Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 21.9


__ADS_3

"Aku memiliki banyak kesempatan untuk memberi kamu makan. Makan sebanyak yang kamu inginkan hingga menumbuhkan lemak di pipi. Saat itu...aku percaya jika kamu...em, lebih manis lagi..." Bisiknya terkekeh ringan.


Tersenyum lembut, sang habib lalu menyingkirkan sentuhan nakalnya setelah cukup mengusap puncak hidung Aish yang telah dipahat indah oleh Sang Maha Kuasa. Akhir-akhir ini pengendalian dirinya kepada Aish mulai longgar karena perasaannya kian tak terbendung.


Setiap malam dia suka melakukan patroli di pondok pesantren. Bukan berarti dia ingin menjaga keamanan pondok pesantren- tidak, sebenarnya alasan ini tidak cukup untuk membuatnya tergerak. Satu alasan yang selalu bergema di dalam hatinya bahwa dia ingin melihat Aish. Ini mungkin kedengarannya gila karena dia memiliki kebiasaan setiap malam. Dulu dia melakukannya karena rindu ingin melihat wajah saja dan berjanji akan pergi sekolah melihat wajah tertidur nya. Tapi lama-lama ambisinya berubah. Dengan bodohnya dia akan duduk di bawah jendela Aish setelah berpatroli di sekeliling asrama perempuan. Duduk dengan mata terpejam dan telinga terangkat tinggi mendengarkan suara nafas teratur sang pujaan hati, memberikannya sebuah ilusi seakan-akan Aish tengah berbaring di sampingnya. Dia melakukannya tiap di penghujung malam. Duduk dengan sabar di bawah gelapnya malam sambil membawa pikiran berkelana entah kemana. Namun objek yang dipikirkan selalu ada di dekatnya.


Terkadang bila dia tidak bisa menahan rindu dia akan mengacaukan tidur sang kekasih hingga terbangun, lalu dia sembunyi lagi seperti tidak ada yang terjadi.


"Baiklah ayo kita pergi tidur..." Wajahnya melembut melihat tidur damai sang kekasih yang ada di dalam pelukannya.


Entah berapa kali dilihat pun, sang habib merasa sangat nyaman dan damai. Perasaan ini seperti sedang memegang harta yang paling berharga di tangan, tak ada seorangpun yang mampu mengambil harta itu dari tangannya. Dia sangat bangga dengan prestasinya sendiri.

__ADS_1


Habib Khalid malam ini dalam suasana hati yang baik. Suara lembut sesekali akan terdengar menyenangkan sebuah shalawat kepada kekasih Allah subhanahu wa ta'ala, sebagai bentuk betapa bersyukur nya dia malam ini.


Sang habib lalu membawa Aish ke sebuah ruangan. Pintunya tepat berada di belakang kursi kebesaran sang habib. Pintu itu terlihat menyatu dengan tembok sehingga siapapun yang masuk ke dalam ruangan ini tidak menyadari bahwa di dalam ruangan ini terdapat ruangan rahasia.


Begitu dibuka nampak lah sebuah kamar sederhana. Terdiri dari ranjang tidur ukuran sedang, nakas kecil di samping tempat tidur, rak-rak buku yang disusun dengan rapi dan sebuah lemari pakaian. Di sinilah tempat sang habib tidur selama tinggal di pondok pesantren.


Dia tidak hanya memiliki ruang pribadi untuk bekerja tapi juga memiliki kamar pribadi yang tidak diketahui oleh banyak orang. Padahal banyak orang yang bertanya-tanya di mana selama ini dia tidur karena yang orang lihat adalah di hanya bolak-balik masuk ke dalam ruang kerjanya saja.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadanya." Dia berjanji kepada dirinya sendiri sebelum naik ke tempat tidur dan ikut berbaring di samping Aish.


Lalu tangan besarnya melingkari pinggang ramping Aish, kemudian dia menarik Aish ke dalam pelukannya yang hangat.

__ADS_1


Mengecup lembut kening sang kekasih, dia berbisik dengan suara candu nan manis,"Aku sangat bahagia. Selamat tidur wahai kekasihku..."


Bersambung...


Udah janji up jam 19, tapi batal gara-gara enggak ada internet buat nulis huhu...


Beli internetnya besok aja minnaaa🌺🤭


Okay, tadi ada yang minta no wa, silakan enggak apa-apa. 0-8-5-8-5-8-5-0-4-4-0-6


Yang mau chat, bisa. Di NovelToon saya jarang aktif hehe...jadi low respon. UPS, jam segini harusnya udah pada tidur, yah😊 jangan begadang, enggak baik🙃

__ADS_1


__ADS_2