
Hujan. Dia menatap hujan di luar sana dengan ekspresi kosong di wajah. Matanya berkedip lambat dan kedua telinganya mendengar setiap rintik-rintik hujan yang mengenai bumi. Bau khas setiap kali hujan datang ke bumi menyambar indra penciuman, membawa otaknya kembali mengenang kenangan-kenangan di masa lalu. Mulai dari masa kecilnya yang indah, waktu-waktu itu dihabiskan dengan tawa dan canda, hati masih belum mengenal kebencian ataupun kemarahan, sementara otak masih jauh dari kata depresi yang menyiksa batin. Lalu di masa remaja ketika dirinya mulai mengetahui tentang kehidupan orang tuanya di masa lalu, hati akhirnya mulai mengenal amarah, kecewa, sedih yang tak mudah hilang dari hati. Ini seperti luka, sekalipun sembuh masih meninggalkan jejak.
Suatu hari seseorang memberi tahunya bahwa dia awalnya terlahir dari seorang wanita yang merusak rumah tangga orang lain. Dia tidak mengerti, tapi setelah dicari tahu akhirnya mengerti. Baik Bunda dan Ayah saling mencintai, mereka memberitahu dan orang-orang tidak tahu, jadi dia berpikir bahwa orang-orang itu luar sana itu bodoh. Mereka tidak tahu apa-apa tapi berbicara seolah tahu segalanya. Dia menganggap bahwa tidak ada yang salah dari kedua orang tuanya. Toh, mereka bersama karena saling cinta dan tidak merugikan orang lain.
Namun seiring bertambahnya usia dia tiba-tiba menyadari kalau kakaknya, Aisha Rumaisha, perlahan mulai menjaga jarak darinya. Memberikan tatapan dingin dan kata-kata kasar sebagai celaan, dia tahu bahwa kakaknya membenci dirinya karena luka masa lalu yang disebabkan oleh kedua orang tuanya. Tapi apa itu salahnya? Dia hanyalah seorang anak yang lahir dari cinta orang tuanya.
Lalu apakah itu salah kedua orang tuanya, mereka bersama karena saling mencintai dan bukan karena keterpaksaan. Sejak saat itulah dia menganggap bahwa kakaknya tidak enak dipandang dan selalu membuat masalah di sana-sini, pembuat onar.
Dirinya mulai egois semenjak dia melihat dan bisa membedakan bahwa kakek ternyata lebih condong menyayangi kakaknya daripada dia. Dia tidak mengerti ini, mengapa kakek lebih menyayangi anak yang suka membuat masalah daripada anak yang selalu patuh di rumah dan berusaha menyenangkan anggota rumah. Rasanya sangat tidak adil.
Bohong jika dirinya tidak cemburu. Cemburu, hati selalu sakit setiap kali melihat interaksi mereka berdua. Namun untunglah, meskipun kakek tidak ada di sisinya tapi nenek selalu ada untuknya dan nenek juga terkesan tidak menyukai kakaknya. Dengan begini hatinya sedikit terhibur.
Waktu demi waktu berlalu, ketidaksukaannya terhadap Aisha semakin tumbuh di dalam hati. Dia tidak suka kakaknya yang cantik, selalu dipuji-puji banyak orang dan disukai banyak anak laki-laki. Dia tidak suka kepada kakaknya yang selalu bersikap dingin kepadanya, seolah-olah dunia berhutang banyak kepadanya. Dia tidak menyukai kakaknya yang selalu mendapatkan perhatian dari kakek, padahal dia selalu membuat masalah dan mempermalukan keluarga, tapi kakek selalu memaafkan dan menenangkan semua anggota rumah. Dan dia sangat tidak menyukai kakaknya karena sering kali merebut perhatian Ayah, membuat Ayah menyayanginya dan mengasihinya. Dia tidak suka.
Banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan cara untuk merebut perhatian Ayah darinya. Pertama-tama dia mendominasi perhatian Ayah, lalu simpati semua orang di rumah dan kemudian perhatian orang-orang di sekelilingnya, hingga berhasil mengecilkan Aish di sekolah.
Pada awalnya semuanya berjalan dengan lancar. Dia memiliki semua yang diinginkan kecuali kakek. Hidup yang dijalani akhirnya sedikit lebih santai tapi tidak bertahan lama karena dia bertemu dengan Habib Khalid, orang yang berhasil memberikan ilusi kalau dia pantas bersanding dengan orang sebaik Habib Khalid.
Di saat dia berhasil mengungguli kakaknya dalam segala hal, tiba-tiba dia menemui kegagalan ketika berhadapan dengan Sang Habib. Bukan cinta yang didapatkan, tapi justru penolakan dan sikap acuh tak acuh darinya. Mencari berbagai macam cara untuk memilikinya, hingga masuk ke dalam jebakannya sendiri, sungguh memalukan. Di hari itu pula dia tahu bahwa orang yang dia sukai ternyata telah menikah dengan kakak, jauh sebelum dia bertemu.
__ADS_1
Penyakit, sungguh sangat menyakitkan. Sekarang dia telah terjatuh ke titik terendah. Entah dari mana rumor di pondok pesantren tiba-tiba menyebar di kota. Teman-teman mantan sekolahnya mengucilkan, orang-orang di komplek perumahan memandang sebelah mata, ke mana pun dirinya mendaftar sekolah dia selalu ditolak, dan yang paling parah dari semuanya adalah keluarga yang selalu memuji, mengangkat namanya, dan perhatian kepadanya kini memberikan bahu dingin. Setelah jatuh ke posisi ini dirinya benar-benar bingung harus pergi ke mana. Dia tidak punya tempat untuk mengadu, tiada seorang pun di rumah ini yang mau mendengarkan keluhan dan tangisannya. Bahkan ketika dirinya secara terang-terangan menangis di depan mereka, tak ada tanggapan yang mereka berikan kepadanya.
Sungguh menyakitkan, begini kah rasanya dibuang oleh keluarga sendiri?
Begini kah rasanya dianggap sampah keluarga sendiri?
Kejamnya.
"Aira, ayo keluar makan, Nak. Semua orang sudah menunggu di bawah." Bunda masuk ke dalam kamar memanggilnya.
Namun Aira diam saja tak menggubris. Kelopak matanya berayun lambat menunjukkan tatapan sayu tak bergairah. Pikirannya telah dibawa pergi mengenang rasa sakit yang datang bergelombang menjangkiti hatinya.
Namun nihil, tak ada tanggapan ataupun respon dari putrinya.
Menghela nafas panjang, perlahan Bunda berjalan mendekati putrinya yang kini tengah berdiri di depan jendela kamar fokus menatap ke luar sana.
"Nak," Bunda memegang pundak tipis putrinya.
Aira menoleh.
__ADS_1
"Apakah kamu baik-baik saja?" Padahal dia sudah tahu jawabannya tapi masih menanyakan ini kepada putrinya.
Aira memgerjap ringan.
"Aku baik-baik saja." Lalu kembali menoleh keluar menatap hujan di luar sana.
Sekali lagi bunda menghela nafas panjang. Wajah sendu putrinya telah memperjelas semuanya bahwa Aira tidak baik-baik saja. Lihatlah tubuh kurus putrinya yang semakin menyusut. Sudah lama sejak kejadian itu dan Aish juga telah menikah dua minggu yang lalu dengan sang Habib, namun putrinya masih belum bisa melepaskan diri. Putrinya mengalami banyak sekali penderitaan entah itu di dalam rumah ataupun di dalam rumah, kehidupan putrinya tidak baik-baik saja.
"Lalu ayo kita turun, Nak? Ayah, nenek dan semua orang sudah menunggu kamu di bawah. Kita akan makan siang bersama." Kata Bunda kepada Aira.
Aira menggelengkan kepalanya tidak memiliki nafsu makan. Dia tidak lapar.
"Kalau kamu nggak mau turun, nanti ayah marah lho sama kamu." Bunda membujuk.
Aira tersenyum kecut,"Tapi Ayah memang selalu marah sama aku, bunda."
"Kalau kamu tidak patuh dan membuatnya marah, maka ayah akan marah sama kamu. Tapi kalau kamu nurut sama dia, Ayah pasti nggak akan marah sama kamu." Bunda terus membujuk.
Aira terdiam. Lalu beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagus."