
Keesokan harinya, semua orang berkumpul di dalam kamar setelah menyelesaikan sarapan. Minggu ini tidak ada kegiatan bersih-bersih karena pondok pesantren mengarahkan orang-orang yang dihukum kemarin untuk membersihkan berbagai sudut pondok pesantren untuk menambahkan efek jera. Alhasil, keputusan ini membuat semua orang senang sekaligus puas karena mereka tidak perlu berusaha payah bekerja.
Minggu yang santai, kegiatan semua orang diawali dengan senyum sumringah. Ada yang langsung tidur setelah selesai sarapan untuk menebus tidur-tidur hari sekolah. Ada pula yang memanfaatkan waktu ini untuk mencuci pakaian di sungai dan pergi keluar pondok untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Aish, Dira, dan Gisel adalah salah satu orang yang akan pergi ke pasar- namun mereka ragu apakah akan diizinkan pergi atau tidak jadi untuk pilihan sementara, mereka mungkin akan melihat-lihat dulu di luar pondok. Mungkin saja ada pedagang yang menjual coklat dan kebutuhan yang mereka cari.
"Ayo berangkat!" Mereka bertiga berjalan menuju gerbang samping pondok pesantren.
Satu-satunya akses santri ataupun santriwati agar bisa keluar dari pondok. Di gerbang samping sudah ada petugas kedisiplinan asrama putri dan laki-laki yang berdiri di masing-masing sisi. Tugas mereka adalah mencatat orang-orang yang keluar dan memberikan kartu izin untuk mereka yang izin ke tempat yang lebih jauh.
"Nah, kebetulan banget. Ada habib Thalib, Aish. Ayo kita pergi samperin."
Dari jauh mereka melihat habib Khalid sedang berdiri dengan beberapa orang dari kalangan staf pondok pesantren. Aish langsung bersemangat saat melihatnya. Kakinya gatal ingin melarikan diri menghampiri sang habib. Tapi tangannya ditahan oleh Gisel dengan pandangan bermakna.
"Saat kamu mengejar seseorang, pastikan untuk bertindak agresif tapi juga tetap anggun. Ingat, kamu bertindak agresif bukan berarti kamu harus menurunkan level kamu, apalagi orang yang kamu kejar adalah seorang habib, jadi ada baiknya kamu tetap menjaga perilaku berkelas mu di depan sang habib." Kata Gisel memberikan petuah kepada sahabatnya.
Saran ini kedengarannya sangat masuk akal. Karena terkadang saat seseorang mengejar cintanya, dia terkadang lupa dengan dengan harga dirinya sehingga meninggalkan kesan wanita yang buruk atau rendah di depan objek cinta yang dikejar.
Aish tidak mau itu terjadi sehingga dia memikirkannya dengan baik-baik sembari menimbang langkah yang baik saat bertemu dengan sang habib nantinya. Pastikan saingan cintanya kena mental dengan pesona anggun yang dirinya bawa, huh!
"Saran yang bagus. Aku juga berpikir begitu. Apalagi saingan cintamu adalah Nadira dan sekelas anak pondok. Dengan potensi meragukan mu ini, lebih baik kamu mendengarkan apa yang Gisel sarankan." Kata Dira berbicara serius.
Aish hampir saja memutar bola matanya ketika mendengar beberapa kata mengejek yang diselipkan Dira. Namun akibatnya dia langsung menghela nafas melihat keseriusan di wajah sahabatnya itu. Meskipun terdengar menyebalkan, tapi sejujurnya tidak ada yang salah dengan sarannya.
"Baiklah, aku sudah mempersiapkan diri. Ayo pergi!"
__ADS_1
Aish mengambil langkah pertama ke depan, sedangkan Dira dan Gisel mengikuti di belakang, berperan sebagai dayang di belakang Aish. Ekspresi di wajah mereka sanga bermartabat yang sangat sukar untuk diabaikan.
Berjalan semakin dekat, Aish bisa mendengar pembicaraan sang habib dengan rekan-rekan itu. Mengambil sikap bijak, Aish dengan pengertian menghentikan langkahnya berdiri diam beberapa meter jaraknya dari sang habib. Dia menunggu dengan kesabaran yang langka orang-orang di sekeliling habib agar segera menyingkir dari sini.
Oh, entah sejak kapan dadanya membuat kerusuhan lagi. Darahnya berdesir hangat karena sudah tidak sabar ingin segera menghampiri sang habib. Mulutnya terdiam dan bahkan badannya pun tergerak, dia memiliki perilaku yang sangat baik sepenuhnya. Dira dan Gisel di belakang diam-diam mengirimkan dua jempol untuk sahabatnya ini.
Akan tetapi hanya habib Khalid yang tahu betapa intens tatapan Aish kepadanya. Tatapan itu begitu hidup dan tajam, seolah berbicara langsung kepada sang habib agar segera mengalihkan pandangannya menatap langsung ke arah sumber tatapan itu berasal.
Habib Khalid kemudian mengalihkan pandangannya, membawa mata gelapnya menyapu sekitarnya dan bertemu dengan pemilik tatapan intens itu. Mata aprikot itu berbinar terang, sejernih air murni yang pernah habib Khalid lihat dalam hidup ini.
Bibir sang habib otomatis membentuk garis senyuman yang manis, meluluhkan hati siapapun yang melihatnya- tidak terkecuali Aish, orang yang melihat langsung senyuman ini.
Aish tercengang, sudut mulutnya tanpa sadar mengembangkan senyuman malu-malu seiring dengan perubahan warna merah di pipi gembil nya.
"Ya, urus sisanya. Kalian bisa pergi." Habib Khalid melambaikan tangannya untuk mengirim orang-orang pergi.
"Sangat pagi, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Sapa sang habib kepadanya masih dengan senyuman yang sama.
Aish tersenyum cerah,"Aku sama teman-teman ku mau ke luar pondok, kak. Tapi enggak sengaja ketemu kak Khalid di sini jadi kamu berhenti dulu untuk menyapa."
Mereka memang kebetulan bertemu jadi Aish pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyapa sang habib.
"Oh ya, apa yang ingin kalian beli? Jika itu sulit ditemukan, aku bisa membelinya di luar untuk kalian. Kebetulan hari ini aku akan keluar untuk mengurus sesuatu." Sang habib menawarkan.
Aish langsung gembira mendengarnya. Mana mungkin ia tidak mau? Sungguh, ia sama sekali tidak keberatan habib Khalid membantunya. Malah ia juga berharap jika sang habib mengajaknya pergi bersama. Tapi sayang sekali dari bahasanya saja Aish tahu jika habib Khalid ingin pergi sendirian.
__ADS_1
Tidak apa-apa, jadilah anggun, Aish. Batinnya menenangkan pikirannya sendiri.
"Apa enggak apa-apa, kak?" Aish bertanya ragu-ragu, sebenarnya sih aslinya ia sangat senang.
Hatinya sudah bersorak panik di dalam hatinya tidak mau mengeluarkan kata penolakan.
Habib Khalid terkekeh kecil.
"Tidak apa-apa, bukankah aku yang menawarkan bantuan sendiri?" Tanya habib Khalid lucu.
Aish juga tahu itu. Tapi ia hanya berpura-pura lembut saja agar kesan habib Khalid kepadanya bertambah baik.
"Baiklah kalau kak Khalid tidak keberatan. Temanku kekurangan coklat jadi kak Khalid tolong belikan di luar, yah. Dan ini uangnya." Aish membuka dompetnya untuk mengambil uang tapi langsung dicegah oleh sang habib.
"Jangan dulu, kamu bisa memberiku nanti setelah membelinya. Untuk sekarang, simpan dulu uangmu untuk membeli hal lain." Cegah sang habib menghentikan tindakan Aish mengambil uang.
Aish tidak enak hati.
"Tapi kak.."
Habib Khalid menggelengkan kepalanya menolak.
"Jangan sekarang. Apakah ada yang lain?" Tanya habib Khalid lagi mengalihkan pembicaraan.
Aish dan teman-temannya bisa membeli sisanya di luar pondok jadi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
__ADS_1
Habib Khalid menganggukkan kepalanya mengerti. Terlihat bahwa sang habib sedang terburu-buru seolah dikejar oleh waktu. Mungkin habib Khalid akan segera berangkat jadi Aish tidak akan menahannya lagi. Hanya saja kakinya yang akan mundur tertahan saat melihat Nadira dan Nasifa berjalan menghampiri mereka- oh, tepatnya menghampiri sang habib.
Kepala Aish langsung membunyikan alarm peringatan di dalam kepalanya.