
"Bagaimana bisa? Habib Thalib adalah seorang pengajar di pondok pesantren ini, jadi tidak masuk akal jika habib Thalib tidak mengajar di sekolah ini." Aira sama sekali tidak mempercayai nya.
Karena menurutnya semua guru itu sama saja dan sudah sewajarnya seorang guru mengajar di sekolah manapun. Baik itu sekolah wanita ataupun laki-laki, menurutnya itu tidak ada bedanya. Namun setelah mendengar pengaturan di pondok pesantren ini, Aira merasa jika pondok pesantren ini terlalu sok. Padahal kan itu cuma belajar dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan maka normalnya pondok pesantren mengizinkan lawan jenis masuk ke dalam sekolah wanita juga.
Moodnya bertambah buruk setelah mendengar kabar ini.
Teman sebangkunya menatap Aira dengan tatapan aneh, ini adalah hal yang sangat normal di pondok pesantren dan juga bukan masalah besar.
"Aira, ini adalah aturan pondok dan sangat masuk akal. Tidak peduli apakah lawan jenis itu laki-laki yang sudah tua ataupun masih muda, mereka tetap tidak diizinkan masuk ke sekolah kita untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun hal-hal itu terdengar tidak masuk akal dan secara logika tidak ada yang ingin berbuat hal-hal aneh di sekolah akan tetapi selama ada setan di dunia ini maka hal-hal buruk itu bisa saja terjadi. Oleh karena itu untuk mencegahnya pondok pesantren menetapkan aturan ini." Teman sebangku Aira menjelaskan dengan kata-kata yang mudah dipahami dan singkat.
Walaupun ekspresi cemberut Aira membuatnya terganggu, namun dia mencoba untuk memahaminya karena Aira adalah pindahan dari kota.
"Oh...maaf, aku... masih terpengaruhi oleh gaya mengajar di sekolahku dulu. Soalnya di sekolahku semuanya aman-aman saja meskipun kami bercampur dengan laki-laki." Aira yang menyentuh pipinya malu setelah melihat ekspresi teman-teman di sekelilingnya.
__ADS_1
Ternyata pembicaraannya dengan teman sebangku juga didengar oleh teman-teman yang lain. Dan yang lebih menyebalkannya lagi ekspresi mereka semua ketika melihat Aira memiliki garis yang sama. Mereka menatap Aira aneh.
"Tidak apa-apa Aira, aku ngerti kok. Oh ya, ngomong-ngomong satu bulan yang lalu kami juga kedatangan anak pindahan dari kota. Kalau saya tidak salah namanya adalah Aish, Dira dan Gisel. Mereka bertiga orangnya ramah-ramah dan cukup terkenal di pondok kita." Teman sebangku itu memaklumi sikap Aira
Normalnya orang yang baru pindah ke pondok pesantren rata-rata memiliki sikap ini dan itu wajar saja. Bahkan para murid baru tahun pertama yang masuk ke pondok pesantren juga memiliki reaksi yang sangat keras. Ada yang menangis histeris tidak ingin tinggal di pondok pesantren dan memohon kepada orang tuanya untuk diajak pulang, ada yang membuat banyak masalah agar bisa segera dipulangkan karena tidak betah di pondok pesantren, dan ada juga yang tidak menyukai makanan pondok pesantren yang terkesan sederhana. Tapi setelah satu minggu tinggal di pondok pesantren dan mulai beradaptasi, semua keluhan-keluhan itu perlahan mulai berubah. Mereka lambat laun menerima takdir mereka tinggal di pondok pesantren dan bahkan sangat nyaman. Tidak jarang beberapa santri atau santriwati memilih menetap di pondok pesantren ketika hari libur datang. Menurut mereka tinggal di pondok pesantren itu lebih damai dan lebih menyenangkan daripada kembali ke rumah yang notabene berisik karena kedatangan banyak keluarga.
Aira mengernyit samar saat mendengar nama saudaranya disebut-sebut. Sebenarnya dia tidak ingin membawa nama saudaranya itu karena menurutnya orang itu tidak penting sama sekali, tapi karena teman sebangkunya mengungkitnya maka tidak ada salahnya bertanya.
"Oh ya, mereka sangat terkenal?" Tanyanya dengan nada lembut.
Kebaikan Aish sudah menyebar luas di kamar-kamar yang lain. Dan tak jarang makanan yang Aish beli juga dibagikan ke kamar tetangga. Kebaikan ini otomatis mengambil simpati banyak orang di asrama. Mereka menganggap Aish dan dua lainnya sebagai dermawan asrama. Tentu saja mereka ingin berteman, tapi mereka malu dan hanya berani menyapa saja. Berbagi senyuman atau anggukan sebagai sapaan yang sopan.
"Aish dan dua temannya memang baik. Sejujurnya kami juga ingin berteman. Tapi kami malu karena dia berasal dari kota." Gadis yang duduk di bangku sebelah ikut menimpali.
__ADS_1
Ternyata gadis itu juga ikut menyimak pembicara mereka berdua.
"Masya Allah, aku juga mendengar bahwa banyak kok santri-santri yang ingin dekat dengan Aish serta dua temannya. Para santri-santri itu bahkan pernah mengirim surat kepada mereka bertiga tapi karena satu alasan surat itu tidak pernah sampai ke tangan Aish ataupun dua teman lainnya." Gadis lainnya ikut menyahut.
Guru tadi keluar karena ada urusan di kantor jadi teman-teman di kelas diminta untuk membaca kitab. Tidak semua orang langsung membaca kitab, ada yang berdiskusi dan ada juga yang mengerjakan tugas lain. Ini wajar saja sekolah manapun dan tidak mengherankan.
"Ada juga rumor lain. Aku pernah mendengar kalau beberapa santri senior mengincar Aish sebelumnya, ada juga yang kudengar kalau salah satu santri senior itu ingin mengajukan proposal kepada Aish. Tapi karena saat itu rumor kedekatan habib Thalib dan Aish sedang berkobar di mana-mana, alhasil senior itu mengurungkan niatnya mengajukan proposal kepada Aish. Dia bilang takut berhadapan dengan seorang habib." Teman sebangku Aira menambahkan informasi lainnya lagi.
Kepala Aira pening mendengarnya. Saudaranya yang selalu diremehkan di rumah ternyata cukup dihormati di pondok pesantren dan bahkan menjadi incaran banyak laki-laki. Aira kesulitan mempercayainya. Itu sangat mustahil dan tidak mungkin, Bagaimana mungkin seorang gadis rendahan yang tidak mengerti agama dan selalu bersikap kasar serta durhaka kepada keluarganya dikagumi oleh banyak orang di pondok pesantren yang notabene dipenuhi oleh orang-orang yang berilmu tinggi.
Dan yang lebih membuatnya marah lagi, ada rumor yang bertebaran di mana-mana bahwa Aish cukup dekat dengan habib Thalib?!
Apa-apaan! Habib Thalib adalah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang yang sangat mulia di muka bumi ini! Tidakkah itu terdengar mustahil orang yang memiliki garis keturunan mulia bersanding dengan manusia rendahan?
__ADS_1
Ini sungguh sulit dipercaya!