Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (3)


__ADS_3

Nasha dan Danis satu angkatan. Mereka akan lulus tahun ini. Beberapa bulan lagi. Memikirkan hari itu Gisel mau tak mau menahan pahit di hatinya. Dengar-dengar Danis tidak akan melanjutkan pendidikan di sini jadi mereka tidak akan bisa bertemu lagi. Oh, sekarang pun dia tidak pernah bertemu dengan Danis. Bukannya tidak pernah bertemu tapi Gisel sendiri yang sengaja menghindari. Setiap kali matanya menangkap Danis, dia pasti akan memutar jalan agar tidak bertemu. Dia melakukan ini untuk melupakan Danis. Iya, dia tidak ingin mengharapkan orang lain yang tidak pernah mengharapkannya.


Gisel tersenyum kecut mengingat seseorang yang baru-baru ini dia coba hindari. Dia menggeleng kepalanya menampik pikiran itu dan kembali fokus mengobrol dengan Nasha.


"Enggak usah, dek. Jangan beli apa-apa. Lebih baik kamu tabung saja uang kamu yang lain." Nasha menolak kebaikan Gisel.


Sebab dia tahu situasi Gisel yang sulit. Daripada menyia-nyiakan uang untuk membeli hadiah, alangkah baiknya uang itu disimpan saja. Karena sewaktu-waktu Gisel pasti membutuhkan uang. Selain itu dia juga sudah mendengar tentang situasi khusus Gisel gara-gara masalah coklat dulu. Gisel membutuhkan coklat kemanapun dia pergi. Kalau tidak tubuhnya akan drop dan jatuh sakit. Harga coklat yang dibeli Gisel tidak murah. Butuh banyak biaya.

__ADS_1


"Kak Nasha tidak perlu sungkan. Aku serius, kak." Gisel tidak menyadari pertimbangan Nasha.


Niatnya baik kok.


Namun Nasha tetap menolak dan mengancam apabila Gisel tetap membelinya, dia tidak akan pernah mau berbicara dengan Gisel apalagi sampai menerima hadiah darinya.


Setelah berbicara sebentar, mereka kemudian berpisah. Gisel kembali ke asrama untuk mengambil dokumen pendaftaran. Dia harus menyerahkan dokumen itu kepada staf pondok pesantren yang bertugas menerima magang tahun ini.

__ADS_1


Setelah mengirim dokumen, Gisel diizinkan tinggal di asrama magang yang berdekatan langsung dengan dapur umum. Karena dia sudah lulus otomatis kamar tempat tinggalnya dulu dikosongkan untuk dibersihkan kembali karena akan ditempati oleh para juniornya.


"Gis, kamu enggak balik?" Salah satu teman kamar yang sedang mengemasi barang-barangnya bertanya.


Pasalnya semua orang yang tersisa di kamar ini sedang mengemasi barang-barangnya mereka, bersiap-siap pulang ke tempat masing-masing. Dipastikan mereka akan jarang bertemu atau mungkin tidak akan pernah bertemu kembali.


"Gisel nggak balik ke kampung halamannya Karena dia memutuskan untuk magang di pondok pesantren. Doakan saja yang terbaik untuk dia." Salah satu teman yang mendengar tentang rencana magang Gisel lebih dulu menjawab sebelum Gisel berbicara.

__ADS_1


Yang membuat keputusan untuk magang di pondok pesantren di bukan hanya Gisel. Di kamar mereka ada tiga orang termasuk Gisel, belum lagi di kamar lain. Cukup banyak sedangkan pekerja yang dibutuhkan oleh pondok pesantren tidak sebanyak itu. Maka dari itu tidak heran beberapa orang akan ditolak oleh pondok saat mengajukan aplikasi magang. Inilah yang dikhawatirkan Gisel baru-baru ini. Dia berharap lulus dan bisa bekerja di sini. Kalau dia tidak lulus maka terpaksa dia akan pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan. Intinya dia harus berusaha dan tidak mau menyusahkan kedua sahabatnya. Dia tidak mau mereka tahu betapa tidak berdayanya dia tanpa mereka.


Sejujurnya semua ini terlalu melelahkan.


__ADS_2