Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.9


__ADS_3

Aish langsung menoleh kaget melihat ke belakang. Kelopak mata aprikot nya langsung melebar terkejut menatap orang yang kini sedang berdiri di sini.


Bug


Bug


Bug


Jantungnya berdetak sesak melihat sumber rasa sakitnya di dalam keluarga kini telah berdiri tepat di depannya dengan senyuman lebar di wajah cantiknya. Wajah sekarang tidak tertutupi oleh kain cadar yang selalu digaung-gaungkan semua orang di dalam rumah, tanpa cadar itu suasana khidmat yang selalu mengitari dirinya telah hilang entah kemana.


Sungguh mengejutkan, satu bulan tidak pernah bertemu, adik yang terlahir dari rahim Ibu tirinya kini memiliki penampilan yang sangat berbeda. Tanpa cadar, tanpa pakaian hitam, dan menggunakan sedikit lapisan makeup. Hah, entah harus tertawa atau tidak ketika melihatnya, Aish sama sekali tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya sekarang.


"Kak Aish! Aku kangen banget sama kakak!" Aira bergegas mendekati Aish ingin berbagi pelukan hangat.


Akan tetapi lengan Aish ditarik menjauh oleh Dira sehingga Aira tidak bisa menyentuhnya.


"Ah?" Aira tercengang melihat Aish menjaga jarak.


Mata coklatnya langsung membetuk riak menyedihkan.


"Jauhi Aish." Ucap Gisel dingin.


Gisel baru menyadarinya setelah terusir bahwa orang yang memprovokasinya selingkuh dengan Iyon saat itu adalah Aira. Tanpa bujukan Aira, dia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk mengajak Iyon ke motel.


Aira mengerjap heran sekaligus bingung melihat Dira dan Gisel ada di sini. Dan dia semakin terheran-heran melihat tiga orang yang harusnya saling membenci kini bergerombol di depannya.


Dilihat dari sikap mereka, hubungan mereka bertiga sepertinya tidak sekaku di sekolah dulu. Aneh, pikirnya.


"Gisel...kamu juga di sini? Pantas saja aku tidak pernah melihat kamu masuk sekolah. Aku pikir kamu diskors, ternyata kamu pindah sekolah ke pondok pesantren." Tanyanya polos dengan senyum lembut di bibirnya.


Matanya yang coklat mengintip beberapa kali ke belakang seraya melihat lingkungan di sekelilingnya.


Tempat ini akan menjadi rumahnya mulai dari sekarang.


Gisel tersenyum muram.


"Jika bukan karena kamu, bagaimana bisa aku sampai di sini. Aira, cukup. Jangan membuat masalah lagi untuk semua orang. Sudah cukup kamu menyakiti Aish dan jangan menghancurkan kehidupannya lagi! Bukankah mengambil semua orang di rumah itu sudah lebih dari cukup untukmu?" Ucapnya tanpa memperdulikan ekspresi sok polos di wajah Aira.

__ADS_1


Aira ini, jika tidak mengenalnya dengan baik, semua orang pasti mengira jika dia adalah gadis yang polos dan baik hati. Padahal itu semua palsu. Itu adalah wajah palsunya karena Aira yang sebenarnya adalah seorang gadis yang berhati hitam.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Gisel, aku tidak pernah memberi tahu siapapun mengenai perselingkuhan mu dengan Iyon. Tapi...kak Aish lah yang membocorkannya di sekolah." Ucapnya membantah dengan ekspresi sedih di wajahnya.


Senyuman manis di bibirnya perlahan mengendur seiring dengan kesedihan di wajahnya.


Dira sangat kesal mendengarkannya. Tinjunya terkepal kuat ingin melayangkannya di wajah bermuka dua itu. Tapi Aish dengan cepat memegang lengannya, menahan Dira agar tidak merugikan diri sendiri.


"Oh, salah Aish? Apa kamu pikir aku sangat bodoh, hah? Jika bukan karena kamu yang membujukku melakukan dosa itu, maka semua ini tidak akan terjadi! Aish, Dira, dan aku tidak akan berakhir di pondok pesantren. Aira, serius, di dalam hidup ini belum pernah kutemukan gadis yang lebih jejak dari dirimu. Kamu tahu, sikap palsu mu membuatku sangat jijik." Gisel berbicara dengan suara gemetar menahan rasa sakit dan penyesalan di dalam hatinya.


Sungguh bodoh, masa depannya rusak dan dia diusir oleh paman maupun bibinya tanpa uang bekal sepeserpun. Jika tidak ada Aish dan Dira yang mau membantunya, maka hidupnya akan sangat menyedihkan di pondok pesantren.


Aira sangat cemas setelah mendengar perkataan Gisel. Untungnya orang-orang jauh dari tempat mereka berbicara sehingga tidak ada yang memperhatikan. Tapi ini sungguh mengagetkannya karena Gisel sekarang sudah sangat berubah!


Dia tidak bisa mengendalikannya lagi seperti dulu.


"Gisel...kamu kenapa berbicara seperti itu? Maksud aku waktu itu baik-"


"Benarkah?" Potong Dira mengejek.


Tapi kenapa habib Thalib tidak menoleh ke belakang?! Batinnya kesal.


"Aira, barang-barang kamu sudah bibi bawakan." Bibi datang sambil menyeret dua tas ditangannya.


Senyuman lebar di pipi berlemak nya langsung membeku saat melihat Aish juga ada di sini.


Mengernyit tak senang, dia membawa langkah kakinya lebih cepat dan menghampiri mereka.


"Aish, kamu gangguin Aira lagi, yah?"


Datang-datang ke sini kata yang pertama keluar adalah tuduhan ini, Aish merasakan sengatan sakit di dalam hatinya.


Setelah lama bertemu, apakah keluarganya tidak mempertanyakan bagaimana keadaannya sekarang?


Apakah dia pernah sakit?


Apakah dia nyaman di sini?

__ADS_1


Apakah dia merindukan rumah?


Ataukah keluarganya akan mengatakan bahwa mereka merindukannya, tapi tidak!


Ironis bukan?


"Nek, kalau ngomong dipikir-pikir dulu, yah? Siapa yang menggangunya? Jelas-jelas anak lampir inilah yang mengganggu Aish duluan." Ucap Dira sinis dengan nada tidak sopan.


Jantung bibi langsung berdetak kencang. Beraninya anak ingusan ini berbicara kasar kepadanya?


Tidak dapat diterima!


"Siapa yang kamu panggil nenek! Aku masih belum tua, panggil aku bibi! Dan siapa yang kamu tuduh mengganggu? Keponakan ku bukanlah orang yang tidak berpendidikan seperti-"


"Sama seperti kamu ya nenek lampir? Enggak heran sih, kelakuan neneknya aja gini jadi keponakan tersayangnya pasti lebih dari ini, yah. Aku paham kok." Ejek Dira dengan tawa yang dibuat-buat.


Ucapannya jelas memprovokasi bibi agar meledak-ledak.


Tapi Aira tidak mengizinkannya. Jika bibi membuat masalah seperti di rumah, habib Khalid mungkin akan menyalahkannya.


"Bibi, sudahlah. Aku tidak apa-apa kok."


"Apa maksudmu berkata seperti ini? Seolah-olah kami telah mengganggumu. Hei, kamu jelas-jelas datang dan mengungkit masa lalu tapi bertindak tidak bersalah? Aira, kamu sangat pintar. Aku sekarang mengerti mengapa Ayah sangat membanggakan dirimu." Kali ini Aish ikut berbicara.


Dia berbicara dingin, memandang Aira dengan ekspresi main-main di wajahnya.


Sikapnya yang arogan langsung membuat bibi sakit gigi. Jika bukan karena uang yang ada ditangan Aish, dia pasti sudah berteriak keras memarahinya sekarang!


"Yo, anak yang lahir dari rahim Ibu tiri memang berbeda. Apalagi identitas Ibunya bukan hanya Ibu tiri, tapi juga pelakor. Oh, lebih jelasnya lagi, kenapa kita tidak menyebutnya secara jelas? Merebut suami wanita lain, sungguh pekerjaan yang sangat mulia?" Dira buru-buru menimpali dengan nada buruk yang sama.


"Tutup mulutmu!" Aira sangat marah jika melibatkan masa lalu Bunda.


Itu adalah aib ditelinga orang lain tapi faktanya Ayah dan Bunda saling mencintai, mereka menikah karena cinta bukan karena keterpaksaan yang dilakukan oleh Mama Aish!


Bersambung...


Yo!

__ADS_1


__ADS_2