
"Apa yang nenek, bilang Aira. Mulai saat ini kamu harus lebih toleran terhadap diri kamu sendiri. Ini juga untuk kebaikan kamu. Bibi dan semua orang di sini tidak ingin kamu terluka lagi." Bibi langsung menimpali dengan nada sinis di dalamnya.
Bibi selalu mengingat dengan baik bahwa Aish sering memberontak saat berbicara dengannya. Ada keluhan yang dalam untuk Aish. Selain pemberontak, bibi juga masih mengingat saat Aish menolak permintaannya hari itu. Dia meminjam uang untuk membuat nama keluarga semakin baik. Sebab, semakin besar usahanya maka semakin tinggi nama keluarganya yang dibawa. Tapi Aish sama sekali tidak mengerti. Dia sangat egois dan tidak mau mengerti keadaan keluarga. Uang itu sangat besar, belum saatnya Aish memegang uang sebanyak itu. Kalaupun dipegang, yang itu tidak digunakan dengan baik di tangan Aish, jadi daripada sia-sia lebih baik uang itu diserahkan kepadanya agar uang tersebut bermanfaat. Toh, Aish juga mendapatkan manfaat besar dalam masalah ini.
"Nenek, bibi, terima kasih atas perhatian kalian. Yakinlah, aku akan baik-baik saja di sana. Kak Aish tidak akan berani mengganggu ku lagi karena kalian akan selalu bersamaku." Aira berucap lembut merasa hatinya sangat hangat.
Ada kebanggaan di dalam hatinya. Lihatlah, pikirnya. Semua orang di rumah ini menjadikannya permata. Kecuali kakek, tak ada satupun orang yang memandangnya rendah. Mereka memanjakannya, memberikan yang terbaik untuk apapun yang dia ingin dan butuhkan, semua orang menjadikannya sebagai permata yang begitu berharga. Tidak seperti Aish, kakaknya yang sok dan kurang ajar itu selalu mendapatkan mata sinis dari keluarganya.
Ah, untuk apa paras cantik jika rumah untuk bersandar saja tidak punya?
Aira bangga dan dia telah menumbuhkan ambisi untuk merebut hati orang-orang di pondok pesantren, sama seperti yang dia lakukan di rumah ini.
__ADS_1
Aish, kamu tunggu saja. Batin Aira antusias.
"Aneh, kalian berbicara seolah-olah Aish adalah sebuah momok yang patut dijauhi, betapa kecewanya aku."
Suasana hangat mereka langsung menguap entah kemana. Nenek, bunda, bibi, dan Aira kompak menoleh ke pintu masuk yang sengaja Aira biarkan terbuka. Di sana sedang berdiri kakek dan Ayah tanpa senyuman di wajah.
Kakek menatap orang-orang di dalam kamar dengan tatapan marah. Terutama Aira. Mata kakek sangat bias terhadap cucu ini. Di samping kakek berdiri, Ayah juga tidak kalah kesalnya. Biar bagaimanapun Aish, dia tetaplah putrinya yang berharga. Bagiamana mungkin mereka memperlakukan putrinya sebagai momok. Melihat ini, Ayah bertanya-tanya apakah keputusannya mengirim Aira ke sana adalah sebuah kesalahan?
"Kakek, Ayah. Kami tidak bermaksud seperti itu." Aira berbicara dengan lemah.
"Kami tidak bermaksud apa-apa-"
__ADS_1
"Dengar baik-baik." Potong kakek memotong pembelaan nenek.
Nada suara kakek sangat serius saat berbicara, bahkan sorot mata tuanya pun begitu hidup dan tajam tak sebanding dengan usia tuanya yang keriput.
"Jangan bilang aku tidak pernah mengingatkan kalian sebelumnya bahwa orang yang ada di belakang Aish tidak mudah disinggung. Dia bukanlah orang yang bisa keluarga kita singgung. Dan aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian mumpung semua orang ada di rumah ini bahwa saham ku yang ada di PT. A, akan diakuisisi oleh Aish. Sejak bulan kemarin, dana yang masuk akan selalu dikirim langsung ke rekening Aish. Ini adalah kompensasi dariku atas ketidakadilan yang diterima Aish dan Mamanya saat tinggal di rumah ini!"
Kakek menjatuhkan bom ke semua orang.
Semua orang tercengang kaget, bahkan Ayah pun tidak menyangka kakek telah memindahkan nama Aish untuk saham di PT A. Sahamnya memang tidak besar tapi uang yang masuk setiap bulan dari PT A tidak pernah mengecewakan. Uang sebanyak itu cukup besar untuk Aish sendiri.
"Apa?!" Bibi langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf update nya selalu sedikit. Saya baru bisa update normal besok tanggal 11, insyaa Allah. Mohon pengertiannya yah😘