Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 11.8


__ADS_3

Gisel juga masih mengantuk tapi tidak seberat ngantuk nya Aish.


"Kalau masjid udah hidupin rekaman orang ngaji, maka itu artinya kita akan melaksanakan sholat tahajud. Ayo bangun sebelum kita dilihat sama santriwati yang lain." Desak Gisel seraya menarik kedua sahabatnya untuk bangun dan segera turun mengambil air wudhu.


"Iya...iya, ini juga mau jalan." Kata Dira sambil melepaskan tangannya dari Gisel.


Ia bangun sendiri dan tidak lupa membawa barang-barang nya.


"Taruh aja mukena kita di saf paling depan. Nanti kan kita juga bakal balik ke sini." Saran Aish kepada mereka berdua.


Gisel dan Dira langsung setuju. Untuk pertama kalinya mereka berhasil merebut saf paling depan. Biasanya saf depan selalu dikuasai oleh orang lain dan mereka bertiga selalu menjadi langganan saf belakang.


"Eh," Aish tiba-tiba tersadar.


Dia menegakkan punggungnya dan menoleh ke samping untuk melihat kedua sahabatnya.


"Kenapa?" Tanya Gisel aneh.


Lucu aja melihat muka bantal Aish.


Aish berkedip ringan. Matanya melirik ke arah rak tempatnya duduk terakhir kali dan berpindah menatap rak tempatnya bangun tadi.


"Kok aku tiba-tiba tidur di samping kalian?" Tanya Aish heran.


Gisel dan Dira lebih heran lagi mendengar pertanyaan aneh Aish.


"Bukannya kamu selalu tidur di sana semalam?" Tanya balik Dira.


Terakhir kali ia tidur, ia masih melihat dengan jelas jika Aish masih ada di sampingnya.


"Iya Aish, kamu enggak pernah pindah kemana-mana tadi malam." Kata Gisel yakin.


Ia juga melihat Aish selalu ada di dekatnya. Meskipun yah ia agak mengantuk semalam, tapi ia yakin kok ngeliat dan bahkan ngomong sebentar sama Aish sebelum tidur.


"Oh..." Aish terdiam.


Jika kedua sahabatnya mengatakan ini maka itu artinya mereka tidak tahu jika semalam ia sempat pindah tempat duduk untuk menenangkan diri. Dan di sinilah yang aneh. Aish ingat betul kok kalau semalam ia masih duduk di depan jendela masjid dan ia juga enggak lupa kalau ia langsung tertidur di sana setelah ngobrol banyak hal sama Mamanya.


Aneh,

__ADS_1


Lalu kenapa ia tiba-tiba kembali ke posisi semulanya?


Apakah ia tidur berjalan atau karena terlalu lelap tidur, ia sampai tak sadar guling-guling hingga ke tempat Dira dan Gisel?


Enggak kok, aku enggak pernah banyak tingkah kalau tidur. Batin Aish membantah.


Ia selalu bersikap baik saat tidur. Enggak ngorok apalagi bersuara, enggak banyak gerak apalagi sampai guling-guling ke sana kemari, dan enggak suka aneh-aneh apalagi sampai tidur berjalan. Aish enggak pernah punya kebiasaan itu.


"Kamu kenapa, Aish?" Dira mulai paranoid.


Aish menggelengkan kepalanya ragu,"Aku enggak apa-apa kok."


"Oh... bagus, deh. Jadi semalam aku cuma mimpi yah." Gumam Dira ragu.


Semalam ia bermimpi tapi anehnya kenapa rasanya sangat nyata?


"Mimpi apa?" Tanya Gisel tenang.


Dira menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.


"Aku mimpi semalam ngeliatin Aish digendong ala pengantin sama cowok. Tapi sayang banget aku enggak bisa ngeliat muka cowoknya karena terlalu gelap." Kata Dira menyayangkan.


"Cowok gendong aku?" Tanya Aish ketakutan.


Mungkin saja apa yang diimpikan Dira sebenarnya memang terjadi, kalau tidak, mengapa ia bisa terdampar di sana?


Tapi itu semua enggak terlalu penting! Karena yang terpenting adalah siapa laki-laki yang menggendongnya ke tempat itu?


Jika itu habib Khalid sih semuanya akan baik-baik saja, tapi bagaimana jika itu bukan habib Khalid?


Ah, bencana!


"Iya, tapi itu cuma mimpi, Aish. Sayang banget enggak jadi nyata." Kata Dira tidak terlalu memikirkannya.


Aish mengepalkan kedua tangannya ketakutan.


"Akan lebih baik kalau itu cuma mimpi.." Gumam Aish takut.


"Kamu ngomong apa tadi?" Tanya Gisel tidak mendengarnya terlalu jelas.

__ADS_1


Aish menggelengkan kepalanya cepat-cepat.


"Aku enggak ngomong apa-apa." Bohong Aish.


Aish memejamkan matanya bertekad.


Baik, anggap saja ia tidur berjalan atau tidak sengaja tidur berguling-guling hingga ke tempat Gisel dan Dira.


Alasan ini jauh lebih masuk akal daripada digendong oleh laki-laki yang tidak dikenal.


Ugh, rasanya menakutkan.


"Ayo pergi wudhu." Ajak Aish sambil melarikan diri dari kedua sahabatnya.


Melihat Aish buru-buru pergi, Dira dan Gisel tidak berpikir yang aneh-aneh. Mereka malah berpikir jika Aish terburu-buru karena tidak ingin dilihat oleh santriwati lain dan bukan karena faktor mimpi Dira yang tidak jelas. Mereka berdua lantas ikut berlari menyusul Aish ke bawah. Untungnya di bawah masih sepi dan para santri tidak bisa melihat mereka sebab terhalang gorden pembatas yang ada di depan pintu masjid.


"Hei, kalian dengar, enggak?" Salah satu santri yang baru saja bangun dan sedang duduk mengumpulkan nyawa tiba-tiba merasakan buku kuduknya berdiri.


"Dengar apa?" Tanya temannya yang masih linglung.


Santri itu melihat ke atas lantai dua dengan takut-takut,"Tadi ada suara langkah kaki di lantai dua, kamu dengar enggak?"


Yang lain menggelengkan kepalanya,"Enggak ada, kamu salah dengar kali. Akses tangga ke lantai dua kan ditutup semalam jadi bagaimana mungkin ada orang di atas."


Itulah yang membuat santri ini ketakutan. Jika akses ditutup maka tidak ada seorangpun yang naik ke atas, dan jika tidak ada orang yang bisa naik ke atas, maka otomatis lantai dua sepi. Lalu suara langkah siapa yang ia dengar barusan?


"Masa...masa, sih?" Santri itu yakin tadi mendengarnya dengan jelas.


Teman-temannya mengangguk ringan dan tidak memperhatikan wajah pucat santri itu.


...****...


10 menit kemudian, masjid langsung dipenuhi oleh santri dan santriwati. Ada yang sedang mengantri mengambil air wudhu di dalam kamar mandi masjid, dan ada pula yang berebutan saf di dalam masjid.


Sementara itu, Aish, Gisel dan Dira sudah lama mengamankan posisi mereka. Saat ini mereka tengah duduk di atas sajadah lengkap dengan mukena dan wajah yang jauh lebih segar dari terakhir kali.


Sarung yang Aish dan Gisel bawa disembunyikan di bawah sajadah sedangkan Dira tetap memakai jaketnya di balik mukena.


"Saf depan emang spot yang bagus, sih. Pantas aja banyak yang rebutin." Kata Dira menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Pasalnya dari tempat mereka duduk sekarang, mereka bisa melihat langsung ke lantai satu dari balik pagar pembatas. Lantai satu adalah tempat santri laki-laki sholat sedangkan lantai dua adalah tempat santriwati sholat. Bukan rahasia umum lagi jika para santri sangat menarik bagi santriwati. Karena tidak bisa menyatakan perasaan, para santriwati biasanya melepaskan kekaguman mereka dengan cara mengintip atau memandangi para santri dari jauh. Dan posisi saf paling depan di lantai dua adalah spot terbaik!


__ADS_2