
Dira tersenyum simpul. Dia dengan santainya mengarahkan jari telunjuknya ke Gisel- lebih tepatnya menunjuk celah-celah kecil di belakang Gisel. Dari celah kecil ini mereka bisa melihat banyak wajah-wajah menyegarkan yang memanjakan mata.
"Tuh."
Dira mungkin tidak mudah jatuh cinta dan belum pernah memiliki pengalaman soal percintaan. Tapi meskipun begitu dia memiliki satu hobi, yah, melihat wajah-wajah tampan nan gagah kaum adam yang berseliweran di matanya. Nyatanya di kota semuanya terkesan monoton sebab anak laki-laki di sana memiliki gairah yang sama, berani. Sedangkan di sini?
Oh jangan katakan itu. Melihat wajah tersipu mereka saja hampir membuat Dira tertawa terbahak-bahak. Menyenangkan saja rasanya melihat kepolosan anak laki-laki di pondok pesantren. Dira yakin seyakin-yakinnya bila orang-orang ini belum pernah menyentuh ataupun berpacaran dengan seorang gadis sebelumnya.
"Luar biasa, kan?" Tanyanya cengengesan.
Mulut Aish langsung berkedut. Tak pernah sekalipun terpikirkan di dalam kepalanya untuk melihat celah kecil-kecil itu.
Tapi Aish tetap melirik ke sana dengan iseng dan tak menyangka bertemu mata sama Dimas!
Ah, Dimas adalah senior yang sangat baik! Aish sudah lama tidak bertemu lagi dengannya karena dia tidak pernah lagi ke kantin pondok. Hari-hari ini ia sangat sibuk di asrama memikirkan rumor Nadira. Dan tentunya, em, sibuk memikirkan cara untuk mengejar sang habib!
Jadwalnya sangat padat.
"Aish?" Dimas melambaikan tangannya excited melihat Aish.
Dia sangat senang dapat bertemu dengan Aish di stan makanan dan lebih senang lagi mereka bisa bertegur sapa. Karena jarak dan lokasi yang berjauhan, Dimas sulit menemukan Aish. Dia tidak akan gila masuk ke dalam asrama perempuan untuk menyapa Aish.
"Hallo, kak Dimas. Terima kasih ya untuk kejadian waktu itu." Aish berterima kasih dengan tulus masih mengingat bantuan Dimas hari itu.
Dimas mengangguk ringan. Tertawa bahagia dapat berbicara dengan Aish lagi.
"Sama-sama. Kamu kok tumben duduk di sini?"
__ADS_1
Aish tidak terlalu pilih-pilih duduk dimana pun. Umumnya dia lebih banyak duduk di pinggir agar bisa melihat sang habib. Tapi malam ini posisi itu sudah dilucuti oleh santriwati yang lain.
"Iya, kak. Duduk dimana aja." Katanya menjawab ramah.
Sementara itu Gisel dan Dira hanya menyimak saja di meja sambil mengawasi interaksi mereka berdua. Sekilas mereka tahu kalau Dimas tampaknya tertarik dengan Aish. Bodohnya Aish tidak punya kesadaran diri ini dan terus memperlakukan orang dengan kalem.
Dimas berkata,"Gimana kalau kamu duduk di sini setiap-"
"Masih berbicara?" Suara datar habib Khalid tiba-tiba menginterupsi ucapannya- tidak hanya Dimas yang terdiam namun semua orang yang ada di stan makanan langsung menutup mulut.
Terutama untuk para santriwati yang matanya langsung tertuju pada sosok tampan tanpa cela di depan pintu masuk stan makanan santriwati. Habib Khalid tidak masuk dan tidak juga menggerakkan kakinya ke depan. Dia masih berdiri di tempat, tetap di tempat yang sama, namun matanya yang gelap nan jernih menyapu pandanganya ke seluruh stan. Entah disengaja atau tidak, ketika sampai di tempat Aish duduk, mata gelap itu berkedip ringan tanpa garis senyuman seperti biasanya.
Melihat ini, baik Gisel maupun Dira langsung berkeringat dingin agak gelisah. Aneh saja karena perasaan was-was ini tiba-tiba muncul di dalam hati.
"Ah, kak Khalid." Segera perhatian Aish sepenuhnya tertuju kepada sang habib dan melupakan lawan bicaranya.
Tentu saja apa yang ia pikirkan ini tidak akan pernah dikatakan kepada orang luar, kalau tidak, ia mungkin akan ditertawakan.
"Nadira, ada habib Thalib, tuh. Kamu katanya mau nyapa tadi kalau ketemu sama dia?"
Kening Aish mengernyit tidak senang. Ia melirik sang pembicara dari ekor mata aprikot nya sambil mencari-cari siapa gadis yang bernama Nadira. Seolah mengerti pikiran Aish, Dira tiba-tiba berbisik di sampingnya.
"Yang pakai jilbab hitam, namanya Nadira, saingan cinta kamu."
Lalu mata Aish langsung tertuju pada gadis berjilbab hitam itu. Cantik. Itulah yang Aish rasakan saat melihatnya.
Wajahnya langsung cemberut saat menyadari bila Nadira benar-benar lawan yang sangat berat. Tentu saja, keturunan Rasulullah Saw selalu terlahir cantik dan tampan, Aish juga menyadarinya tapi masih berharap Nadira tidak secantik yang dikabarkan. Namun faktanya, ah... Aish merasa dianiaya.
__ADS_1
"Jangan sekarang. Habib Thalib bilang kita harus diam jadi diam saja. Pasti ada banyak waktu untuk menyapanya." Suaranya bahkan sangat lembut ketika sampai di dalam pendengaran semua orang.
Aish sedih. Wajahnya yang cemberut berbalik menatap sang habib. Ia sama sekali tidak berharap bila ekspresi cemberutnya di tangkap oleh sang habib. Malu, mata aprikot nya berkedip dua kali enggan mengalihkan pandangannya. Wajahnya yang cemberut perlahan dihiasi warna merah muda nan lembut yang sangat menawan. Aish tersenyum lembut, wajahnya yang enggan berpaling tetap menatap sang habib seolah mengatakan 'lihat aku di sini!'.
Ia sangat menggemaskan.
Melihat wajah merah Aish yang kini tengah menatapnya, perlahan wajah datar sang habib melunak. Dia tersenyum tidak berdaya melihat betapa lucunya Aish saat sedang malu. Oh, lihatlah ekspresi cemberut tadi. Habib Khalid tiba-tiba terkekeh ringan saat memikirkannya. Ekspresi cemberut Aish tadi seolah mengatakan bila ia sedang dianiaya. Aneh saja pikirnya. Tidak ada yang berani mencari masalah kepada Aish di pondok mengingat betapa beraninya Aish. Ia terkenal dengan gaya bicaranya yang jutek dan meledak-ledak. Jadi umumnya orang jarang ingin membuat masalah dengannya.
"Cie habib, dari tadi Nadira melihat ke arah habib terus, lho." Seorang ustad tiba-tiba menggoda sang habib.
Sejak habib Khalid muncul di sini, para pengawas mulai memperhatikan ritme para santriwati dan yang paling mencolok adalah Nadira yang baru-baru ini menjadi buah bibir banyak orang.
Nadira tidak pernah memalingkan wajah cantiknya dari sang habib sambil berharap-harap cemas diperhatikan balik.
Semua pengawas melihatnya dan kebetulan habib Khalid juga menatap ke arah Nadira duduk jadi mereka berspekulasi jika sang habib juga sedang memperhatikan Nadira.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Hati-hati dengan ucapan mu." Peringat habib Khalid dingin.
Wajah lembutnya seketika berubah menjadi datar.
Ustad itu sangat terkejut. Dia kaget dengan peringatan tiba-tiba sang habib dan merasa malu. Dia pikir habib Khalid sedang melihat Nadira, tapi melihat reaksi ini dia langsung meragukannya. Jika bukan melihat Nadira, lalu siapa yang habib lihat mengingat betapa lamanya sang habib menatap ke sana.
"Maaf, habib. Aku tidak bermaksud apa-apa." Katanya malu dan meminta maaf.
Habib Khalid menundukkan kepalanya tidak melihat ke arahnya.
"Kenapa sibuk sekali memikirkan rumor, apa pekerjaan pondok baru-baru ini agak longgar?" Bingung habib bergumam namun masih bisa didengar oleh ustad itu.
__ADS_1