
"Sudah dibilang berapa kali kalau sama aku jangan memikirkan hal yang lain-lain. Cukup fokus sama aku." Ucap habib Khalid merasa bersalah.
Setelah meremas pipi Aish, dia langsung melepaskannya begitu mendengar ringisan dan segera mengelus pipi merah itu dengan hati-hati untuk segera menghilangkan rasa perihnya.
Mata aprikot Aish berair, ditambah sentuhan rona merah di kedua pipi gembil menjadikan Aish terlihat lebih mempesona.
Jakun habib Khalid bergerak naik turun saat matanya tidak sengaja menyapu bibir ranum nan merah milik sang kekasih yang kini tengah cemberut. Untuk sejenak, pesona Aish mengingatkannya pada buah persik matang di pohon langsung. Bentuknya cantik, warnanya merah menarik, dan wanginya yang manis bagaikan godaan besar untuk orang yang tidak sengaja bertemu dengan buah persik tersebut. Inilah yang dirasakan oleh habib Khalid ketika melihat wajah merah sang kekasih, ingin sekali dia menggigit, menyentuh, mencicipi, dan merasakan betapa manis pesona Aish. Namun pikiran rasionalnya tidak selemah itu. Dia masih bisa berpikir jernih dan menimbang bahwa kekasihnya harus mendapatkan momen terindah di waktu yang tak terlupakan.
Bukan sekarang. Batinnya mengeratkan belenggu diri.
"Maaf...maaf, aku sebenarnya mikirin...em, intinya aku lagi mikirin kakak." Aish tidak bisa menjelaskan kepada habib Khalid bahwa dia pusing memikirkan tentang ucapan sang habib yang ambigu.
Senyuman habib Khalid melebar,"Sungguh?"
Mengangguk dengan bersungguh-sungguh, Aish meyakinkan.
"Aku tidak mungkin berbohong kepada kakak."
Memiringkan kepalanya,"Apa yang kamu pikirkan?" Tanyanya menggoda.
Wajahnya langsung menghangat, memalingkan kepala melihat ke arah pintu. Dirinya tak memiliki keberanian mengungkapkan apa isi pikirannya kepada sang habib.
"Ini rahasia. Aku tidak bisa memberitahu kakak."
Habib Khalid terkekeh. Dia mencubit pipi Aish singkat untuk memuaskan rasa geli yang tengah menggaruk hati. Setiap kali bertemu dengan Aish, hati selalu memberikan reaksi yang tak tertahankan. Untuk menyediakan dan cukup mampu mengendalikan diri.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." Karena aku sudah menebak apa yang kamu pikirkan barusan. Sayangnya kalimat terakhir cuma bisa dipendam dalam hati. Kalau dia mengatakan ini, Aish mungkin sangat malu.
__ADS_1
"Ayo masuk."
Cklak
Pintu ruangan di buka. Ternyata ruangan ini adalah sebuah kamar. Sekilas, dia mengetahui bahwa kamar ini adalah kamar tamu karena tidak ada jejak orang pernah menetap lama di sini.
Perabotan di dalamnya pun sederhana. Ranjang tidur, lemari kayu, meja rias dan rak buku. Setiap sudutnya bersih dan agak kosong karena tidak ada apa-apa di meja rias, di rak buku juga tidak terlalu ramai. Buku yang ditaruh bisa dihitung dengan jari berbanding terbalik dengan rak-rak buku di ruang pribadi habib Khalid.
"Kak Khalid tidur di sini?" Tanya Aish dengan tatapan menyelidik.
Tangan kirinya menelusuri meja rias kosong di samping tempat tidur. Mungkin saja habib Khalid tidur di sini semalam, yah, mungkin saja. Dia tidak mencurigai habib Khalid berselingkuh. Tidak, dia tidak mempercayainya. Faktanya dia sudah melihat bagaimana sikap habib Khalid kepada wanita lain. Dingin dan acuh tak acuh meskipun bibirnya terseram ramah.
"Tentu saja tidak. Karena ada pertemuan nanti sore, Abah memintaku untuk beristirahat di sini sambil menunggu para tamu datang." Sang habib segera menjawab tegas.
Aish lega,"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Aku tidak meragukan perasaan kakak kepadaku, malah aku sangat mempercayainya. Tapi hatiku masih tidak merasa nyaman kalau kakak semalam menginap di rumah ini. Kak Khalid tahu sendiri kan kalau Nadira juga menyukai kakak. Tidak menutup kemungkinan bila dia akan mencari kesempatan untuk dekat dengan kak Khalid."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Karena ini aku juga tidak mau tinggal di rumah ini walaupun Abah memaksa. Tidak ada yang tahu celah mana yang akan dimasuki oleh setan. Maka dari itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan aku selalu menolak tawaran Abah." Habib Khalid berbicara terus terang bahwa seringkali Abah memintanya tinggal di rumah.
Tidak ada maksud apa-apa. Abah murni meminta habib untuk tinggal karena dia sudah menganggap habib sebagai keluarganya sendiri. Jika dulu anak-anaknya menyukai habib, maka dia tidak mungkin gila meminta habib untuk tinggal di rumah. Tapi setelah kedua putrinya melepaskan habib Khalid, Abah menganggap sang habib sebagai anggota keluarganya.
Sang habib adalah dermawan pondok pesantren. Banyak perubahan yang telah dilakukan sang habib di pondok pesantren dan tidak menggunakan dana pondok, melainkan menggunakan dana pribadi. Abah sangat berterima kasih karena pondok pesantren jadi lebih luas dan terorganisir sejak sang habib mulai melakukan perbaikan di mana-mana. Dan rasa terima kasihnya itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata sehingga memutuskan untuk menjadikan sang habib sebagai keluarga.
"Abah adalah orang yang sangat baik. Dan orang yang sebaik dia dipertemukan dengan orang yang baik pula, yaitu kak Khalid. Siapapun pasti tersentuh dan ingin dekat dengan kak Khalid. Oh ya, kak Khalid ingin menunjukkan ku tadi apa?"
Habib Khalid tersenyum cerah. Dia melepaskan genggaman tangan mereka dan memegang pundak Aish, lalu menekannya untuk duduk di atas ranjang. Setelah itu dia berbalik mengambil sesuatu dari kantong jas abu-abu yang digantung di sisi meja rias. Beberapa detik kemudian, dia kembali berjalan menghampiri Aish, berdiri tepat di hadapan sang kekasih, perlahan dia merendahkan tubuhnya hingga berlutut di atas lantai di bawah tatapan gugup sang kekasih.
Tangan kanan sang habib terulur ke depan, tepat di hadapan Aish.
__ADS_1
1 detik,
2 detik,
3 detik,
Hingga detik ke-10, habib Khalid belum juga membuka kepalan tangannya. Aish sudah mati rasa karena gugup. Dirinya sudah menunggu tapi sang habib tidak kunjung memuaskan rasa ingin tahunya.
Tak sabar,"Kak Khalid- ya Allah..." Kedua matanya seketika membola ketika melihat barang yang tersembunyi di dalam kepalan tangan sang kekasih.
Di atas telapak tangan itu terdapat sebuah cincin putih bersinar yang terbuat dari bahan emas putih murni dan sebutir berlian biru yang terus-menerus memancarkan cahaya indah di bawah paparan cahaya matahari.
Gayanya sederhana. Tidak terlalu mewah ataupun mencolok. Sekilas gaya cincin ini agak ketinggalan zaman tapi tetap sedap dipandang oleh mata.
"Ini..." Hati Aish terenyuh.
Dia menutup mulutnya tidak menyangka karena sang habib satu hari akan memberikannya sebuah cincin. Semua orang tahu bahwa cincin memiliki makna yang sangat sakral dan dalam dalam suatu hubungan. Semahal apapun perhiasan kalung yang diberikan oleh sang habib kepadanya, itu tidak bisa mengalahkan betapa berharganya cincin ini. Memberikan cincin berarti sebuah keseriusan.
Serius.
"5 tahun yang lalu aku... membuat cincin ini. Ketika aku membuatnya, hal pertama yang ku bayangkan adalah cincin ini tersemat di jari manis mu."
"Kak Khalid?"
Bersambung...
Lagi?
__ADS_1
Kalau mau lagi saya bisa nulis setelah sholat taraweh 🤔