tidak puas dari Ayahmu, kakakmu juga diperlakukan buruk di rumah ini oleh bibi dan paman kamu. Setiap kali melakukan kesalahan, dia akan di pojokkan. Bahkan tidak membuat kesalahan pun, kesalahannya masih dicari-cari dan terus di pojokan. Dia selalu salah di rumah ini. Dia tidak hidup bahagia. Lantas, apakah kakek harus diam saja melihat hidupnya menderita di rumah ini di saat kakek sendiri yang meminta Mamanya untuk menikah dengan Ayahmu. Tidak, Nak. Kakek tidak akan membiarkan itu terjadi. Oleh karena itu kakek berusaha melimpahkan kasih sayang kepadanya, berusaha menggantikan posisi Ayah dan Ibu di dalam hatinya yang kosong. Kakek melakukan semua itu karena ada alasannya. Setelah kamu mengetahuinya sekarang, apakah kamu marah?" Kakek bertanya dengan tulus, dia bertanya apa yang dirasakan oleh Aira ketika menceritakan masalah ini.


Mungkinkah Aira masih cuek sebab dia masih membenci Aish. Atau mungkinkah, hati Aira tersentuh?


"Aku... Aku tidak tahu. Hanya saja membayangkan semuanya sekarang, aku merasa sangat kesepian. Kakek, jadi kakek juga menyayangiku?" Tanya Aira berharap.


Kakek tersenyum lembut.


Tangan tuanya bergerak mengelus puncak kepala Aira. Lalu dia berkata,"Kakek selalu menyayangi kamu, Nak. Kamu juga cucu kakek, kamu sama berharganya dengan Aish. Kakek tidak bisa kehilangan kalian berdua."


Mendengar jawaban kakek, Aira langsung merasa lega. Setidaknya dia tidak terlalu kesepian karena masih ada orang yang memperhatikannya di rumah ini selain Bunda.


"Kakek, baru-baru ini aku berpikir bahwa aku merasa sangat bersalah kepada kakakku. Aku ingin meminta maaf kepadanya, tapi aku malu. Aku takut kakakku tidak mau menerima permintaan maafku karena kesalahan yang kulakukan kepadanya, sungguh tak terhitung jumlahnya. Dia pasti sangat kecewa kepadaku, kakek." Kata Aira sembari tersenyum kecut diwajahnya.


Saat dia merenungi semua yang dia lakukan selama ini hingga sampai ke titik terendah dalam hidupnya, dia tiba-tiba menyadari bahwa apa yang di katakan oleh Ayah kemarin sebenarnya benar. Dia sendiri lah yang mengundang masalah ke dalam hidupnya. Dia sendiri yang mengacaukan hidupnya sendiri, bahkan berusaha ingin menghancurkan kehidupan kakaknya, ternyata dia sepicik itu.


Memikirkannya tiba-tiba, dia merasa sangat hina dan sakit pada saat yang sama. Bertanya-tanya di dalam dirinya, sejak kapan dia mulai berpikir buruk tentang kakaknya. Berpikir ingin mengacaukan kehidupan kakaknya dan memonopoli perhatian semua orang kepadanya. Sejak kapan dia sampai ke titik ini?


Aira tidak tahu. Dia tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri.


"Ketahuilah, Nak. Kakakmu keras di luar tapi lembut di dalam. Kakek tidak pernah menemukan orang yang berhati lembut, selembut kakakmu. Sebelum kamu meminta maaf kepadanya, dia sudah memaafkan kamu dan yang lainnya. Dia bilang bahwa kalian adalah keluarganya, terlepas dari semua yang terjadi di masa lalu, kalian tetaplah keluarganya. Dia tidak membenci kamu dan yang lainnya. Malahan saat kakek bertemu lagi dengannya, waktu itu dia bertanya bagaimana keadaan kamu dan apa saja yang kamu lakukan selama beristirahat di rumah. Saat dia tahu kalau kamu tidak diterima di sekolah manapun, dia sedih dan ingin meminta bantuan kepada suaminya untuk menemukan sekolah, membantu kamu bersekolah lagi dan melanjutkan ujian nasional. Tapi aku dan ayah kamu menolak bantuannya. Bukan karena kami tidak ingin kamu sukses, Nak. Tidak, kami menolak bantuannya karena kami ingin kamu mengambil pelajaran dari semua yang telah terjadi. Selain itu, Ayah mu juga sangat malu pada saat itu. Dia tidak memiliki wajah untuk menerima bantuan dari kakakmu karena dia bilang, dia masih bisa berusaha sendiri. Meskipun begitu, kakakmu masih saja mengkhawatirkan kamu. Seringkali ketika kami berbicara lewat telepon, dia akan menanyakan kamu. Coba pikirkan baik-baik, apakah dia membenci kamu? Tidak. Jawabannya pasti tidak. Kenapa, karena kalian adalah saudara. Memangnya apa lagi selain ini. Ngomong-ngomong beberapa hari yang lalu kakek sempat berbicara dengannya lewat telepon. Dia saat ini sedang melakukan ibadah umroh bersama suaminya. Kakakmu mengatakan bahwa kemanapun dia pergi, dia selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan untuk keluarga kita. Dia berharap kamu memiliki kehidupan yang baik dan bertemu dengan orang yang baik pula, orang yang dapat membimbing kamu ke jalan yang lurus, membantu kamu lebih dekat kepada Allah. Dia berharap kamu juga bahagia. Jadi, Nak, setelah mendengar ceritaku apakah kamu masih ragu berbicara lagi dengannya? Dia bukan orang lain untuk kamu, Nak. Dia adalah saudara kamu, keluarga kamu. Kalian bukan orang lain, kalian adalah keluarga." Kakek berbicara dengan lancar, tanpa tersendat-sendat ataupun batuk seperti biasanya.


Secara alami, Aira tidak fokus ke sana karena semua pikirannya telah diambil alih oleh cerita kakek. Ada tidak menyangka kalau Aish sangat perhatian kepadanya. Memikirkannya lagi, dia lebih malu.


"Hubungi dia kapan-kapan, kakakmu pasti senang kamu menghubunginya." Kata kakek membujuk.


Aira tersenyum kecil,"Aku... Aku akan memikirkannya, kakek."


Bersambung...

__ADS_1


Setelah besok, kita pindah ke Gisel, yah😘


__ADS_2