Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 4.5


__ADS_3

Aneh, para santri di sini memang rata-rata cukup tampan. Em, bukan hanya bentuk wajah saja yang tampan tapi mereka memiliki sebuah aura yang jarang dimiliki orang-orang di kota. Melihat mereka membuat hati tenang dan damai, tanpa sadar menyukai pesona aneh ini dan ingin lebih dekat lagi dengan laki-laki ini.


Pesona ini Aish rasakan ketika bertemu ataupun melihat para santri di sini. Mereka memiliki daya tarik yang menarik namun tidak pernah melampaui batas mendekati para wanita dan begitu pula sebaliknya. Para wanita tidak akan melampaui batas untuk mendekati laki-laki.


Hanya saja satu yang dia temukan di sini sedikit mirip dengan sikap dan tingkah laku remaja yang sedang dimabuk asmara. Yaitu tatapan malu-malu para santriwati yang mengintip ke arah santri laki-laki. Senyum mereka agak menggelikan juga menggemaskan, Aish tanpa sadar merasa terinfeksi dan berharap dia juga memiliki masa indah ini.


"Heh, apa yang kamu lihat?" Bisik Gisel iseng saat melihat Aish melamun menatap meja sebelah.


Aish tersenyum. Saat ini mereka sudah ada di stan makanan dan telah duduk di kursi tengah-tengah, tidak jauh dan tidak juga dekat dari stan makanan laki-laki. Sedangkan stan makanan laki-laki berada tepat di samping stan makanan wanita, mereka malah satu stan akan tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat gorden hitam. Namun meskipun dipisahkan sekat-sekat gorden hitam, masih ada celah di antara sekat tersebut sehingga baik santriwati maupun santri bisa saling mengintip dari sana.


"Lucu yah, mereka dari tadi ngintip ke arah stan laki-laki." Tunjuk Aish ke arah sekelompok santriwati yang beberapa kali mengintip celah sekat gorden.


"Oh iya. Tapi kita juga punya kok." Kata Gisel menarik perhatian Aish.

__ADS_1


"Hah?"


"Tuh lihat ke depan. Kita juga punya, kan. Walaupun enggak begitu dekat tapi masih bisalah ngintip para calon pangeran surga." Kini giliran Dira yang berbicara.


Dia menunjuk celah panjang namun sempit gorden di depan mereka. Sejujurnya jarak itu agak jauh dari mereka dan agak tidak puas melihat dari jarak sejauh ini. Namun karena terlambat mengambil kursi maka jadilah mereka duduk di sini dan harus menerima apa adanya.


"Pangeran surga..." Gumam Aish dan Gisel bersamaan.


Mereka tersenyum pahit, menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kusut dan fokus kembali menatap beberapa santri yang sedang bercengkrama di stan seberang. Karena makanan terlambat disajikan maka mereka untuk sementara menganggur dulu sambil menunggu makan malam di distribusikan.


Aish juga penasaran. Dia menundukkan kepalanya melihat ke arah celah kecil itu, mengintip sekumpulan laki-laki sedang berbicara.


"Emang bening sih." Bisik Aish juga sambil menatap serius wajah-wajah meneduhkan itu.

__ADS_1


"Bening, yah?"


"Iya. Bening. Lumayan lah." Jawab Aish menilai.


Kalau dia mau cari cinta baru, dia rasa laki-laki di sini lumayan juga sebagai pelampiasan. Toh, jodoh kan enggak ada yang tahu.


"Jodoh benar-benar enggak ada yang tahu." Bisik Aish tanpa sadar menggumamkan isi pikirannya.


"Oh sudah siap berbicara jodoh yah. Lalu bagaimana dengan hukuman besok pagi, apakah kamu sudah siap?"


Aish memutar bola matanya jengkel diingatkan tentang hukuman.


"Hukuman besok pagi urusan-" Tenggorokannya langsung tercekat saat dia mengangkat kepalanya dan bertemu dengan pemilik mata hangat itu.

__ADS_1


"Ha...habib.."


__ADS_2